189Please respect copyright.PENANA1syiCzZCsNBab 3
Bab 3: Rumah Tujuh Raksasa
Tiga hari telah berlalu sejak Putri Salju ditinggalkan telanjang di tengah hutan oleh para pemburu.
Tiga hari penuh penderitaan.
Ia berjalan tanpa arah, hanya mengikuti insting untuk terus bergerak. Tubuhnya yang berusia delapan belas tahun sudah hancur. Memeknya bengkak dan nyeri setiap kali ia melangkah. Paha dalamnya penuh dengan sisa air mani dari berbagai makhluk yang telah memperkosanya — goblin, serigala, dan orc. Tubuhnya penuh bekas cakaran, gigitan, dan memar. Rambut hitam legamnya kusut dan kotor. Kulit putihnya yang dulu bersih kini penuh tanah, daun kering, dan noda-noda yang membuatnya merasa jijik terhadap dirinya sendiri.
Setiap malam, ia harus bersembunyi di balik pohon atau di dalam lubang tanah agar tidak ditemukan lagi oleh makhluk-makhluk hutan yang seolah tergila-gila pada tubuhnya. Kecantikannya yang luar biasa seolah menjadi kutukan di hutan ini. Di mana pun ia pergi, ada makhluk jantan yang mencium baunya dan langsung menjadi birahi.
Ia sudah kehilangan hitungan berapa kali tubuhnya digunakan. Kadang hanya satu makhluk, kadang berkelompok. Ia sudah tidak lagi menjerit. Ia hanya bisa menangis pelan sambil membiarkan tubuhnya digunakan, lalu bangun dan terus berjalan ketika mereka selesai.
Sekarang, di hari ketiga, Putri Salju sudah hampir tidak bisa berjalan lagi.
Kakinya gemetar hebat. Perutnya keroncongan karena kelaparan. Tubuhnya kedinginan karena ia masih telanjang — gaunnya sudah hancur sejak hari pertama. Ia hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri sambil terus melangkah pelan di antara pepohonan tinggi.
Matahari sudah hampir terbenam ketika ia melihat sesuatu di kejauhan.
Sebuah rumah.
Bukan rumah biasa.
Rumah itu sangat besar. Dindingnya terbuat dari kayu pohon raksasa yang ditebang, atapnya tinggi menjulang seperti menara, dan pintunya setidaknya tiga kali lebih tinggi dari manusia biasa. Asap tipis mengepul dari cerobong asap besar di atap, menandakan ada orang di dalam.
Putri Salju berdiri diam di balik pohon besar, ragu-ragu. Ia takut. Setiap rumah atau tempat yang ia temui selama tiga hari terakhir selalu berakhir dengan penderitaan. Tapi tubuhnya sudah sangat lelah. Ia tidak tahu apakah ia masih bisa bertahan satu malam lagi di hutan terbuka.
Dengan hati-hati, ia mendekati rumah itu.
Semakin dekat, semakin ia menyadari betapa besarnya bangunan ini. Tangga depan rumah itu saja setinggi pinggangnya. Pintu kayu yang besar itu dihiasi ukiran sederhana, dan ada beberapa sepatu bot raksasa yang tertata rapi di depan pintu. Sepatu itu jauh lebih besar dari tubuh Putri Salju.
Ia mengangkat tangan kecilnya dan mengetuk pintu dengan pelan.
Tak lama kemudian, pintu besar itu terbuka.
Seorang pria raksasa berdiri di ambang pintu.
Tingginya hampir tiga setengah meter. Tubuhnya kekar luar biasa, bahunya lebar, lengan dan dadanya penuh otot yang menonjol. Ia hanya mengenakan celana kain kasar yang longgar dan tidak memakai baju, memperlihatkan dada berbulu dan perut six-pack yang keras. Wajahnya tampan dalam ukuran raksasa — rahang tegas, mata hitam yang tajam, dan rambut hitam pendek yang agak acak-acakan.
Pria raksasa itu menunduk dan menatap Putri Salju yang berdiri di bawahnya seperti anak kecil.
Ia mengerutkan kening.
“Apa ini…?” gumamnya dengan suara dalam yang bergema.
Di belakangnya, enam raksasa lain muncul. Mereka semua berukuran hampir sama — tinggi, kekar, dan dewasa. Beberapa dari mereka sedang memegang kapak besar atau palu, seolah baru saja pulang dari bekerja. Mereka semua menatap Putri Salju dengan ekspresi terkejut.
