235Please respect copyright.PENANAcKeUsWcUwbBab 1
Bab 1: Kecemburuan yang Membara
Di istana kerajaan yang megah, pagi itu terasa berbeda. Sinar matahari pagi menyelinap melalui jendela-jendela tinggi yang dihiasi tirai beludru merah tua, menyinari koridor marmer yang dingin. Di taman istana, Putri Salju yang baru saja berusia delapan belas tahun sedang berjalan perlahan di antara semak mawar putih. Rambut hitam legamnya yang panjang tergerai hingga pinggang, berkilau seperti sutra di bawah cahaya matahari. Kulitnya putih bersih bak salju yang baru turun, tanpa noda sedikit pun. Bibirnya merah alami, montok dan menggoda tanpa perlu sentuhan apapun. Tubuhnya sudah matang sempurna — payudaranya penuh dan berat, membentuk lekukan indah di balik gaun sutra putih tipis yang dikenakannya. Pinggulnya lebar, pinggangnya ramping, dan langkahnya anggun namun masih membawa sedikit kepolosan seorang gadis yang baru saja dewasa.
Putri Salju tersenyum kecil saat burung-burung kecil mendarat di telapak tangannya. Dia tidak tahu bahwa kecantikannya sudah menjadi racun bagi orang lain. Dia hanya merasa bahagia bisa menghirup udara pagi, merawat bunga, dan bernyanyi pelan. Tubuhnya yang muda dan sehat bergerak dengan ringan, gaunnya sesekali menempel di paha mulusnya ketika angin bertiup. Belum ada pria yang pernah menyentuhnya secara intim, namun aura seksualitas alami sudah memancar kuat dari dirinya — sesuatu yang bahkan dia sendiri belum sepenuhnya sadari.
Sementara itu, di kamar tidur Ratu yang berada di menara tertinggi istana, suasana sangat berbeda.
Ratu tirinya berdiri telanjang di depan cermin besar berbingkai emas. Tubuhnya yang berusia lebih dari tiga puluh tahun tetap terlihat seperti wanita dua puluhan berkat sihir hitam yang digunakannya setiap malam. Payudaranya tetap kencang dan tinggi, putingnya berwarna cokelat muda yang sensitif. Perutnya rata, pinggulnya lebar, dan yang paling ia banggakan — memeknya selalu rapat, basah, dan elastis seperti perawan berkat mantra yang ia ucapkan setiap pagi. Jari-jarinya saat ini sedang menyentuh bagian itu, mengusap pelan klitorisnya yang sudah membengkak karena rasa iri yang membara.
“Cermin ajaib…” gumamnya pelan, suaranya rendah dan penuh amarah yang tertahan. “Hari ini aku harus mendengar jawaban yang menenangkan.”
Ia mengenakan jubah tipis transparan berwarna hitam yang tidak menutupi apa-apa, hanya menambah kesan menggoda pada tubuh telanjangnya. Rambutnya yang hitam panjang disisir rapi, wajahnya cantik dan dingin. Namun matanya menyimpan api kecemburuan yang sudah hampir tak terkontrol.
Ia bertepuk tangan dua kali. Pintu kamar terbuka dan seorang pelayan wanita masuk dengan membawa cermin ajaib berukuran sedang yang berbingkai perak hitam. Pelayan itu menunduk hormat, tangannya sedikit gemetar karena sudah tahu betapa berbahayanya Ratu saat sedang dalam suasana hati buruk.
“Letakkan di sini,” perintah Ratu dengan suara datar.
Pelayan wanita itu meletakkan cermin di atas meja marmer di depan Ratu, lalu mundur beberapa langkah dan berdiri dengan kepala tertunduk.
Ratu menatap cerminnya sendiri dulu. Ia tersenyum puas melihat wajahnya yang masih mulus, payudaranya yang kencang, dan lekuk tubuhnya yang sempurna. Lalu ia mengucapkan mantra yang sudah hafal di luar kepala.
“Cermin ajaib di dinding, siapakah yang paling cantik di seluruh negeri ini?”
Cermin itu berkabut sejenak, lalu suara dalam dan bergema terdengar:
“Ratu adalah wanita tercantik, namun ada satu yang lebih cantik darimu. Putri Salju, yang berusia delapan belas tahun, kulitnya lebih putih dari salju, bibirnya lebih merah dari darah, dan tubuhnya lebih diinginkan oleh setiap pria yang melihatnya. Ia adalah yang paling memikat di negeri ini.”
Ruangan tiba-tiba terasa sangat dingin.
