Rumah besar di kawasan elite Pondok Indah itu terasa lebih sepi sejak istri saya, Ratna, meninggal lima tahun lalu. Dulu setiap sudutnya dipenuhi tawa dan aroma masakan yang selalu membuat perut lapar sebelum waktu makan tiba. Sekarang hanya ada gema langkah kaki saya sendiri di lantai marmer yang dingin, suara AC yang mendesis pelan, dan sesekali dering notifikasi ponsel yang jarang saya hiraukan. Saya, Hendra Santoso, berusia lima puluh satu tahun, pengusaha properti yang sukses, tapi malam-malam panjang membuat saya merasa seperti orang asing di rumah sendiri.
3364Please respect copyright.PENANAcU7mcazf3b
Anak saya, Fajar, baru menikah tiga bulan lalu. Dia membawa istrinya, Alya Putri Maharani, tinggal di sini sementara. “Sementara” itu kata yang Fajar ucapkan sambil tertawa, tapi saya tahu mereka belum punya rumah sendiri. Bisnis start-up Fajar di bidang aplikasi keuangan masih butuh modal besar, dan saya dengan senang hati membiarkan mereka menempati sayap kanan rumah. Dua kamar tidur, satu ruang tamu kecil, dapur pribadi. Cukup mewah untuk pasangan baru.
3364Please respect copyright.PENANAuZayryihKH
Alya… nama itu saja sudah terasa manis di lidah. Pertama kali saya melihatnya di pelaminan, saya hampir tidak percaya. Gadis itu baru berusia dua puluh tiga tahun, tapi tubuhnya… ya Tuhan, tubuhnya seolah dipahat oleh dewa-dewi yang sedang iseng. Tinggi sekitar seratus enam puluh lima, kulit sawo matang mulus seperti satin yang baru disetrika, wajah oval dengan mata besar berwarna coklat gelap yang selalu basah seolah baru saja menangis bahagia. Bibirnya full, sedikit merenggut ke atas di ujung-ujungnya, memberi kesan selalu tersenyum tipis meski diam.
3364Please respect copyright.PENANA8yyfHaCr9w
Tapi yang paling menyiksa adalah lekuk tubuhnya. Payudaranya penuh, bulat, tegang, seolah menantang kain kebaya putih yang membungkusnya malam itu. Pinggangnya ramping sekali, seolah bisa digenggam dengan satu tangan, lalu mekar ke bokong yang montok, kenyal, menggoda setiap kali dia melangkah. Paha-pahanya indah, panjang, dan sepertinya sangat lembut. Saya ingat, saat dia duduk di kursi pelaminan, kain kebaya itu sedikit terangkat, memperlihatkan sepotong kecil paha mulus yang membuat napas saya tertahan. Saya cepat-cepat menunduk, pura-pura memeriksa sepatu.
3364Please respect copyright.PENANAaoeg3OlDjV
“Pak, ini Alya,” kata Fajar malam itu, suaranya penuh kebanggaan. “Cantik, kan?”
3364Please respect copyright.PENANAH0uRTQCgeH
Saya hanya tersenyum kaku. “Sangat. Selamat, Nak. Jaga dia baik-baik.”
3364Please respect copyright.PENANA7QhpqynUoW
Alya membungkuk sopan, suaranya lembut seperti embun pagi. “Terima kasih, Pak Hendra. Saya akan berusaha jadi menantu yang baik.”
3364Please respect copyright.PENANA95Qn0Euy0h
Tangan kami bersentuhan sepersekian detik saat dia menyalami. Hangat. Lembut. Dan aromanya… campur parfum floral ringan dengan sesuatu yang lebih primitif, seperti kulit yang baru mandi. Saya menarik tangan saya terlalu cepat, takut dia merasakan getar di ujung jari saya.
3364Please respect copyright.PENANAkeIqiiudxZ
Sejak malam itu, bayangan Alya tidak pernah meninggalkan kepala saya.
3364Please respect copyright.PENANA4j21Oa0p9s
---
3364Please respect copyright.PENANAniDX61z62v
Tiga bulan berlalu. Alya dan Fajar sudah pindah total ke sayap kanan. Setiap pagi saya bangun pukul lima, seperti biasa, untuk joging di sekitar kompleks. Ketika kembali, aroma kopi dan roti panggang sudah memenuhi dapur utama. Alya selalu bangun lebih awal.
3364Please respect copyright.PENANAStNEDW49hJ
“Selamat pagi, Pak,” sapa Alya suatu pagi, mengenakan kaos oversized putih yang jatuh longgar di bahunya, memperlihatkan tulang selangka yang anggun dan sepotong kecil dekolte. Rambutnya yang hitam legam masih basah, digelung seadanya di belakang kepala, menyisakan beberapa helai basah menempel di tengkuk. Celana pendek abu-abu melilit pinggang rampingnya, membiarkan paha mulusnya bebas. Saya harus memalingkan muka.
3364Please respect copyright.PENANA0QhvhHAg7x
“Pagi, Alya. Sudah masak?”
3364Please respect copyright.PENANAaeAqkBPg00
“Baru kopi dan telur orak-arik. Fajar masih tidur. Dia pulang larut tadi malam, rapat sampai jam dua.”
