BAGIAN I: KERETA HARAPAN DAN MIMPI GADIS KOTA KECIL
Matahari Jakarta Barat bersinar tanpa ampun, memanggang aspal kawasan Kebon Jeruk hingga menciptakan fatamorgana di ujung jalan. Di tengah hiruk-pikuk klakson kendaraan dan debu metropolitan, seorang gadis muda melangkah keluar dari stasiun dengan sebuah koper kanvas berukuran sedang dan map plastik berisi ijazah Diploma Keperawatan dari sebuah universitas di kabupaten Jawa Tengah.
Gadis itu adalah Wulan Safitri. Usianya baru menginjak 22 tahun. Wajahnya adalah definisi murni dari kecantikan gadis desa; bersih, tanpa riasan berlebih, dengan sepasang mata bulat yang memancarkan kepolosan dan semangat yang menyala. Ia mengenakan kemeja katun berlengan panjang warna biru muda, rok panjang hitam, dan sebuah jilbab segiempat yang disematkan rapi menutupi dadanya. Meski pakaiannya sangat sederhana, bahan kain yang jatuh mengikuti gravitasi tak bisa menyembunyikan lekuk tubuh jam pasirnya yang terbentuk sempurna secara alamisebuah anugerah genetika yang belum ia sadari akan menjadi magnet mematikan di kota ini.
Wulan berteduh di bawah halte bus, mengusap keringat di dahinya dengan tisu. Ia mengeluarkan ponselnya yang layarnya sudah sedikit retak. Di layar utama ponsel itu, terpampang foto dirinya tersenyum lebar saat wisuda, didampingi oleh seorang pria berseragam polisi yang memeluk pinggangnya dengan protektif.
Pria itu adalah Briptu Dimas, kekasihnya. Mereka berkenalan melalui media sosial dua tahun lalu, dan pertemuan fisik pertama mereka terjadi di hari wisuda Wulan, sebuah momen yang terasa seperti dongeng bagi gadis desa itu. Namun setelah wisuda, Dimas sibuk dengan penempatannya di Polres Jakarta Barat, sementara Wulan bergelut dengan ujian kompetensi di kampung.
Rasa rindu dan tekad untuk menyusul sang kekasihlah yang membuat Wulan nekat mengirim puluhan lamaran ke rumah sakit di ibukota, hingga akhirnya, ia diterima di sebuah rumah sakit swasta elit di kawasan Kebon Jeruk.
"Mas Dimas, Wulan sudah sampai di Jakarta. Wulan lagi cari kost di sekitar rumah sakit tempat Wulan kerja besok," Wulan mengetik pesan teks itu dengan senyum yang merekah.
Pesan itu hanya menunjukkan tanda centang dua berwarna abu-abu. Wulan menghela napas pelan, mencoba memaklumi. "Pasti Mas Dimas lagi sibuk piket jaga. Nggak apa-apa, yang penting sekarang kita sudah satu kota. Wulan janji akan jadi perawat yang sukses buat Mas," gumam Wulan di dalam hatinya.
Ia menarik kopernya, berjalan menyusuri gang-gang di belakang gedung rumah sakit raksasa yang besok akan menjadi tempatnya mengabdi. Ia tidak mencari kemewahan, hanya sebuah kamar kost sederhana dengan kipas angin dan kasur busa yang cukup untuk merebahkan tubuhnya. Matanya menatap kagum pada menara kaca rumah sakit tersebut yang menjulang tinggi, memantulkan cahaya matahari sore.
Di mata Wulan, rumah sakit itu adalah kuil penyembuhan, tempat orang-orang berilmu menyelamatkan nyawa. Ia sama sekali tidak tahu, bahwa bangunan megah berlapis kaca itu sebenarnya adalah sebuah labirin dosa, di mana nyawa mungkin diselamatkan, namun jiwa dan kewarasan para penghuninya tengah membusuk dikoyak oleh birahi.
BAGIAN II: SANGKAR KPR DAN KHAYALAN SANG KEPALA RUANGAN
Jauh dari kemegahan Kebon Jeruk, di sebuah perumahan KPR bersubsidi di pinggiran Tangerang yang berbatasan dengan Jakarta, Siska Maharani duduk di meja makan plastik yang taplaknya sudah memudar.
Siska adalah Suster Senior sekaligus Kepala Ruangan Keperawatan di rumah sakit tempat Wulan akan bekerja. Di usianya yang menginjak 34 tahun, kemolekan Siska tidak memudar, justru semakin matang dan berbahaya. Ia mengenakan daster rumahan berbahan spandek yang menempel ketat di tubuhnya, menonjolkan belahan dadanya yang berlimpah dan bokongnya yang berisi. Wajahnya yang tirus dengan tulang pipi tinggi memancarkan aura sensualitas murni, ditunjang oleh lipstik merah yang seolah tak pernah absen dari bibirnya.