Putri Salju mundur selangkah ketakutan. Tubuhnya yang telanjang dan penuh memar terpapar jelas di depan tujuh pria raksasa ini.
Salah satu raksasa yang lebih muda dan berambut pirang panjang berbisik kepada yang lain.
“Manusia kecil… dan telanjang?”
Raksasa yang pertama membuka pintu — yang tampaknya menjadi pemimpin di antara mereka — berlutut di satu lutut agar matanya sejajar dengan Putri Salju. Gerakan itu tetap membuatnya menjulang tinggi di hadapan gadis itu.
“Kamu… apa yang terjadi padamu, gadis kecil?” tanyanya dengan suara yang berusaha dibuat lebih lembut, meski tetap dalam dan menggelegar.
Putri Salju membuka mulut, tapi suaranya hampir tak terdengar.
“Aku… aku tersesat… aku butuh tempat… tolong…”
Air mata langsung mengalir di pipinya. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena kedinginan, tapi juga karena ketakutan dan kelelahan yang sudah menumpuk selama tiga hari.
Tujuh raksasa itu saling pandang.
Raksasa yang berlutut — yang bernama Thorne menurut yang lain memanggilnya — mengangguk pelan.
“Kamu tidak akan disakiti di sini,” katanya. “Masuklah.”
Ia mengulurkan tangan besarnya dengan hati-hati. Telapak tangannya saja sebesar badan Putri Salju. Putri Salju ragu-ragu sejenak, lalu meletakkan tangan kecilnya di atas telapak tangan Thorne. Raksasa itu mengangkatnya dengan sangat pelan dan hati-hati, seolah takut mematahkan tulangnya, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
Begitu masuk, Putri Salju merasa seperti masuk ke dunia raksasa.
Segala sesuatu di dalam rumah itu berukuran sangat besar. Meja makan setinggi bahunya. Kursi-kursi seperti menara. Tempat tidur di sudut ruangan utama panjangnya lebih dari lima meter. Perapian besar menyala di tengah ruangan, memberikan kehangatan yang sangat ia butuhkan.
Thorne meletakkannya pelan di atas meja besar.
“Siapa namamu?” tanyanya.
“P… Putri Salju…”
“Putri Salju,” ulang Thorne pelan. “Kamu terluka parah. Dan… telanjang.”
Salah satu raksasa yang lebih tua dan berjenggot tebal — bernama Borak — mengambil selimut wol besar dari rak dan melemparkannya pelan ke arah Putri Salju. Selimut itu langsung menutupi seluruh tubuhnya seperti tenda.
“Kamu bisa pakai ini dulu,” kata Borak dengan suara serak tapi tidak kasar.
Para raksasa lain mulai bergerak. Salah satu dari mereka mengambil mangkuk kayu besar dan menuangkan sup hangat ke dalamnya. Yang lain mengambil sepotong roti besar dan memotongnya menjadi ukuran yang bisa dimakan Putri Salju. Mereka meletakkan semuanya di depan gadis itu di atas meja.
“Makan dulu,” kata Thorne. “Kamu kelihatan sangat lapar.”
Putri Salju menatap mereka dengan mata penuh air mata. Selama tiga hari terakhir, ia hanya diperlakukan sebagai objek nafsu. Sekarang, tujuh pria raksasa ini… memperlakukannya dengan baik hati. Tidak ada yang menyentuhnya dengan nafsu. Tidak ada yang memaksanya. Mereka hanya memberinya makanan dan kehangatan.
Ia mengangguk kecil dan mulai makan dengan tangan gemetar. Supnya hangat dan enak. Roti itu lembut. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, ia merasa perutnya terisi.
Setelah makan, salah satu raksasa yang paling pendiam — bernama Kael — membawa baskom besar berisi air hangat dan kain bersih.
“Kamu bisa membersihkan diri,” katanya pelan sambil meletakkan baskom di atas meja. “Kami tidak akan mengganggu.”
Para raksasa itu kemudian pergi ke bagian lain rumah, memberi Putri Salju ruang untuk membersihkan tubuhnya sendiri. Ia mandi dengan air hangat itu, membersihkan kotoran, darah kering, dan sisa air mani yang masih menempel di tubuhnya. Ia menangis pelan saat membersihkan memeknya yang masih nyeri.