3364Please respect copyright.PENANATqH2PtrtiK
Saya duduk di meja marmer, mencoba fokus pada koran digital di tablet. Tapi mata saya terus melirik. Alya bergerak di dapur dengan keanggunan yang tidak disadari. Setiap kali dia meraih piring di rak atas, kaosnya terangkat sedikit, memperlihatkan garis pinggang yang dalam dan sepotong kecil kulit perut yang mulus. Putingnya… saya yakin dia tidak memakai bra. Dua titik kecil menonjol di balik kain tipis, menari setiap kali dia bergerak.
3364Please respect copyright.PENANAJN3GUdep9l
Saya menelan ludah.
3364Please respect copyright.PENANAOojPOFpzjA
“Pak, mau saya buatkan yang spesial? Saya bisa bikin nasi goreng spesial dengan telur mata sapi,” tawar Alya sambil menoleh, senyum tipis di bibirnya. Matanya menatap saya lurus, tidak ada rasa canggung.
3364Please respect copyright.PENANAJ5Sy5XLGKI
“Tidak usah. Kopi dan telur cukup.” Suara saya terdengar lebih serak dari yang saya maksudkan.
3364Please respect copyright.PENANA9BTBVThoIq
Alya tertawa kecil, suaranya seperti lonceng kecil. “Pak Hendra selalu bilang begitu. Padahal saya tahu Bapak suka yang pedas-pedas. Kemarin saya lihat Bapak makan sambal sampai tiga sendok.”
3364Please respect copyright.PENANAW2GGIzHLPU
Saya tersenyum kaku. “Kamu perhatikan sekali.”
3364Please respect copyright.PENANAa9Kpn82tRO
“Tentu. Saya menantu Bapak. Harus tahu selera mertua, kan?” Dia menghampiri meja, meletakkan piring di depan saya. Aromanya… ya ampun. Campuran sabun mandi vanilla, parfum ringan, dan sesuatu yang lebih manis, seperti kulitnya sendiri. Saat dia membungkuk untuk meletakkan piring, kaos oversized itu longgar di depan, memberi saya pandangan sekejap ke celah payudaranya yang dalam, bulat, dan seolah menunggu disentuh.
3364Please respect copyright.PENANAHAsXmrZG1C
Saya cepat-cepat menunduk ke piring. “Terima kasih.”
3364Please respect copyright.PENANAlUcIyUoItH
Dia duduk di seberang saya, menyilangkan kaki. Paha mulusnya saling bergesekan. Saya mencoba mengunyah telur, tapi rasa di mulut saya hambar. Semua indera saya terfokus pada gadis di depan saya.
3364Please respect copyright.PENANArauUrOn7sR
“Fajar bilang Bapak sering begadang karena kerja,” kata Alya tiba-tiba, suaranya lembut. “Bapak jangan terlalu keras. Umur sudah… eh, maksud saya, Bapak harus jaga kesehatan.”
3364Please respect copyright.PENANAxh47CzoUA8
Saya menatapnya. “Saya masih kuat, Alya. Jangan khawatir.”
3364Please respect copyright.PENANApUEM9kShZD
Dia menggigit bibir bawahnya, gerakan kecil yang membuat darah saya berdesir. “Saya tahu. Tapi… saya cuma… peduli.”
3364Please respect copyright.PENANA4mlCa6Uh6i
Kata “peduli” itu keluar pelan, hampir seperti bisikan. Matanya menatap saya lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di balik tatapan itu. Bukan hanya rasa hormat menantu. Ada rasa ingin tahu, atau mungkin… godaan yang dia sendiri tidak sadari.
3364Please respect copyright.PENANAb9BDmPVeBK
Saya berdiri terlalu cepat. “Saya mau mandi. Terima kasih sarapannya.”
3364Please respect copyright.PENANAhtJYdHhjLj
“Pak—”
3364Please respect copyright.PENANATC7W8oEvvM
Saya sudah melangkah keluar dapur sebelum dia selesai bicara. Di kamar mandi, saya mengunci pintu, menatap cermin. Wajah saya memerah. Napas saya memburu. Di bawah celana, ada ketegangan yang memalukan. Saya membasuh muka dengan air dingin berkali-kali, berbisik pada diri sendiri, “Dia menantu. Istri anakmu. Jangan gila.”
3364Please respect copyright.PENANAtALfpAzN0t
Tapi bayangan payudaranya yang penuh, puting yang menonjol di balik kaos, paha yang mulus… semuanya menempel di otak seperti luka yang tidak mau sembuh.
3364Please respect copyright.PENANApZPLMRrfMp
---
3364Please respect copyright.PENANAxs6go50Y5u
Malam itu Fajar pulang lebih awal. Kami makan malam bersama di ruang makan utama. Alya memasak ayam bakar kecap dengan sayuran tumis. Dia mengenakan dress longgar berwarna cream yang jatuh sampai di atas lutut, lengan pendek, dan sedikit longgar di dada. Setiap kali dia bergerak menyajikan makanan, kain itu bergoyang, memperlihatkan lekuk payudara yang berat dan indah.