Ratu berdiri diam. Tangannya yang tadinya menyentuh memeknya sendiri kini mengepal erat di sisi tubuh. Wajahnya yang cantik berubah merah padam. Pembuluh darah di lehernya menonjol. Ia menatap cermin dengan mata menyala-nyala.
“Apa katamu…?” bisiknya pelan, tapi penuh amarah.
Cermin mengulangi jawabannya dengan suara yang sama datar dan jujur.
Ratu meraung. Tangan kanannya menyambar vas bunga kristal di atas meja dan melemparkannya ke dinding hingga pecah berkeping-keping. Ia berjalan mondar-mandir, jubah transparannya terbuka lebar, memperlihatkan tubuh telanjangnya yang indah namun penuh amarah. Payudaranya bergoyang-goyang saat ia bergerak cepat. Memeknya yang selalu rapat itu sekarang basah bukan karena nafsu, melainkan karena amarah yang bercampur dengan hasrat gelap untuk menghancurkan saingannya.
“Putri Salju… putri sialan itu!” geramnya. “Baru delapan belas tahun dan sudah lebih diinginkan?! Tubuhnya yang muda itu… payudaranya yang masih kencang alami… memeknya yang pasti masih sempit dan belum pernah disentuh…!”
Ia berhenti di depan cermin, napasnya terengah-engah. Tubuhnya gemetar hebat. Ia merasa harga dirinya sebagai wanita tercantik dan paling diinginkan di kerajaan hancur berkeping-keping hanya karena satu jawaban cermin.
Matanya kemudian beralih ke pelayan wanita yang masih berdiri di sudut ruangan dengan kepala tertunduk, membawa cermin tadi. Pelayan itu adalah wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun, cantik dalam ukuran biasa, tubuhnya montok, payudaranya besar, dan sering menjadi sasaran pandangan para pelayan pria di istana.
Ratu menatapnya lama. Amarahnya mencari jalan keluar. Ia tidak ingin hanya marah sendirian. Ia ingin melihat penderitaan orang lain. Ia ingin melampiaskan kekesalannya dengan cara yang paling kejam dan paling memuaskan hasrat gelapnya saat ini.
Ia bertepuk tangan tiga kali dengan keras.
Pintu kamar terbuka lebar. Empat pelayan pria dewasa yang bertubuh kekar dan sudah sering melayani keinginan gelap Ratu masuk dengan cepat. Mereka langsung berlutut.
Ratu menunjuk pelayan wanita yang membawa cermin dengan jari telunjuknya yang gemetar karena marah.
“Ambil wanita itu,” perintahnya dengan suara dingin dan penuh kebencian. “Robek pakaiannya. Perkosa dia di lantai sini, di depan mataku. Gunakan dia sekeras mungkin. Aku ingin melihat dia menangis dan memohon. Aku ingin melihat tubuhnya hancur karena kalian. Lakukan sekarang.”
Empat pelayan pria itu saling pandang sejenak, lalu senyum jahat muncul di wajah mereka. Mereka sudah terbiasa dengan perintah-perintah sadis Ratu. Tanpa ragu, mereka bergerak cepat.
Pelayan wanita itu menjerit ketakutan saat dua pria langsung menarik lengannya dengan kasar. “Tuan Putri… ampun… aku tidak melakukan apa-apa!”
“Tutup mulutnya!” bentak Ratu.
Salah satu pria menyumpal mulut pelayan wanita dengan saputangan kotor. Mereka mendorong tubuhnya ke lantai marmer yang dingin. Gaun sederhana yang dikenakannya langsung disobek dengan paksa. Payudaranya yang besar dan montok terjatuh keluar, putingnya yang cokelat muda langsung terpapar. Roknya disobek hingga pinggang, memperlihatkan paha mulus dan celana dalam sederhana yang langsung ditarik paksa.
“Jangan… tolong…” isaknya tertahan di balik saputangan.
Salah satu pelayan pria yang paling besar langsung membuka celananya dan mengeluarkan kontolnya yang sudah setengah tegang. Tanpa basa-basi, ia mendorong tubuh pelayan wanita itu telungkup di lantai, mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi, lalu menusukkan kontolnya dengan kasar ke dalam memek wanita itu yang masih kering karena ketakutan.
Wanita itu menjerit keras di balik saputangan. Tubuhnya tersentak hebat. Pelayan pria itu tidak peduli. Ia langsung menggerakkan pinggulnya dengan kasar dan cepat, memerkosa memek wanita itu dengan brutal. Suara “plak-plak-plak” yang keras menggema di kamar Ratu.
