198Please respect copyright.PENANAjqcCnMbL3CBab 4
Bab 4: Kehidupan Bersama para Raksasa
Sejak malam makan malam yang berakhir dengan Putri Salju menawarkan dirinya dan kemudian diperkosa secara kasar oleh tujuh raksasa, suasana di rumah besar itu berubah total.
Hubungan mereka tidak lagi sekadar tuan rumah dan tamu. Kini menjadi sesuatu yang jauh lebih intim, liar, dan terbuka.
Putri Salju yang awalnya hanya mencari perlindungan, kini sudah sepenuhnya menerima perannya di rumah ini. Ia tidak lagi merasa malu atau ragu. Setiap kali ia melihat salah satu raksasa, apalagi ketika mereka sedang bekerja tanpa baju, gairahnya langsung bangkit. Tubuhnya yang kecil dan rapuh seolah selalu merindukan sentuhan kasar dari tangan-tangan besar itu.
Setiap hari di rumah raksasa itu dipenuhi dengan suara erangan, desahan, dan kepuasan.
Pagi hari biasanya dimulai dengan Putri Salju membantu menyiapkan sarapan di dapur yang sangat besar. Karena ukuran peralatannya yang raksasa, ia sering harus berdiri di atas bangku kayu. Suatu pagi, saat ia sedang membungkuk untuk mengambil kayu bakar dari bawah meja, Thorne yang sedang lewat langsung berhenti.
Tanpa banyak bicara, raksasa itu mengangkat rok pendek yang dikenakan Putri Salju (pakaian yang mereka buatkan khusus untuknya, meski masih longgar), lalu menjilat memeknya dari belakang dengan lidah lebar dan kasar. Putri Salju langsung mengerang dan harus berpegangan kuat pada kaki meja agar tidak jatuh.
Thorne tidak berhenti sampai Putri Salju orgasme di lidahnya. Setelah itu, ia dengan mudah mengangkat tubuh gadis kecil itu, meletakkannya di atas meja dapur, dan mengentotnya dengan cepat sebelum sarapan dimulai. Air mani Thorne yang kental langsung mengalir keluar dari memek Putri Salju saat ia turun dari meja dengan kaki gemetar.
Kejadian seperti ini terjadi hampir setiap hari, di hampir setiap sudut rumah.
Di ruang utama, di depan perapian besar, Putri Salju sering kali harus melayani dua atau tiga raksasa sekaligus. Kadang ia berlutut di lantai sementara satu raksasa mengentot mulutnya dan yang lain mengentot memeknya dari belakang. Kadang ia ditindih di atas meja besar oleh satu raksasa sementara raksasa lain memaksa kontolnya ke mulutnya.
Karena perbedaan ukuran yang sangat mencolok, setiap sentuhan terasa ekstrem.
Jari-jari besar para raksasa bisa dengan mudah menutupi seluruh payudara Putri Salju. Lidah mereka yang lebar dan kasar bisa menjilat seluruh memeknya sekaligus. Dan kontol mereka… setiap kali masuk, Putri Salju merasa tubuhnya seperti akan robek. Namun justru karena itulah ia semakin ketagihan.
Suara erangan Putri Salju yang kecil sering bercampur dengan desahan para raksasa yang dalam dan berat. Rumah besar itu hampir setiap malam dipenuhi suara “plak-plak-plak” dari kulit bertemu kulit, erangan Putri Salju yang tertahan, dan suara air mani yang keluar dari tubuhnya.
Putri Salju sudah tidak lagi menunggu untuk diminta.
Ia kini aktif menawarkan dirinya.
Suatu sore, saat keenam raksasa sedang berkumpul di ruang utama setelah bekerja, Putri Salju tiba-tiba muncul hanya mengenakan kain tipis pendek yang nyaris tidak menutupi apa-apa. Tanpa bicara panjang, ia naik ke pangkuan Borak yang sedang duduk, lalu menggoyang pinggulnya di atas benjolan besar di balik celana raksasa itu.
“Aku ingin sekarang…” bisiknya pelan ke telinga Borak.
Borak langsung tersenyum. Ia membuka celananya, mengeluarkan kontolnya yang sudah tegang dan sangat besar, lalu langsung menurunkan Putri Salju ke atasnya. Putri Salju menjerit pelan saat kontol tebal itu meregangkan memeknya. Tapi ia tetap menggoyang pinggulnya sendiri, berusaha memasukkan sebanyak mungkin.
Melihat pemandangan itu, raksasa-raksasa lain yang tadinya hanya menonton langsung ikut mendekat.
Dalam hitungan menit, Putri Salju sudah dikelilingi tujuh pria raksasa.
Ia melayani mereka secara bergantian. Kadang ia harus menggunakan mulutnya untuk dua kontol sekaligus. Kadang ia ditidurkan di lantai sementara satu raksasa mengentot memeknya dan yang lain memaksa kontolnya ke lubang belakangnya. Karena ukuran mereka yang sangat besar, hampir setiap kali dua kontol mencoba masuk ke dalam satu lubang, Putri Salju menangis dan mengerang karena rasa peregangan yang ekstrem.
Namun ia tidak pernah menolak.
Malah sebaliknya, ia sering memohon agar mereka lebih kasar.
“Lebih dalam… pakai aku sepuasnya…” katanya dengan suara parau saat seorang raksasa sedang mengentotnya dengan sangat keras.
Para raksasa pun tidak menahan diri. Mereka menggunakan tubuh Putri Salju sesuka hati. Mereka mengangkatnya dengan mudah, membalik posisinya, dan mengentotnya di berbagai tempat — di atas meja, di depan perapian, bahkan di kamar mandi besar saat Putri Salju sedang mandi.
Setiap kali mereka selesai, tubuh Putri Salju selalu penuh dengan air mani. Memeknya dan lubang belakangnya selalu merah, bengkak, dan mengeluarkan cairan putih kental. Tapi keesokan harinya, ia selalu siap lagi.
Kehidupan di rumah tujuh raksasa kini seperti itu.
Putri Salju bukan lagi sekadar gadis yang ditolong. Ia sudah menjadi milik mereka — mainan seks kecil yang selalu siap dilayani kapan saja dan di mana saja. Ia mengeksplorasi tubuhnya bersama mereka tanpa batas. Kadang hanya dengan satu raksasa, kadang dengan tiga atau empat sekaligus.
Setiap malam, sebelum tidur, ia biasanya harus melayani setidaknya dua atau tiga raksasa. Dan setiap pagi, ia sering terbangun karena ada kontol besar yang sudah dimasukkan ke mulut atau memeknya.
Putri Salju sudah tidak lagi memikirkan istana, Ratu, atau kehidupan lamanya.
Sekarang, dunianya hanya sebatas rumah besar ini dan tujuh pria raksasa yang tubuhnya sangat besar, sangat kuat, dan sangat mampu membuatnya mencapai kenikmatan yang luar biasa — kenikmatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Dan ia semakin menyukainya.198Please respect copyright.PENANAixGFt2NlgK


will be deducted