3364Please respect copyright.PENANAZ2DpkSIA8m
“Enak sekali, Aly,” puji Fajar sambil mengunyah. “Kamu emang jago masak.”
3364Please respect copyright.PENANAf5WSrLWrVt
Alya tersenyum, pipinya merona. “Makasih, sayang. Nanti saya buatkan yang lain lagi.”
3364Please respect copyright.PENANAbD4C0d2gkr
Saya hanya mengangguk. “Ya, enak.”
3364Please respect copyright.PENANALg5m3YXqFC
Obrolan mengalir tentang bisnis Fajar, tentang rencana liburan ke Bali, tentang tetangga baru di kompleks. Alya banyak diam, sesekali tersenyum, tapi matanya sering menatap saya. Saya merasa seperti diintai. Atau mungkin saya yang terlalu sensitif.
3364Please respect copyright.PENANAlhNyqhfQn1
Setelah makan, Fajar bilang dia harus zoom meeting lagi. “Nanti malam lama, Yah. Aly, kamu jangan nungguin. Tidur aja.”
3364Please respect copyright.PENANAJxyPAggFmy
Alya mengangguk. “Oke.”
3364Please respect copyright.PENANAq5skyblY7w
Fajar pergi ke sayap kanan. Tinggal saya dan Alya di ruang keluarga. Televisi menyala, menayangkan drama Korea yang tidak saya perhatikan. Alya duduk di sofa seberang, kaki dilipat di bawah bokongnya, dress-nya naik sedikit, memperlihatkan paha dalam yang mulus.
3364Please respect copyright.PENANApGRj6qyj7E
“Pak,” kata Alya tiba-tiba, suaranya pelan.
3364Please respect copyright.PENANAPZZ5FW0LCN
“Ya?”
3364Please respect copyright.PENANAcJqrHCzPkD
“Boleh saya tanya sesuatu?”
3364Please respect copyright.PENANA3SKFTgqnJp
Saya menoleh. “Tentu.”
3364Please respect copyright.PENANA54wWXxk0Dq
Dia menggigit bibir lagi. Gerakan itu… saya ingin sekali mencium bibir itu sampai bengkak. “Bapak… pernah ngerasa… kesepian?”
3364Please respect copyright.PENANAtpYn957bNX
Pertanyaan itu menghantam saya seperti tinju. Saya terdiam. “Kenapa tanya begitu?”
3364Please respect copyright.PENANAeRvcTcB69P
“Karena… saya lihat Bapak sering duduk sendirian di beranda malam-malam. Merokok. Menatap langit. Saya… khawatir.”
3364Please respect copyright.PENANAMyrXGpfxZr
Saya menghela napas. “Saya sudah terbiasa, Alya. Lima tahun cukup lama untuk belajar hidup sendiri.”
3364Please respect copyright.PENANAfFJDv9itLw
Dia berdiri, berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat dress cream itu bergoyang, memperlihatkan bayangan payudaranya yang bergerak. Dia duduk di sofa yang sama dengan saya, hanya berjarak satu bantal. Aromanya langsung memenuhi hidung saya. Vanilla, kulit hangat, dan sesuatu yang lebih dalam… seperti nafsu yang dia tekan.
3364Please respect copyright.PENANAdGI1C3CTfP
“Saya juga pernah kesepian,” bisiknya. “Sebelum ketemu Fajar. Hidup di kos-kosan, kerja part-time sambil kuliah. Malam-malam panjang, tidak ada yang peduli.”
3364Please respect copyright.PENANAi7AfsIPqHg
Saya menatapnya. Dari dekat, kulitnya lebih sempurna. Ada tahi lalat kecil di atas bibir atasnya. Bulu matanya lentik. Dan dekoltenya… dari sudut ini, saya bisa melihat sepotong kecil payudara kirinya yang bulat, kulitnya mulus tanpa cela.
3364Please respect copyright.PENANAglpYAIn5s2
“Kamu sekarang punya Fajar,” kata saya, suara serak.
3364Please respect copyright.PENANAWy5ZEI0jZd
“Ya. Tapi… Fajar sering pergi. Rapat, meeting, klien. Kadang saya… merasa sendirian di rumah besar ini.”
3364Please respect copyright.PENANAqTtedp3pBx
Dia menunduk, jari-jarinya memainkan ujung dress-nya. Gerakan itu membuat dress naik sedikit lebih tinggi. Saya melihat sepotong kecil celana dalam hitam di antara pahanya. Napas saya tertahan.
3364Please respect copyright.PENANAGryvhS22tG
“Alya…”
3364Please respect copyright.PENANAmwZrdcVy9p
“Saya cuma pengen… ngobrol. Sama Bapak. Bapak baik. Bapak selalu dengar.”
3364Please respect copyright.PENANAsyfMcpp1xH
Dia menatap saya. Matanya basah. Bibirnya sedikit terbuka. Saya bisa melihat ujung lidahnya yang merah muda. Saya ingin sekali menjilat bibir itu. Saya ingin merasakan bagaimana payudaranya terasa di tangan saya, bagaimana putingnya mengeras di mulut saya, bagaimana dia mendesah saat saya—
3364Please respect copyright.PENANAF3j7yPlf2j
Saya berdiri tiba-tiba. “Sudah malam. Kamu harus istirahat.”