Setelah selesai, ia mengenakan selimut wol besar itu seperti gaun longgar. Tubuhnya masih kecil di dalamnya.
Malam mulai larut.
Para raksasa kembali ke ruang utama. Mereka duduk di kursi-kursi besar mereka masing-masing. Putri Salju duduk di atas meja, merasa sangat kecil di tengah tujuh pria raksasa ini. Tapi anehnya… ia merasa aman. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari.
Thorne melihatnya.
“Kamu bisa tinggal di sini malam ini,” katanya. “Kami punya kamar cadangan di belakang. Besok pagi kita bicara lagi.”
Putri Salju mengangguk kecil.
“Terima kasih…” bisiknya.
Malam pertama di rumah tujuh raksasa itu terasa damai.
Putri Salju ditidurkan di sebuah kamar yang masih sangat besar untuk ukurannya. Tempat tidurnya terbuat dari kayu tebal dan ditutupi selimut wol tebal. Ia tidur dengan sangat lelap, tubuhnya yang lelah akhirnya bisa beristirahat.
Keesokan paginya, saat ia bangun, ia mendengar suara para raksasa sedang bekerja di luar rumah. Ada yang memotong kayu, ada yang memperbaiki pagar, ada yang memasak.
Putri Salju turun dari tempat tidurnya yang besar. Ia masih mengenakan selimut wol itu. Ia berjalan pelan ke ruang utama dan melihat beberapa raksasa sedang sarapan.
Thorne yang melihatnya pertama kali tersenyum kecil.
“Kamu sudah bangun. Lapar?”
Putri Salju mengangguk.
Setelah sarapan, ia menawarkan diri untuk membantu.
“Aku… aku bisa membantu membersihkan rumah,” katanya pelan. “Aku tidak ingin hanya diam saja. Kalian sudah sangat baik padaku.”
Para raksasa saling pandang, lalu Thorne mengangguk.
“Kalau kamu mau. Tapi jangan memaksa diri. Kamu masih lemah.”
Putri Salju mulai membantu.
Karena rumah itu sangat besar, ia hanya bisa membersihkan bagian bawah meja, menyapu lantai dengan sapu kecil yang ia temukan, dan membantu mencuci piring-piring kayu yang berukuran besar. Ia harus berdiri di atas bangku kecil untuk bisa mencapai wastafel. Setiap kali ia bergerak, selimut wol yang ia pakai kadang sedikit terbuka, memperlihatkan paha atau bahunya yang putih.
Beberapa raksasa memperhatikannya diam-diam, tapi tidak ada yang menyentuh atau mengganggunya. Mereka hanya bekerja dan sesekali membantu Putri Salju ketika ia kesulitan mengangkat sesuatu yang terlalu berat untuknya.
Malam pertama di rumah tujuh raksasa itu berlalu dengan tenang.
Putri Salju merasa kecil… tapi aman.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bisa tidur tanpa takut terbangun karena makhluk hutan yang ingin memperkosanya.
189Please respect copyright.PENANAYUKb4hTUW0
Beberapa hari berlalu sejak Putri Salju tinggal di rumah tujuh raksasa.
Pada awalnya, ia hanya merasa lega dan aman. Para raksasa memperlakukannya dengan baik — memberinya makanan, pakaian longgar yang masih terlalu besar untuk tubuhnya, dan tempat tidur yang hangat. Ia membantu pekerjaan rumah sebisanya, meski tubuhnya masih nyeri dari apa yang terjadi di hutan.
Namun seiring berjalannya waktu, sesuatu yang lain mulai tumbuh di dalam dirinya.
Setiap kali ia melihat para raksasa, terutama saat mereka bekerja tanpa baju, Putri Salju tidak bisa menahan diri untuk memperhatikan tubuh mereka. Mereka semua tinggi, kekar, dan atletis. Otot-otot di lengan, dada, dan perut mereka menonjol jelas. Bahu mereka lebar, tangan mereka besar, dan setiap gerakan mereka terasa penuh kekuatan.
Yang paling membuatnya gelisah adalah ukuran tubuh mereka secara keseluruhan.
Dibandingkan dengan Putri Salju yang kecil dan ramping, mereka seperti raksasa sungguhan. Ketika ia berdiri di dekat Thorne, kepalanya bahkan tidak sampai ke dada raksasa itu. Ketika Borak mengangkat sesuatu yang berat, urat-urat di lengannya menonjol dengan jelas. Dan yang paling sering membuat pipinya memanas adalah… benjolan besar di balik celana longgar mereka.
