Aku memegang lingerie berwarna putih itu dengan tangan gemetar, teksturnya sangat lembut seperti sutra di jari-jariku. Ini pertama kalinya aku pegang lingerie, apalagi yang modelnya seperti ini, lebih mirip jaring ikan daripada baju, dengan lubang-lubang besar di bagian yang seharusnya paling ditutup.
1268Please respect copyright.PENANAiVurM4RS2g
Aku tahu ini bukan pakaian biasa istri-istri tetangga, tapi lebih seperti yang aku lihat di film-film malam di laptop teman kos. "Ayo dong bantuin aku pakai," desis Bu Riska sambil mendekat, tubuhnya yang hangat nyaris menempel ke lenganku. Aku bisa mencium wangi parfumnya yang manis bercampur keringat, membuat kepala sedikit pusing. Dalam hati aku membayangkan bagaimana dia akan terlihat memakai ini, kulit sawo matangnya kontras dengan warna putih, payudara besar itu mungkin akan terlihat lebih jelas dari kain transparan ini.
1268Please respect copyright.PENANAykuCwNsCEM
"Aku...aku nggak bisa, Bu," bisikku sambil menunduk, tapi mata masih mencuri pandang ke arah tubuhnya yang hanya tertutup tank top tipis. Tanganku berkeringat memegang lingerie itu, seolah-olah kain itu panas membara. Bu Riska tertawa kecil, lalu tiba-tiba mengambilnya dari tanganku dan mengangkatnya tinggi-tinggi di depan tubuhnya.
1268Please respect copyright.PENANAhkFt2FV0KT
"Kamu penakut ya," godanya sambil memainkan kain itu seperti tirai, memperlihatkan sekilas bayangan tubuh di baliknya. Dadaku berdegup kencang, mulut terasa kering. Aku tahu ini salah, tapi imajinasiku sudah berlari jauh, membayangkan Bu Riska memakai ini lalu memelukku, mengatakan dia akan jadi ibu pengganti yang selalu menyayangiku.
1268Please respect copyright.PENANATNrkrRODk4
Dia mulai melipat lingerie itu dengan hati-hati, jari-jarinya yang lentik menyentuh setiap bagian seperti barang berharga. "Ini hadiah untuk suamiku," katanya tiba-tiba, tapi matanya menatapku penuh arti.
1268Please respect copyright.PENANAJ6yW27fX3T
Aku mengangguk pelan, meski tahu itu bohong, suaminya sedang keluar kota, dan dia tahu aku tahu. Bu Riska kemudian meletakkannya di atas meja, sengaja meninggalkan lipatan yang tidak rapi seperti undangan diam-diam. "Kalau kamu mau lihat aku pakai ini... boleh kok," bisiknya tiba-tiba sambil jari telunjuknya menyentuh daguku dengan lembut. Napasku tercekat, seluruh tubuh terasa panas dingin.
1268Please respect copyright.PENANA3LlFSXTNnZ
Aku menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangan ke jendela di mana matahari sore mulai memerah. Tapi Bu Riska tidak membiarkannya, tangannya yang hangat sekarang memegang pipiku, memaksa aku menatap matanya yang berbinar. "Kamu kan anak baik, pasti nggak akan cerita ke siapa-siapa," bisiknya lagi.
1268Please respect copyright.PENANAbUDTgVR8wk
Bu Riska sepertinya sadar kalau aku sebegini polos dan mulai kaku. Dia duduk di sampingku sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi, pahanya sengaja menempel ke pahaku yang langsung tegang. "Maaf ya kalau kamu tergoda, hihi," bisiknya sambil matanya berkedip-kedip, seperti mengejek ketidakberdayaanku. Aku menggaruk-garuk belakang kepala yang mulai berkeringat, tidak tahu harus bilang apa selain menggeleng cepat. "Emang kamu nggak pacaran ya di kampus?" tanyanya santai sambil menyenderkan kepalanya ke tangannya, seperti sedang ngobrol tentang cuaca. Aku menghela nafas dalam-dalam sebelum mengaku bahwa seumur hidup aku belum pernah pacaran, bahkan belum pernah pegang tangan cewek kecuali waktu lomba tarik tambang SD.
1268Please respect copyright.PENANAl9xnzR27Jo
Bu Riska langsung terbelalak, bibirnya terbentuk huruf O kecil yang lucu. "Serius? Padahal aku kira kamu tipe playboy yang punya gudang pacar di kampus," katanya sambil tertawa renyah, tapi matanya memandangku dengan ekspresi aneh antara kasihan dan penasaran. Tangannya tanpa sadar meraih tanganku yang berkeringat dan memeluknya di antara kedua telapaknya yang hangat. Aku menjelaskan pelan-pelan bahwa aku punya beberapa teman perempuan, tapi nggak pernah sampai tahap pacaran, apalagi sampai melihat mereka memakai lingerie seperti yang tadi dilipat Bu Riska.