3364Please respect copyright.PENANAKqKn2iRAJs
Alya juga berdiri. Jarak kami hanya sehasta. Dada kami hampir bersentuhan. Saya bisa merasakan panas tubuhnya. Saya bisa melihat putingnya yang sudah mengeras di balik kain tipis. Dia tidak memakai bra. Jelas sekali.
3364Please respect copyright.PENANAG9Er2CZEcG
“Pak…” suaranya bergetar. “Jangan pergi dulu.”
3364Please respect copyright.PENANAiuBndKPE5Z
Saya menelan ludah. “Alya, ini tidak pantas.”
3364Please respect copyright.PENANAMJTfkIMQS4
“Apa yang tidak pantas?” Dia melangkah lebih dekat. “Saya cuma… ingin dekat. Sama mertua saya. Sama orang yang… baik ke saya.”
3364Please respect copyright.PENANA8NtGPPaGUW
Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh lengan saya. Saya mundur selangkah. “Cukup. Tidurlah.”
3364Please respect copyright.PENANAJtZHxYdTSk
Saya berbalik, melangkah cepat ke kamar saya di lantai atas. Jantung saya berdegup kencang. Di belakang, saya mendengar desahan pelan dari Alya. Bukan desahan sedih. Lebih seperti… frustasi.
3364Please respect copyright.PENANAPnlWlPMRTv
Di kamar, saya mengunci pintu, menyandarkan punggung ke dinding. Tangan saya gemetar. Di bawah celana, penis saya sudah tegang penuh, berdenyut nyeri. Saya tidak bisa menahannya. Saya masuk ke kamar mandi, membuka celana, dan memegang penis saya yang sudah basah di ujungnya. Saya mengocoknya dengan kasar, bayangan Alya memenuhi kepala: payudaranya yang penuh, puting coklat yang menonjol, paha mulus yang terbuka, vagina yang saya bayangkan basah dan sempit—
3364Please respect copyright.PENANA2s8KNF345c
Saya meledak dalam hitungan detik, air mani menyembur ke wastafel. Tubuh saya gemetar. Napas saya memburu. Malu. Marah. Dan… lapar.
3364Please respect copyright.PENANAEtBtgA1LYv
Saya membersihkan diri, lalu berbaring di tempat tidur. Tapi tidur tidak datang. Setiap kali saya menutup mata, saya melihat Alya. Senyumnya. Tubuhnya. Suaranya yang memanggil “Pak…” dengan nada yang terlalu intim.
3364Please respect copyright.PENANA7xV2iRyXGm
---
3364Please respect copyright.PENANAhtHY5ZoMFM
Pagi berikutnya, suasana berubah. Alya seolah lebih berani. Saat saya turun ke dapur, dia sudah menunggu dengan celemek kuning di atas kaos putih tipis dan celana pendek denim. Rambutnya tergerai, masih basah. Aromanya lebih kuat hari ini—seperti dia sengaja memakai parfum yang lebih sensual.
3364Please respect copyright.PENANAxG9zvuLbLZ
“Pagi, Pak,” sapa dia, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Saya buatkan bubur ayam spesial. Ada jahe, ada telur, ada kerupuk. Bapak suka, kan?”
3364Please respect copyright.PENANAkOYqs5QQq5
Saya mengangguk kaku. “Terima kasih.”
3364Please respect copyright.PENANAjd2wpy8eEx
Dia menyajikan bubur, lalu duduk di samping saya, bukan di seberang. Paha kami hampir bersentuhan. Setiap kali dia menggerakkan kaki, kulitnya bergesekan dengan celana saya.
3364Please respect copyright.PENANAMnOYftNpXT
“Fajar bilang dia ke Bandung hari ini sampai besok,” kata Alya sambil mengaduk buburnya. “Ada meeting investor. Jadi… kita berdua di rumah.”
3364Please respect copyright.PENANA9XipiSzuQB
Kata “kita berdua” itu keluar pelan, hampir seperti bisikan. Saya menatapnya. Dia menatap balik, tidak mengedip.
3364Please respect copyright.PENANAmSA68j0SSn
“Alya, saya ada rapat di kantor seharian.”
3364Please respect copyright.PENANAVz3IcfloAz
“Oh.” Dia terlihat kecewa sekejap, lalu tersenyum lagi. “Nanti malam Bapak pulang jam berapa? Saya masak yang enak. Atau… kalau Bapak capek, saya bisa pijit. Saya jago pijit, lho. Dulu sering pijit Mama.”
3364Please respect copyright.PENANA6sk3c1lvcl
Tawaran itu membuat darah saya menggelegak. Pijit. Tangan Alya di tubuh saya. Di bahu. Di punggung. Mungkin lebih bawah…
3364Please respect copyright.PENANALMPZtVHbHn
“Tidak usah,” kata saya cepat. “Saya bisa sendiri.”