Setiap kali para raksasa duduk atau berdiri, Putri Salju tidak bisa tidak memperhatikan kontol mereka yang bahkan dalam keadaan rileks sudah terlihat sangat besar di balik kain. Ukuran itu jauh lebih besar dari apa yang pernah ia lihat sebelumnya — bahkan lebih besar dari kontol para orc yang pernah memperkosanya di hutan.
Rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi ketertarikan seksual yang kuat.
Ia sering membayangkan bagaimana rasanya jika kontol sebesar itu masuk ke dalam tubuhnya yang kecil. Ia membayangkan perbedaan ukuran yang mencolok — bagaimana tubuhnya akan terlihat begitu kecil dan rapuh di antara tujuh pria raksasa itu. Setiap malam, saat ia sendirian di kamarnya yang besar, tangannya sering menyusup ke bawah selimut dan menyentuh memeknya yang masih sensitif. Ia membayangkan para raksasa itu menggunakan tubuhnya dengan kasar, memenuhinya sepenuhnya.
Rasa itu semakin kuat setiap harinya.
Hingga suatu malam, ketika semua tujuh raksasa berkumpul di ruang utama setelah makan malam.
Mereka duduk di kursi-kursi besar mereka masing-masing di sekitar perapian yang menyala besar. Api unggun membuat bayangan tubuh mereka yang kekar terpantul di dinding. Putri Salju baru saja selesai membersihkan meja makan. Ia berdiri di tengah ruangan, memegang kain lap dengan tangan kecilnya.
Ia menatap mereka satu per satu.
Thorne, Borak, Kael, dan keempat raksasa lainnya. Semua pria dewasa yang sangat besar, sangat kuat, dan sangat maskulin. Benjolan di celana mereka terlihat jelas dalam posisi duduk.
Putri Salju menelan ludah. Jantungnya berdetak sangat kencang.
Ia sudah tidak tahan lagi.
Dengan langkah kecil dan agak gemetar, ia berjalan ke tengah ruangan dan berhenti di depan Thorne. Semua raksasa menatapnya.
Putri Salju menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya. Suaranya kecil, tapi jelas terdengar di ruangan yang tenang.
“Aku… aku ingin melayani kalian,” katanya pelan.
Para raksasa saling pandang.
Thorne mengerutkan kening.
“Melayani? Maksudmu membersihkan rumah lagi?”
Putri Salju menggeleng. Pipinya memerah.
“Bukan… aku maksud… secara seksual.”
Ruangan tiba-tiba menjadi sangat sunyi. Hanya suara api yang berderak-derak.
Putri Salju menarik napas dalam dan melanjutkan dengan suara yang sedikit bergetar.
“Aku tahu aku kecil. Aku tahu tubuh kalian sangat besar… dan kontol kalian juga pasti sangat besar. Tapi selama beberapa hari ini, aku terus memikirkan kalian. Aku ingin merasakannya. Aku ingin kalian menggunakan tubuhku. Semua lubangku… aku serahkan kepada kalian.”
Ia menggigit bibir bawahnya.
“Aku ingin diperkosa oleh kalian.”
Kata-kata itu keluar begitu saja.
Para raksasa saling pandang lagi. Ada kejutan di wajah mereka, tapi juga ada sesuatu yang lain — gelap dan penuh nafsu.
Thorne berdiri pelan. Tubuhnya yang tinggi menjulang di depan Putri Salju. Ia menatap gadis kecil itu dari atas.
“Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?” tanyanya dengan suara rendah dan berat.
Putri Salju mengangguk.
“Aku yakin.”
Thorne menoleh ke keenam rekannya. Tidak ada yang menolak. Bahkan ada senyum tipis di beberapa wajah mereka.
“Baiklah,” kata Thorne pelan. “Kamu yang meminta.”
Dalam sekejap, suasana berubah.
Thorne langsung mengangkat tubuh Putri Salju dengan mudah menggunakan satu tangan, seolah ia tidak lebih berat dari boneka. Ia meletakkannya di atas meja besar di tengah ruangan. Selimut wol yang ia pakai langsung disobek dengan kasar oleh tangan besar raksasa itu, memperlihatkan tubuh telanjang Putri Salju yang kecil dan putih.
Para raksasa lain langsung berdiri dan mendekat.
