1973Please respect copyright.PENANAayRZYMQQcm
Bu Riska menatapku dengan tatapan yang semakin mendekat, matanya berkilau seperti punya rahasia yang hanya bisa dibagikan kepada orang tertentu. Tangannya terus mengelus-elus lenganku dengan gerakan lembut, membuat kulitku bergidik setiap kali jari-jarinya yang halus menyentuh. "Kemarin di kampus ngapain aja? Aku penasaran banget sama kegiatannya mahasiswa ganteng kayak kamu," bisiknya sambil mendekatkan wajahnya sampai aku bisa mencium wangi shampoo buah-buahannya. Aku mulai bercerita dengan suara agak serak tentang presentasi kelompok di kelas pagi dan latihan basket sorenya, sambil berusaha mengabaikan bagaimana tank topnya bergerak setiap kali dia mengambil napas dalam.
Dia mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk atau mengeluarkan suara kecil "hmm" yang membuatku semakin gugup. Setiap kali aku berani menatap matanya yang besar itu, bibirnya langsung melengkung jadi senyum manis yang bikin dadaku berdegup kencang. "Terus? Terus gimana setelah presentasi?" tanyanya penuh semangat, seolah kisah kuliahku adalah cerita paling menarik yang pernah dia dengar. Tangannya sekarang tidak hanya di lengan, tapi sudah merayap perlahan ke bahuku, sesekali menekan otot-ototku yang sebenarnya biasa saja.
Aku melanjutkan cerita tentang dosen yang cerewet dan teman sekelompokku yang malas, tapi konsentrasiku buyar saat Bu Riska tiba-tiba memiringkan kepala dan mengulum bibir bawahnya. "Kamu itu rajin banget ya, beda sama anak-anak tetangga sini yang cuma main game melulu," pujinya sambil mendekatkan lagi kursinya sampai pahanya menempel di pahaku. Aku bisa merasakan kehangatan kulitnya melalui celana pendek tipis yang dipakainya, membuat ceritaku tentang perpustakaan jadi terpotong-potong.
Setiap kali aku berhenti bicara, dia langsung menyentuh tanganku atau menyisir rambutku dengan jarinya, seolah takut aku akan berhenti bercerita. "Lanjut dong, seru banget denger kamu cerita," godanya sambil mata berkedip-kedip, seperti anak kecil yang dibacakan dongeng. Aku tahu ini permainan, tahu dia mungkin tidak benar-benar tertarik dengan jadwal kuliahku, tapi entah kenapa hatiku berdebar senang diperhatikan seperti ini. Di tengah ceritaku tentang tugas ekonomi, tangannya tiba-tiba meraih daguku dan memiringkan wajahku ke arahnya.
Jujur, aku tidak pernah punya pengalaman seperti ini dengan ibuku. Ibu sudah pergi waktu aku masih kecil, jadi aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya berbaring di pangkuan ibu sambil dikelus-elus rambutnya. Sekarang kepalaku berbaring di paha Bu Riska yang hangat, kulitnya halus seperti sutra di bawah celana pendek pendek itu.
Aromanya membuatku teringat bagaimana dulu aku suka mencium baju ibuku yang baru dicuci. "Kamu capek ya?" bisik Bu Riska sambil tangannya mengusap-usap dahiku yang berkeringat. Aku mengangguk pelan, menutup mata sambil menikmati setiap sentuhannya yang lembut. Ini salah, aku tahu, tapi hati kecilku seperti lapar akan perhatian seperti ini, sentuhan, pujian, sifat manjanya yang membuatku merasa spesial.
"Di kampus melelahkan banget," keluhku dengan suara lirih, tanpa membuka mata. Kuliah memang berat akhir-akhir ini, tugas menumpuk, ujian datang bertubi-tubi, dan aku harus kerja part-time di kafe sepulang kuliah. Bu Riska mendengarkan sambil jarinya memainkan rambutku yang pendek, terkadang jarinya turun menyentuh alisku, lalu pipiku yang mulai panas.
"Anak rajin sih kamu, tapi jangan sampe sakit," bisiknya sambil mendekatkan wajahnya sampai aku bisa merasakan napasnya di keningku. Aku ingin protes bahwa ini terlalu dekat, tapi tubuhku malah semakin rileks di pangkuannya, seperti boneka kain yang lemas.
Tangannya sekarang tidak hanya di rambut, tapi mulai menggambar pola-pola kecil di bahuku yang tegang. "Aku tahu kamu kuat, tapi semua orang butuh istirahat," ujarnya dengan suara ibu-ibu yang biasanya dipakai untuk menghibur anak kecil jatuh dari sepeda.
Rasanya aneh, di satu sisi aku merasa dimanja seperti anak kecil, di sisi lain getaran di perutku setiap kali tangannya menyentuh kulitku langsung membuktikan bahwa ini bukan hubungan ibu-anak biasa. Aku mencoba mengalihkan pikiran dengan fokus pada detak jantungnya yang bisa kudengar dari posisiku ini, stabil dan tenang, sangat berbeda dengan detak jantungku yang berdebar-debar kencang.