3364Please respect copyright.PENANAoIPFfYGtl6
Dia tertawa kecil. “Pak Hendra selalu bilang begitu. Padahal… kadang orang butuh disentuh.”
3364Please respect copyright.PENANAPDQ1CcE0RS
Kata “disentuh” itu dia ucapkan sambil menatap bibir saya. Saya merasa seperti terbakar.
3364Please respect copyright.PENANABVsMBNE1OS
Saya buru-buru selesai makan, lalu pergi ke kantor. Seharian saya tidak bisa fokus. Setiap laporan, setiap meeting, wajah Alya muncul. Tubuhnya. Suaranya. Saya membayangkan dia di rumah sendirian, mungkin mandi, mungkin berbaring di sofa dengan kaos tipis, putingnya menonjol, tangannya mungkin… menyentuh dirinya sendiri sambil memikirkan saya.
3364Please respect copyright.PENANAf4roPQeDot
Saya pulang pukul tujuh malam. Rumah gelap, hanya lampu ruang keluarga yang menyala redup. Alya duduk di sofa, mengenakan satin nightgown pendek berwarna merah muda. Kainnya tipis sekali. Saya bisa melihat siluet tubuhnya dengan jelas—payudara yang berat, puting yang mengeras karena AC, pinggang ramping, lekuk bokong yang sempurna, dan di antara pahanya… bayangan gelap yang membuat saya gila.
3364Please respect copyright.PENANAAOIgMw96AZ
“Pak… sudah pulang,” sapa dia, berdiri. Nightgown itu jatuh longgar di bahunya, hampir terlepas. Satu tali sudah melorot, memperlihatkan bahu mulus dan sepotong kecil payudara.
3364Please respect copyright.PENANALiXtsYiUeg
Saya menelan ludah. “Sudah. Kamu belum tidur?”
3364Please respect copyright.PENANAmpvt5W0HH2
“Nungguin Bapak. Saya masak sop buntut. Masih hangat.”
3364Please respect copyright.PENANA34GK3Onjzy
Dia menghampiri. Setiap langkah membuat nightgown bergoyang, memperlihatkan paha dalam yang mulus. Dia berhenti di depan saya, terlalu dekat. Aromanya… kali ini bukan vanilla. Lebih seperti kulit hangat, sedikit manis, dan basah. Seolah dia baru mandi, atau… lebih dari itu.
3364Please respect copyright.PENANA77rIi7fJsG
“Pak,” bisiknya, menatap saya dari bawah. “Kemarin… saya minta maaf kalau saya keterlaluan. Saya cuma… kesepian. Dan Bapak… Bapak selalu bikin saya merasa aman.”
3364Please respect copyright.PENANATdjiCK44J7
Tangan saya mengepal di sisi tubuh. Saya ingin mendorongnya. Saya ingin menariknya ke dalam pelukan, merobek nightgown itu, mengisap payudaranya sampai dia menjerit, memasukkan jari ke dalam vaginanya yang saya yakin sudah basah, mendengar dia mendesah “Pak… lebih dalam…”
3364Please respect copyright.PENANAcTf3grNjfX
Tapi saya hanya bilang, “Tidak apa-apa. Ayo makan.”
3364Please respect copyright.PENANArDGu4IbZWm
Kami makan di meja. Alya duduk di samping lagi. Nightgown-nya naik saat dia duduk, memperlihatkan hampir seluruh paha. Saya mencoba fokus ke sop, tapi mata saya terus melirik. Putingnya jelas sekali di balik satin tipis. Dua puting coklat yang menonjol, seolah meminta dihisap.
3364Please respect copyright.PENANAF0UevmaIvd
Setelah makan, Alya berdiri untuk membereskan piring. Saat dia membungkuk ke wastafel, nightgown naik ke bokong. Saya melihat sepotong kecil bokongnya yang montok, kenyal, dan… dia tidak memakai celana dalam.
3364Please respect copyright.PENANAc0yLBEWVGr
Darah saya meledak.
3364Please respect copyright.PENANAPBZbfY220K
Saya berdiri, berpura-pura ke kamar mandi. Di sana, saya mengunci pintu, membuka celana, dan mengocok penis saya dengan kasar lagi. Bayangan bokong Alya, payudaranya, putingnya, vagina yang saya bayangkan basah dan berdenyut… semuanya membuat saya meledak dalam hitungan detik. Air mani menyembur ke dinding. Saya terengah-engah, malu, tapi lapar lebih dari sebelumnya.
3364Please respect copyright.PENANA2pGZNTo8w8
Ketika saya keluar, Alya sudah duduk di sofa lagi, kaki dilipat, nightgown naik tinggi. Dia menatap saya.
3364Please respect copyright.PENANA0hSfjpuFvY
“Pak… Bapak kenapa? Wajahnya merah.”
3364Please respect copyright.PENANAWXuBxhrQmM
“Capek,” saya berbohong.
3364Please respect copyright.PENANAM2PNy4VlY1
Dia berdiri, menghampiri lagi. Kali ini dia tidak berhenti. Dia berdiri sangat dekat. Dada kami hampir bersentuhan. Saya bisa merasakan putingnya menyentuh kemeja saya melalui kain tipis.