Ratu berdiri di dekat mereka, jubahnya terbuka lebar, tangan kanannya kembali menyentuh memeknya sendiri yang sekarang basah karena melihat pemandangan itu. Matanya menyala-nyala menatap tubuh pelayan wanita yang sedang diperkosa. Ia mengusap klitorisnya sendiri dengan cepat sambil menikmati pemandangan.
“Lebih keras,” perintahnya dengan suara parau. “Pukul pantatnya. Buat dia menangis lebih kencang.”
Pelayan pria kedua langsung menampar pantat wanita itu dengan keras berkali-kali hingga kulitnya memerah. Pelayan ketiga menarik rambut wanita itu ke belakang dan memaksa ia menengadah, sementara pelayan keempat membuka celananya dan mengarahkan kontolnya ke mulut wanita itu setelah melepas saputangan.
Mereka memperkosa wanita itu secara bergantian dan bersama-sama. Satu di memek, satu di mulut, sementara dua lainnya memegang tangan dan kakinya agar tidak bisa melawan. Tubuh wanita itu bergoyang-goyang kasar di lantai marmer. Air mata mengalir deras di pipinya. Ia hanya bisa menangis dan merintih tertahan setiap kali kontol tebal menusuk dalam-dalam ke dalam tubuhnya.
Ratu semakin bergairah melihat pemandangan itu. Ia duduk di kursi dekat mereka, kaki dibuka lebar, jari-jarinya dengan rakus memasuk-masukkan ke dalam memeknya yang rapat dan basah. Ia menonton dengan senang hati bagaimana tubuh pelayan wanita itu dihancurkan oleh empat pria kekar. Setiap jeritan, setiap tangisan, setiap suara “plak” dari kontol yang menghantam pantat wanita itu membuat Ratu semakin basah dan semakin puas.
Setelah hampir setengah jam, pelayan wanita itu sudah tidak bisa menangis lagi. Tubuhnya lemas, memeknya merah dan bengkak, air mani para pelayan pria sudah mengalir keluar dari lubangnya dan menetes ke lantai. Ia hanya bisa terisak pelan.
Ratu berdiri, napasnya masih terengah. Ia merasa sedikit lebih baik setelah melampiaskan amarahnya dengan cara yang kejam ini. Namun kecemburuan terhadap Putri Salju masih membara di dada.
Ia melangkah mendekati pelayan wanita yang sudah babak belur itu, lalu menendang tubuhnya pelan dengan ujung kakinya.
“Bersihkan kekacauan ini,” katanya dingin kepada para pelayan pria. “Dan jangan biarkan wanita ini muncul di depanku lagi.”
Kemudian ia menoleh ke cermin ajaib yang masih berdiri di atas meja.
“Putri Salju…” gumamnya pelan, mata penuh kebencian. “Kau akan kubunuh. Perlahan. Dan aku akan menikmati setiap detik penderitaanmu.”
Ratu berbalik dan berjalan ke jendela, tubuh telanjangnya masih berkilau karena keringat dan cairan dari memeknya sendiri. Di luar jendela, ia bisa melihat sosok Putri Salju yang masih berada di taman, tersenyum polos di bawah sinar matahari pagi.
Kecemburuannya semakin dalam.
Dan rencana untuk menghilangkan Putri Salju mulai terbentuk di kepalanya.
235Please respect copyright.PENANAo0YZYdpVyB
Setelah para pelayan pria membersihkan kekacauan di lantai dan menyeret keluar tubuh pelayan wanita yang sudah babak belur dan penuh air mani, Ratu berdiri sendirian di kamarnya yang masih beraroma seks dan darah. Jubah transparannya terbuka lebar, memperlihatkan tubuh telanjangnya yang tetap kencang berkat sihir. Payudaranya naik turun karena napas yang masih belum tenang. Memeknya yang selalu rapat itu basah dan sedikit berdenyut setelah ia mengusapnya sendiri tadi.
Ia berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke taman istana. Sinar matahari pagi menyinari wajahnya yang cantik namun penuh amarah. Pandangannya langsung tertuju ke sosok di bawah sana.
Putri Salju.
Gadis itu masih berada di taman mawar putih. Gaun sutra putihnya yang tipis menempel di tubuhnya karena angin pagi, memperlihatkan lekuk payudaranya yang montok dan pinggulnya yang lebar. Rambut hitam legamnya tergerai indah. Ia tersenyum polos kepada burung-burung yang mendarat di tangannya. Tubuhnya yang berusia delapan belas tahun terlihat begitu segar, muda, dan penuh vitalitas. Kulitnya benar-benar putih seperti salju, bibirnya merah alami, dan ada sesuatu yang membuat siapa pun yang melihatnya ingin memiliki dan merusaknya.
Ratu menatapnya lama. Semakin lama ia melihat, semakin besar amarah yang membara di dadanya.