1268Please respect copyright.PENANAq1vj8Zguwk
"Ya ampun, kamu ini anak baik banget sih," desis Bu Riska. Tiba-tiba dia berubah gaya bicaranya jadi seperti ibu yang sedang memarahi anaknya yang bandel. "Dengar ya, pacaran itu penting!" katanya tegas sambil jarinya menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku hanya bisa menunduk malu sambil mendengarkan penjelasannya tentang poin-poin penting pacaran. Mulai dari kebutuhan biologis, dia bahkan menggambarkan dengan gerakan tangan yang membuat pipiku panas, sampai soal cinta yang katanya bisa bikin hidup lebih berwarna. "Pacaran itu seru lho, bisa gonta-ganti," godanya sambil menyeringai nakal, seperti sedang membocorkan rahasia besar.
1268Please respect copyright.PENANAWIlvgOKJ1f
Aku tersipu malu, perutku berdebar kencang mendengar seorang ibu tetangga berbicara begitu terbuka tentang hal-hal yang bahkan teman-temanku di kampus jarang bahas. Bu Riska terus bercerita dengan semangat, kadang menyentuh bahuku untuk menekankan poin-poin pentingnya. "Lihat nih," katanya sambil tiba-tiba meraih ponselnya dan menunjukkan foto-foto temannya yang katanya "jago pacaran".
1268Please respect copyright.PENANAYzbJvD8m1q
Aku melihat sekilas foto-foto wanita dengan pakaian minim itu sebelum cepat-cepat memalingkan muka, tapi Bu Riska malah tertawa melihat reaksiku. "Kamu ini lucu banget, udah gede tapi masih malu-malu kayak anak SD," godanya sambil jarinya menggelitik pergelangan tanganku.
1268Please respect copyright.PENANABuhV4lDNix
Aku terpaku melihat foto-foto di ponsel Bu Riska, perutku berasa dikocok-kocok campur aduk antara malu dan penasaran. Ada beberapa foto temannya yang aku nggak kenal, pakai baju super minim dengan pose-pose yang bikin aku langsung nunduk malu. Yang bikin aku kaget, ada juga foto Bu Riska waktu masih muda, rambutnya lebih pendek, kulitnya mulus banget, dengan baju ketat yang memperlihatkan semua lekuk tubuhnya. "Ini aku waktu masih kuliah," katanya bangga sambil memperbesar foto itu dengan jarinya. Aku nggak sangka ternyata dulu Bu Riska seglamor ini, jauh dari gambaran ibu-ibu komplek yang biasa aku lihat. Yang lebih mengejutkan lagi, ada foto Bu Amelia juga, lebih muda, dengan senyum manis dan mata berbinar, berdiri di antara teman-temannya yang sama cantiknya.
1268Please respect copyright.PENANAHVpWFLRrWH
"Aku dulu sering ganti-ganti pacar," ujar Bu Riska tiba-tiba dengan nada bangga, matanya berbinar seperti sedang bercerita tentang koleksi perhiasannya. Tangannya masih memegang ponsel, jarinya geser-geser foto sambil terkekeh kecil. "Bukan buat cari duit atau apa, tapi karena seru aja bisa kenal macam-macam cowok." Aku cuma bisa manggut-manggut, tenggorokan terasa kering. Dia cerita dengan semangat tentang pengalamannya pacaran sama mahasiswa kedokteran, anak band, bahkan ada dosen muda sekali. "Setiap cowok itu unik, punya rasanya sendiri-sendiri," bisiknya sambil matanya melirik ke arahku, kayak mau bilang aku juga bakal punya rasa tertentu.
1268Please respect copyright.PENANAF9PutHxJLs
Aku nggak tahu harus ngomong apa, jadi cuma nunduk sambil garuk-garuk kepala yang mulai panas. Bu Riska terus bercerita sambil sesekali menyentuh bahuku, kayak penguat kalau poin yang dia sampaikan penting banget. "Pacaran itu harus dinikmati, jangan terlalu serius," katanya sambil senyum nakal, matanya berkedip-kedip. Aku cuma bisa bayangkan bagaimana rasanya punya pacar, apalagi gonta-ganti kayak cerita Bu Riska. Selama ini aku ngerasa nggak ada cewek yang bakal mau sama anak yatim kayak aku, tapi di depan mataku sekarang ada bukti kalau dulu Bu Riska dan Bu Amelia itu cewek-cewek idaman kampus.
1268Please respect copyright.PENANAETampF8olr
"Nih lihat, ini waktu aku sama Bu Amelia jalan-jalan ke pantai," ujarnya sambil menunjukkan foto mereka berdua pakai bikini yang bikin mataku langsung berkedip cepat. Mereka terlihat sangat akrab, saling peluk sambil tertawa ke arah kamera. B
1268Please respect copyright.PENANA6roUAOj8oV
u Riska bilang mereka dulu sering clubbing bareng, bahkan sempat naksir cowok yang sama. "Kami saling tahu tapi pura-pura nggak tahu," akunya sambil terkekeh, kayak itu kenangan lucu buatnya. Aku nggak habis pikir kalau Bu Amelia yang sekarang sering pakai kebaya ke pengajian itu dulu bisa segaul itu.
1268Please respect copyright.PENANAXcfVZfiXPx


will be deducted