3364Please respect copyright.PENANAt1pGrPY3CA
“Pak…” suaranya bergetar, basah. “Saya… saya nggak bisa bohong lagi. Setiap kali Bapak dekat… tubuh saya aneh. Panas. Basah. Saya… saya takut.”
3364Please respect copyright.PENANA4OkveOHTHQ
Tangan saya terangkat sendiri, menyentuh pipinya. Kulitnya lembut sekali, hangat. Dia mencondongkan wajah ke telapak tangan saya, seperti kucing yang lapar.
3364Please respect copyright.PENANApSn9VDGX1W
“Alya… ini salah,” bisik saya, meski jari saya sudah mengusap bibirnya.
3364Please respect copyright.PENANAnyEfDJQTkw
“Saya tahu,” desahnya. “Tapi… saya nggak bisa berhenti mikirin Bapak. Malam-malam… saya sentuh diri sendiri sambil bayangin Bapak. Bayangin tangan Bapak di payudara saya. Bayangin mulut Bapak di… di bawah.”
3364Please respect copyright.PENANAiqCfZshgDu
Kata-kata itu menghancurkan sisa-sisa kontrol saya. Saya menariknya lebih dekat. Bibir kami hampir bersentuhan. Napas kami bercampur. Saya bisa merasakan getar di tubuhnya. Payudaranya menekan dada saya. Putingnya keras, menusuk.
3364Please respect copyright.PENANA6KNH7Q977Q
“Alya…”
3364Please respect copyright.PENANA7Mf9NdjlhH
“Tolong…” bisiknya, mata basah. “Cium saya. Sekali aja. Biar saya tahu rasanya.”
3364Please respect copyright.PENANAJWi4CvrZ5S
Saya menunduk. Bibir kami hampir menyatu. Saya bisa merasakan kehangatan napasnya. Saya bisa mencium aroma manis di mulutnya. Saya hampir… hampir…
3364Please respect copyright.PENANAa21zJVuONQ
Tapi tiba-tiba, ponsel di meja bergetar. Nada dering Fajar.
3364Please respect copyright.PENANAlz1xVFIwdX
Kami berdua membeku.
3364Please respect copyright.PENANAbYff2RDF7u
Alya mundur selangkah, wajahnya memerah. Saya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantung yang hampir meledak.
3364Please respect copyright.PENANAqRasK55N69
Ponsel terus bergetar. Nama “Fajar” terpampang di layar.
3364Please respect copyright.PENANA0qXT0GZdjt
Alya menatap saya, matanya penuh ketakutan dan… keinginan. “Pak… jangan angkat dulu.”
3364Please respect copyright.PENANAF2ZLr85knA
Saya menatapnya. Nightgown-nya sudah melorot lebih parah, hampir memperlihatkan seluruh payudara kirinya. Puting coklat yang mengeras menatap saya, basah oleh keringat tipis.
3364Please respect copyright.PENANAlBiGrJGCMJ
Saya mengulurkan tangan ke ponsel…
3364Please respect copyright.PENANAZjAJTxYyqc
“Pak… jangan angkat,” bisiknya lagi, suaranya serak, hampir putus. “Tolong… jangan.”
3364Please respect copyright.PENANAqpaF0SnqTF
Jari saya masih menggantung di atas tombol hijau. Saya bisa merasakan getaran ponsel itu di ujung saraf. Kalau saya angkat, Fajar akan mendengar napas saya yang memburu, akan mendengar desahan Alya yang terlalu dekat. Kalau saya tidak angkat…
3364Please respect copyright.PENANAUH6hvdgR36
Hujan di luar semakin deras. Butir-butir air menghantam kaca jendela seperti ribuan jari yang mengetuk, seolah alam ikut menyegel kami di dalam rumah besar yang tiba-tiba terasa terlalu kecil.
3364Please respect copyright.PENANAjJVZbmOCWz
Saya menekan tombol merah.
3364Please respect copyright.PENANADYo3TPyXap
Ponsel diam.
3364Please respect copyright.PENANAmXfKmQDTog
Keheningan yang menyusul lebih keras daripada getaran apa pun. Alya menghembuskan napas panjang, seolah baru saja diselamatkan dari jurang. Dadanya naik-turun cepat. Satin tipis itu bergoyang, memperlihatkan seluruh kontur payudaranya yang berat, indah, dan seolah siap meluap dari kain.
3364Please respect copyright.PENANApqkAs47Vy9
“Terima kasih,” desahnya. Suaranya bergetar. “Saya… saya nggak sanggup dengar suara Fajar sekarang. Nggak sanggup bohong.”
3364Please respect copyright.PENANASEitHxx3SW
Saya tidak menjawab. Mulut saya kering. Tangan saya masih terangkat di udara, seolah tidak tahu harus ke mana. Alya mengambil langkah kecil ke depan. Satu langkah saja. Dada kami kini bersentuhan. Putingnya yang keras menusuk kemeja saya melalui dua lapis kain. Panas. Nyata. Hidup.