Mereka tidak lagi menahan diri.
Thorne membuka celananya. Kontolnya yang sangat besar langsung terlepas — tebal, panjang, dan sudah setengah tegang. Ukurannya jauh lebih besar dari lengan Putri Salju. Ia langsung menarik Putri Salju ke pinggir meja dan mendorong kontol besarnya ke mulut gadis itu.
Putri Salju hanya sempat membuka mulut lebar-lebar sebelum kontol tebal itu masuk. Ia tersedak hebat. Rahangnya terasa seperti akan copot. Thorne menggenggam kepalanya dengan dua tangan besar dan mulai mengentot mulutnya dengan kasar, mendorong kontolnya semakin dalam hingga menyentuh tenggorokan Putri Salju.
Sementara itu, dua raksasa lain sudah meraih kaki Putri Salju dan membukanya lebar-lebar. Salah satu dari mereka — Borak — langsung menjilat memek Putri Salju dengan lidahnya yang lebar dan kasar, membuat gadis itu mengerang di balik kontol yang ada di mulutnya.
Tak lama kemudian, Borak berdiri dan mengeluarkan kontolnya yang tidak kalah besar. Ia langsung menusukkannya ke dalam memek Putri Salju tanpa banyak persiapan.
Putri Salju menjerit keras di balik kontol Thorne. Tubuhnya tersentak hebat. Memeknya yang kecil meregang dengan paksa untuk menampung kontol raksasa itu. Rasa peregangan yang luar biasa membuat matanya berair.
Para raksasa tidak memberikan waktu untuk beradaptasi.
Mereka bergantian dengan brutal.
Setiap kali satu raksasa selesai mengentot memeknya, raksasa lain langsung menggantikan posisinya. Kontol mereka sangat besar sehingga setiap dorongan terasa seperti akan merobek Putri Salju dari dalam. Mereka mengentotnya di atas meja, di lantai, bahkan mengangkat tubuhnya di udara sementara satu raksasa mengentot memeknya dari bawah dan yang lain memaksa kontolnya ke mulut Putri Salju.
Mereka juga menggunakan lubang belakangnya.
Salah satu raksasa — yang paling kasar di antara mereka — meludahi lubang belakang Putri Salju lalu memaksa kontol besarnya masuk. Putri Salju menjerit histeris karena rasa sakit yang luar biasa, tapi raksasa itu tidak peduli. Ia mengentot lubang belakangnya dengan kasar sementara raksasa lain terus menggunakan mulut dan memeknya.
Tujuh raksasa itu bergantian tanpa henti.
Mereka memperlakukan Putri Salju seperti mainan kecil yang bisa mereka gunakan sesuka hati. Tubuhnya yang kecil diangkat, dibalik, dan diisi dari berbagai arah. Kadang dua kontol besar mencoba masuk ke dalam satu lubang secara bersamaan, membuat Putri Salju menangis dan mengerang histeris. Air mani mereka yang kental dan banyak mengalir deras ke dalam mulut, memek, dan lubang belakangnya.
Putri Salju sudah tidak bisa berpikir lagi.
Tubuhnya yang kecil terus digunakan secara bergantian oleh tujuh pria raksasa selama berjam-jam. Ia orgasme berkali-kali karena peregangan yang ekstrem, meski juga menangis karena rasa sakit yang bercampur dengan kenikmatan yang aneh.
Ketika akhirnya para raksasa selesai, tubuh Putri Salju tergeletak lemas di atas meja besar. Air mani mengalir deras dari mulutnya, memeknya, dan lubang belakangnya. Tubuhnya penuh memar dan bekas tangan besar para raksasa. Ia hampir tidak bisa bergerak.
Thorne berdiri di dekatnya sambil mengenakan celana kembali. Ia menatap Putri Salju dengan mata yang masih penuh nafsu.
“Kamu yang meminta ini,” katanya pelan.
Putri Salju hanya bisa mengangguk lemah. Air matanya mengalir, tapi ada senyum kecil yang muncul di bibirnya yang bengkak.
“Iya…” bisiknya pelan. “Aku yang minta…”
Malam itu, Putri Salju akhirnya tertidur di atas meja besar, dikelilingi tujuh raksasa yang masih telanjang dan tubuhnya penuh air mani mereka.
Ia merasa kecil.
Ia merasa hancur.
Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa… puas.189Please respect copyright.PENANAL9b4yxmxas


will be deducted