“Dasar jalang kecil…” bisiknya pelan, suaranya penuh kebencian. “Baru delapan belas tahun, tapi sudah membuat cermin mengatakan kau lebih diinginkan. Payudaramu yang masih kencang alami… memekmu yang pasti masih sempit dan belum pernah dimasuki… tubuhmu yang masih polos… Semua pria pasti menginginkanmu.”
Jari-jari Ratu mengepal erat di pinggir jendela. Tubuhnya gemetar. Kecemburuannya bukan hanya soal kecantikan, tapi juga soal hasrat. Ia membayangkan bagaimana para pria di istana pasti diam-diam memandang Putri Salju dengan nafsu. Ia membayangkan betapa mudahnya gadis itu membuat kontol pria tegang hanya dengan senyum polosnya. Sementara dirinya, meskipun tetap muda dan memeknya selalu rapat berkat sihir, harus menggunakan kekuasaan dan ancaman untuk mendapatkan kepuasan.
Semakin ia memandang Putri Salju, semakin ia merasa marah. Amarah itu bercampur dengan hasrat seksual yang liar dan gelap. Ia merasa perlu melampiaskan semuanya. Sekali lagi. Lebih besar. Lebih kasar. Lebih banyak.
Ratu berbalik dari jendela dengan gerakan kasar. Matanya menyala-nyala. Ia bertepuk tangan dengan keras.
Dua pelayan pria yang tadi ikut memperkosa wanita itu langsung masuk dan berlutut.
“Bawa dua puluh pria ke sini,” perintah Ratu dengan suara dingin dan penuh nafsu. “Pilih yang paling kuat, paling kasar, dan paling tahan lama. Para penjaga istana yang bertubuh besar. Aku tidak peduli siapa saja. Bawa mereka sekarang juga. Aku ingin mereka semua bercinta denganku secara liar. Sekarang.”
Kedua pelayan itu saling pandang sejenak, lalu langsung membungkuk hormat dan keluar dengan cepat untuk melaksanakan perintah.
Ratu berjalan ke tengah kamar. Ia melepaskan jubah transparannya sepenuhnya hingga jatuh ke lantai. Tubuh telanjangnya yang indah terpapar penuh. Payudaranya yang kencang dan berat bergoyang pelan. Pinggangnya ramping, pinggulnya lebar, dan di antara kedua pahanya, memeknya yang selalu rapat itu sudah basah karena kombinasi amarah dan nafsu yang membara.
Tak sampai sepuluh menit, pintu kamar terbuka lebar.
Dua puluh pria dewasa masuk berbaris. Mereka adalah penjaga istana dan pelayan pria pilihan — bertubuh kekar, tinggi, dan sudah terbiasa dengan perintah-perintah gelap Ratu. Kontol mereka sudah mulai tegang di balik celana saat melihat Ratu berdiri telanjang di tengah ruangan. Beberapa dari mereka sudah pernah melayani Ratu sebelumnya, tapi belum pernah sebanyak ini sekaligus.
Ratu memandang mereka dengan mata setengah tertutup, penuh gairah dan kekuasaan.
“Telanjangi diri kalian,” perintahnya. “Kemudian layani aku sekeras mungkin. Aku ingin dilupakan. Aku ingin tubuhku dihancurkan oleh kontol kalian. Gunakan aku sepuasnya. Jangan tanya. Jangan ragu. Lakukan.”
Dua puluh pria itu langsung membuka pakaian mereka. Dalam hitungan detik, dua puluh kontol tebal dan panjang sudah terpapar, sebagian besar sudah setengah tegang karena melihat tubuh Ratu yang sempurna.
Ratu tersenyum dingin. Ia berbaring di atas tempat tidur besar berukir emas, kaki dibuka lebar, memeknya yang rapat dan basah terpapar jelas.
“Mulai,” katanya.
Para pria langsung bergerak seperti binatang lapar.
Dua pria langsung naik ke atas tempat tidur. Yang satu langsung menindih Ratu dan menusukkan kontolnya yang sudah keras ke dalam memek Ratu dengan satu dorongan kasar. Karena memek Ratu selalu rapat berkat sihir, kontol itu terasa sangat ketat dan hangat. Ratu mengerang pelan saat merasakan peregangan yang nikmat.
Pria kedua langsung merangkak ke atas wajah Ratu dan memasukkan kontolnya ke dalam mulut Ratu. Ratu langsung menghisapnya dengan rakus, lidahnya melilit batang tebal itu sementara kontol lain sedang mengentot memeknya dengan kasar.