3364Please respect copyright.PENANAuaCQI7kLCG
“Pak Hendra…” dia memanggil nama lengkap saya dengan nada yang belum pernah saya dengar. Lembut, basah, penuh permintaan. “Cium saya. Sekarang. Sebelum saya gila.”
3364Please respect copyright.PENANA06RJuSZQjl
Saya menunduk. Bibir kami bertemu.
3364Please respect copyright.PENANAWkRFMascyJ
Bukan ciuman lembut. Bukan ciuman penasaran. Ini ciuman yang sudah ditahan tiga bulan, yang sudah membara di setiap tatapan, setiap sentuhan tidak sengaja, setiap malam saya mengocok diri sendiri sambil membayangkannya. Bibir Alya hangat, basah, dan terbuka segera. Lidahnya menyambut lidah saya dengan lapar yang membuat lutut saya lemas. Saya mengerang ke dalam mulutnya. Tangan saya naik ke pinggangnya, merasakan satin tipis dan kulit panas di baliknya. Pinggangnya ramping sekali, seolah dibuat untuk digenggam dengan dua tangan saya.
3364Please respect copyright.PENANAUxZHKgVlMf
Alya melingkarkan lengan di leher saya, menarik saya lebih dalam. Payudaranya menekan dada saya. Saya bisa merasakan detak jantungnya yang kencang. Saya bisa merasakan putingnya yang menggesek kemeja saya, seolah ingin merobek kain itu.
3364Please respect copyright.PENANAq32WnuyAbm
Kami berciuman di tengah ruang keluarga, di bawah lampu redup, dengan hujan sebagai saksi. Lidah kami saling mengejar, basah, berisik. Alya mendesah ke dalam mulut saya setiap kali saya menggigit pelan bibir bawahnya. Desahan itu… ya Tuhan, desahan itu. Tinggi, getar, dan basah. Saya ingin mendengarnya sepanjang malam.
3364Please respect copyright.PENANAXHM5GYY05y
Tangan saya turun ke bokongnya. Satinnya sangat tipis. Tidak ada celana dalam. Telapak tangan saya langsung merasakan kenyal, bulat, dan hangat. Saya meremas. Alya mendesah lebih keras, mendorong bokongnya ke tangan saya.
3364Please respect copyright.PENANA1dnBj0tn71
“Pak… lebih kencang,” bisiknya di sela ciuman. “Remas… remas bokong menantu Bapak.”
3364Please respect copyright.PENANAixYRSqNxfG
Kata-kata kotor itu keluar dari mulut gadis yang biasanya sopan, dan justru membuat penis saya berdenyut nyeri di dalam celana. Saya meremas lebih kuat, memisahkan belahan bokongnya, merasakan celah hangat di antaranya. Alya menggelinjang.
3364Please respect copyright.PENANAIRdOJFr3dZ
Saya memutus ciuman, napas memburu. Bibirnya sudah bengkak, basah oleh liur kami. Matanya setengah terpejam, basah.
3364Please respect copyright.PENANAv8Eh2Sif92
“Kamar,” desah saya. “Sekarang.”
3364Please respect copyright.PENANAB2ncqYkq1E
Alya mengangguk cepat. Saya menarik tangannya, hampir menyeretnya ke tangga. Setiap langkah ke lantai atas terasa seperti perjalanan menuju neraka yang indah. Nightgown-nya naik saat dia menaiki tangga di depan saya. Saya melihat bokongnya yang telanjang, montok, bergoyang, dan celah gelap di antaranya yang sudah basah. Saya bisa melihat cairan tipis mengkilap di paha dalamnya.
3364Please respect copyright.PENANA9iRVQdf4oS
Saya tidak tahan. Di tengah tangga, saya menahan pinggangnya, mendorongnya ke dinding. Saya berlutut di anak tangga di bawahnya, mengangkat nightgown sampai ke pinggang, dan menatap langsung ke sumber godaan yang sudah membuat saya gila.
3364Please respect copyright.PENANA6CQ2FtXYDi
Vagina Alya… indah sekali. Bibir luarnya montok, berwarna pink kecoklatan, sudah mengkilap basah. Bibir dalamnya sedikit terbuka, memperlihatkan daging merah muda yang berdenyut. Klitomisnya bengkak, menonjol, seolah meminta dihisap. Aromanya… manis, asin, primitif. Aroma gairah murni.
3364Please respect copyright.PENANAM7ohR0lPYi
“Pak…” Alya mendesah, tangan memegang pegangan tangga. “Jangan lihat terus… saya malu…”
3364Please respect copyright.PENANAz4orh32hN5
“Malu?” saya menggeram. “Kamu basah banget, Alya. Basah buat mertua kamu sendiri.”
3364Please respect copyright.PENANA1fZuK5Y2jZ
Saya menjilat dari bawah ke atas, satu jilatan panjang yang membuat Alya menjerit pelan. Lidah saya merasakan kehangatan, kelicinan, dan rasa manis-asin yang langsung membuat kepala saya berputar. Saya menghisap klitorisnya. Alya menggelinjang hebat, paha gemetar.