"Kamu selalu baik sama aku," bisikku sambil membuka mata sedikit, melihat dari bawah bagaimana dagunya yang lancip bergerak saat dia berbicara. Bu Riska tersenyum, lalu tanpa peringatan menekan pelipisku dengan ibu jarinya, memijat perlahan.
"Siapa lagi yang mau sayang sama kamu kalau bukan aku?" godanya sambil menunduk sampai wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aku menelan ludah, tidak tahu harus menjawab apa. Seharusnya aku merasa bersalah menikmati ini, tapi di saat yang sama, rasanya terlalu enak untuk dihentikan.
"Siapa lagi yang mau sayang sama kamu kalau bukan aku?" Kata-kata itu menggema dalam hatiku, membuat jantungku berdegup lebih kencang. Aku berbaring di pangkuan Bu Riska yang hangat, mataku setengah tertutup menikmati setiap usapan jemarinya di rambutku.
Apa ini benar rasa sayang? Atau hanya permainan seorang wanita kesepian yang butuh perhatian? Tapi hatiku benar-benar bahagia mendengar itu, bahagia dielus-elus seperti anak kecil, diperhatikan dengan cara yang bahkan ibuku sendiri belum sempat lakukan sebelum meninggal.
Bu Riska sekarang hanya memakai tank top tipis dan celana pendek yang memperlihatkan kulit kakinya yang halus, jauh berbeda dari gamis longgar yang biasa dikenakannya saat pergi ke pengajian. Aku tahu ini salah, dia istri orang, aku cuma mahasiswa miskin yang hidup dari belas kasihan tetangga, tapi saat tangannya mengusap pelipisku dengan lembut, semua logika itu seakan menguap.
Lalu aku tersadar, baru ingat kalau tadi Bu Riska menerima paket dari kurir. Dia mengangkat kotak kecil itu dengan kedua tangan, wajahnya sumringah seperti dapat hadiah ulang tahun. Aku memperhatikan saat dia berusaha membuka bungkus plastiknya yang ketat, tangannya sedikit gemetar karena susah merobeknya. Setiap kali dia menggerakkan tangan untuk menarik plastik itu, payudaranya yang besar bergoyang-goyang bebas di balik tank top ketat, membuatku harus menelan ludah berkali-kali. Rasanya seperti menonton video slow motion yang tidak pernah berakhir, setiap gerakannya membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya plastik itu terbuka dan Bu Riska mengeluarkan isinya dengan girang.
Ternyata isinya adalah lingerie gaun malam putih transparan, lebih mirip jaring-jaring tipis daripada baju. Bu Riska langsung mengangkatnya tinggi-tinggi dengan mata berbinar, melambaikan kain tipis itu di udara seperti bendera kemenangan. "Akhirnya datang juga, sudah dua minggu aku nungguin ini," ujarnya sambil senyum lebar, tidak sadar bahwa aku sedang memperhatikan setiap lekuk tubuhnya yang bergerak mengikuti arahnya. Dia mulai mengepas-ngepas lingerie itu di depan tubuhnya, padahal jelas-jelas bahan transparan itu tidak akan pernah cukup menutupi apa pun. Ada lebih banyak bagian yang bolong daripada yang tertutup, membuat imajinasiku langsung bekerja overtime.
"Menurut kamu, aku cantik nggak kalau pakai ini?" tanyanya tiba-tiba sambil mendekatkan baju itu ke tubuhnya, matanya menatapku penuh harap. Aku menelan ludah lagi, tenggorokanku terasa kering seperti padang pasir. Lingerie putih itu kontras banget dengan kulit sawo matangnya, dan dari posisiku duduk, aku bisa melihat bayangan payudaranya melalui kain tank top yang sudah tipis itu. "Aku... aku nggak bisa jawab itu, Bu," bisikku sambil menunduk, tangan berkeringat mencengkram pinggiran kursi. Rasanya seperti berada dalam mimpi buruk yang terlalu indah untuk dibangunkan darinya.
Bu Riska hanya tertawa melihat reaksiku. Aku langsung memalingkan muka ke arah lain, jantung berdebar kencang seperti mau keluar dari dada. "Jangan malu-malu, kamu kan sudah sering lihat aku dari kecil," godanya sambil aku mendengar suara kain meluncur ke lantai. Dari sudut mataku yang nekad melirik, aku melihat bayangan tubuhnya yang ramping dengan lekuk-lekuk sempurna bergerak di ruang tamu. "Bantuin aku pakai ini, dong," pinta Bu Riska dengan suara manja sambil menyodorkan lingerie itu ke arahku.
Aku berdiri kaku seperti patung, tangan terasa dingin dan berkeringat. Ini sudah melewati batas, tapi kakiku seperti tertanam ke lantai, tidak bisa bergerak menjauh. "Aku nggak... nggak bisa, Bu. Suami Bu Riska bisa marah," bisikku sambil melihat ke arah pintu, seolah-olah suaminya bisa muncul kapan saja. Bu Riska malah mendekat, bau parfumnya yang manis memenuhi ruang antara kami. "Dia di Surabaya seminggu lagi, dan kamu tahu aku selalu bisa menjaga rahasia," bisiknya pelan sambil tangannya yang hangat menggenggam tanganku yang dingin.
ns216.73.217.176da2

will be deducted