Lima pria lainnya langsung memegang tubuh Ratu. Dua di antaranya mengangkat kaki Ratu lebih tinggi dan lebih lebar, memberi akses lebih dalam bagi pria yang sedang mengentotnya. Yang lain mulai meremas payudaranya yang kencang dengan kasar, mencubit putingnya, bahkan menamparnya hingga memerah.
Ratu mengerang di balik kontol yang ada di mulutnya. Suaranya tertahan, tapi jelas terdengar nikmat dan marah sekaligus.
“Lebih keras…” gumamnya saat kontol di mulutnya sebentar keluar. “Entot aku lebih dalam. Gunakan tubuhku.”
Para pria tidak perlu disuruh dua kali.
Mereka bergantian dengan cepat. Setiap kali satu pria selesai menuangkan air maninya ke dalam memek Ratu, pria lain langsung menggantikan posisinya dan terus mengentot tanpa ampun. Memek Ratu yang tadinya rapat kini sudah membengkak dan penuh air mani, namun tetap basah dan sensitif. Air mani mengalir keluar setiap kali kontol baru masuk.
Beberapa pria mengangkat tubuh Ratu dan membaliknya. Ia sekarang berada dalam posisi doggy style di tengah tempat tidur, sementara satu pria mengentot memeknya dari belakang dengan sangat kasar, dan pria lain memasukkan kontol ke mulutnya dari depan. Dua pria lainnya meraih tangannya dan memaksa ia memegang kontol mereka, menggosokkannya dengan cepat.
Ratu merasa tubuhnya dipenuhi. Mulutnya penuh kontol, memeknya diisi terus-menerus, tangannya digunakan untuk melayani pria lain. Payudaranya bergoyang-goyang hebat setiap kali pinggul pria di belakangnya menghantam pantatnya dengan keras. Suara “plak-plak-plak” yang keras bercampur dengan erangan Ratu dan desahan para pria menggema di seluruh kamar.
Ia menikmati setiap detiknya.
Setiap kali ia membayangkan wajah Putri Salju yang polos di taman, ia justru memerintahkan para pria untuk lebih kasar.
“Tampar pantatku,” katanya dengan suara parau. “Cakar punggungku. Buat aku merasa sakit. Aku ingin melupakan wajah jalang kecil itu.”
Para pria menuruti. Pantat Ratu yang indah dan kencang menjadi merah karena tamparan. Punggungnya penuh cakaran. Air mani sudah menggenang di tempat tidur dan mengalir di paha Ratu.
Mereka berganti posisi berkali-kali. Ada yang mengentot memeknya sambil ia ditindih, ada yang memaksa ia naik ke atas salah satu pria dan menggoyang pinggulnya sendiri, ada yang menggunakan mulutnya secara bergantian. Beberapa pria bahkan saling bergantian memasukkan kontol ke dalam lubang yang sama dalam waktu singkat, membuat Ratu mengerang lebih kencang.
Setelah hampir satu jam, Ratu sudah kelelahan namun tetap bergairah. Tubuhnya berkeringat, rambutnya acak-acakan, memeknya merah, bengkak, dan terus-menerus mengeluarkan campuran air mani. Namun amarahnya sedikit mereda karena kepuasan seksual yang luar biasa.
Ia mendorong salah satu pria yang sedang mengentotnya dan bangkit perlahan. Air mani mengalir deras dari antara kedua pahanya. Ia berdiri di tengah dua puluh pria yang masih telanjang dan kontolnya masih tegang.
“Cukup untuk hari ini,” katanya dengan suara agak lelah tapi puas. “Kalian boleh pergi. Tapi ingat — jangan pernah bicara tentang ini kepada siapa pun.”
Dua puluh pria itu membungkuk hormat, mengenakan pakaian kembali, dan keluar dari kamar satu per satu.
Ratu berdiri sendirian di tengah kamar yang berantakan. Ia berjalan kembali ke jendela. Putri Salju sudah tidak terlihat di taman. Mungkin sudah masuk ke dalam istana.
Ratu tersenyum tipis. Tubuhnya masih berdenyut karena seks liar tadi, namun hatinya tetap dingin.
“Menikmati tubuhku sebanyak mungkin tidak akan menghilangkanmu, Putri Salju,” gumamnya pelan. “Tapi setidaknya… aku bisa berpikir lebih jernih sekarang.”
Ia mengusap pelan memeknya yang masih basah, lalu berbalik dan berjalan ke meja riasnya. Di sana sudah ada gulungan kertas dan tinta.
Saat itu juga, Ratu mulai menuliskan rencana pertamanya untuk menghilangkan Putri Salju.235Please respect copyright.PENANAfKqRURplnP


will be deducted