3364Please respect copyright.PENANAIS1bXrEGZG
“Ahh… Pak… jilat… jilat terus…”
3364Please respect copyright.PENANASbhP7pEvRM
Saya menjilat lebih dalam, memasukkan lidah ke dalam lubangnya yang sempit, basah, dan berdenyut. Alya mendesahkan nama saya berulang-ulang, suaranya semakin tinggi. Tangan saya meremas bokongnya sambil lidah bekerja. Saya bisa merasakan cairan yang semakin banyak mengalir ke lidah saya, ke dagu saya.
3364Please respect copyright.PENANAoHOvxPD2yV
Saya berdiri lagi, menariknya ke kamar saya. Kami tumbang di atas ranjang king size yang sejak lima tahun hanya diisi oleh saya. Nightgown merah muda itu saya robek begitu saja. Kain satin maha mahal itu sobek di tengah dada, memperlihatkan payudara Alya sepenuhnya untuk pertama kalinya.
3364Please respect copyright.PENANAoCKuZ6bvf2
Ya Tuhan.
3364Please respect copyright.PENANAeCgLWYKJJB
Payudaranya… lebih indah dari semua fantasi saya. Besar, bulat sempurna, berat, dengan puting coklat tua yang mengeras panjang, dikelilingi areola yang agak gelap dan keriput karena gairah. Saya menunduk, menghisap puting kiri ke dalam mulut. Alya menjerit, punggung melengkung.
3364Please respect copyright.PENANAfpkwFAA443
“Pak… hisap… hisap kencang… gigit pelan…”
3364Please respect copyright.PENANAZ3Yhlla2my
Saya menghisap, menjilat, menggigit pelan. Tangan kanan saya meremas payudara kanan, memilin putingnya di antara jari. Alya menggelinjang di bawah saya, kaki terbuka lebar, menggesekkan vaginanya yang basah ke paha saya.
3364Please respect copyright.PENANA1xnRaYpgcy
“Pak… celana Bapak… buka… saya mau lihat…”
3364Please respect copyright.PENANALUsW3Lj6zp
Saya berdiri sejenak, melepas kemeja, celana, dan boxer dalam satu gerakan kasar. Penis saya melompat keluar, tegang penuh, urat-urat menonjol, ujungnya basah oleh precum. Alya menatapnya dengan mata membesar.
3364Please respect copyright.PENANAXn8DvKWMOh
“Besar…” bisiknya. “Lebih besar dari… dari Fajar…”
3364Please respect copyright.PENANAjPMxVCph0w
Kata itu membuat dada saya mengencang. Saya naik ke ranjang lagi, berlutut di antara pahanya yang terbuka. “Bilang lagi.”
3364Please respect copyright.PENANAeLDQ0zei5s
“Bapak lebih besar… lebih tebal… saya mau… saya mau dimasukin sama milik Bapak…”
3364Please respect copyright.PENANAttE8z5ipGa
Saya menunduk, menciumnya lagi sambil tangan saya turun ke vaginanya. Dua jari saya masuk dengan mudah karena basahnya. Alya mendesah panjang ke dalam mulut saya. Saya menggerakkan jari pelan, mencari titik yang membuatnya menggelinjang. Ketika saya menemukan, saya menekan, menggosok.
3364Please respect copyright.PENANAwxSfPXAjJU
“Ahhh… di situ… Pak… di situ terus…”
3364Please respect copyright.PENANAiASCgXBfJw
Saya menambah jari ketiga. Alya sudah basah sekali, cairan mengucur ke telapak tangan saya. Saya menghisap putingnya sambil jari bekerja. Tubuhnya tegang, paha bergetar.
3364Please respect copyright.PENANAT9jOR2GNxu
“Pak… saya mau… saya mau keluar…”
3364Please respect copyright.PENANAFoaBleGawG
“Keluarin,” desah saya di telinga. “Basahin jari mertua kamu. Keluarin semuanya.”
3364Please respect copyright.PENANA7OYvykLb4x
Alya meledak. Tubuhnya melengkung tinggi, vagina berdenyut kencang di sekitar jari saya, cairan menyembur basah ke tangan dan ke seprai. Dia menjerit nama saya, suara pecah, mata terpejam, bibir terbuka. Orgasmnya panjang, bergetar, indah.
3364Please respect copyright.PENANAVuIOAsnRNL
Saya tidak memberi waktu istirahat. Saya menarik jari, menghisapnya di depan matanya, lalu menunduk lagi ke antara pahanya. Saya menjilat bersih semua cairannya, menghisap klitorisnya yang masih berdenyut, memasukkan lidah lagi. Alya menggelinjang, tangannya memegang rambut saya, mendorong kepala saya lebih dalam.
3364Please respect copyright.PENANAJvKFuqtXeP
“Pak… jangan… terlalu sensitif… ahh… jilat… jilat terus…”
3364Please respect copyright.PENANAQ8fQGEvk2H
Saya menjilat, menghisap, menggigit pelan bibir vaginanya. Alya orgasme lagi hanya dalam hitungan menit, kali ini lebih kencang, cairan menyembur ke wajah saya. Saya menelan, menjilat, menikmati setiap tetes.
3364Please respect copyright.PENANAgO7Dq8PS19
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47

→ Request update