Namun, di balik auranya yang menggoda, mata Siska memancarkan kekosongan dan kekecewaan yang mendalam saat menatap sekeliling rumahnya. Cat dinding yang mulai mengelupas, plafon yang bernoda bekas bocor, dan suara televisi tabung yang menyiarkan acara murahan dari ruang tamu.
Di depan televisi itu, terbaring suaminya, Anton. Pria paruh baya dengan perut buncit dan kaus kutang yang lusuh itu sedang mendengkur pelan.
Siska menyesap es teh manisnya dengan getir. Sepuluh tahun yang lalu, ia menikahi Anton karena pria itu berpenampilan necis, membawa mobil, dan mengaku sebagai seorang Manajer di sebuah perusahaan properti. Siska yang saat itu baru merintis karir sebagai perawat, silau oleh ilusi kemapanan. Namun setelah anak pertama mereka lahir seorang anak laki-laki yang kini duduk di bangku kelas 5 SD kebenaran pun terungkap. Mobil itu adalah mobil pinjaman kantor, dan jabatan Anton hanyalah staf marketing biasa yang gajinya tak pernah cukup untuk menutupi gaya hidup Siska.
"Kalau saja dulu aku tidak buru-buru... aku pasti bisa mendapatkan dokter spesialis," desis Siska pelan, suaranya nyaris tak terdengar, matanya menatap tajam ke arah suaminya yang mendengkur.
Ia bangkit dari kursi, melangkah masuk ke dalam kamar mandinya yang sempit. Siska berdiri di depan cermin wastafel, menatap pantulan dirinya. Tangannya bergerak turun, membelai leher, meremas payudaranya sendiri dari balik daster, lalu mengusap lekuk pinggangnya.
Ia tahu betul value (nilai) dari tubuhnya. Di rumah KPR yang sumpek ini, ia hanyalah seorang istri pegawai rendahan yang frustrasi. Namun besok, saat ia mengenakan seragam perawat putihnya yang sengaja dikecilkan ukurannya satu nomor, ia adalah ratu.
Di rumah sakit itu, ia telah menemukan kompensasi atas penderitaan domestiknya. Skandal demi skandal dengan beberapa dokter residen, hingga manipulasi tagihan demi mendapatkan 'hadiah' dari pasien VIP, telah menjadi candu yang membuatnya merasa hidup. Ia mengubah kekecewaannya di rumah menjadi dominasi syahwat di ruang jaga.
"Besok ada anak baru yang masuk," batin Siska, mengingat jadwal shift yang ia susun kemarin. "Gadis daerah. Lugu dan belum terkontaminasi. Dia akan jadi tameng yang sempurna untuk menutupi jadwalku, atau mungkin... mainan baru untuk kuserahkan pada dokter-dokter itu demi mengamankan posisiku."
Siska menyeringai di depan cermin. Ia membasuh wajahnya, bersiap kembali memakai topeng perawat senior yang ramah, tegas, dan keibuan untuk menyambut hari esok.
BAGIAN III: RANJANG DINGIN DAN RAHIM YANG MENJERIT
Di sudut lain ibukota, di sebuah kompleks perumahan dinas militer yang tertata rapi dan steril, keheningan mencekik sebuah rumah bertipe 45.
Bella Novita, Suster Senior andalan Instalasi Gawat Darurat (IGD), berdiri mematung di depan jendela kamarnya, menatap rintik hujan sore yang mulai membasahi aspal kompleks. Bella adalah wanita berusia 30 tahun yang memancarkan kecantikan dingin. Tubuhnya tinggi semampai, atletis, dengan kaki jenjang yang membuatnya tampak seperti model runway yang salah memilih profesi. Wajahnya selalu datar, sangat jarang tersenyum, membuatnya disegani sekaligus ditakuti oleh perawat-perawat junior.
Ia menoleh ke arah ranjang berukuran Queen Size di kamarnya. Ranjang itu rapi, bersih, tak ada kerutan sedikit pun. Dan sangat dingin.
Sudah lima tahun Bella menikah dengan Kapten Yudha, seorang perwira menengah TNI yang sangat dihormati. Dari luar, mereka adalah pasangan impian; perawat cantik dan tentara gagah. Namun, realitas di balik dinding rumah dinas ini jauh lebih kelam dari kematian yang sering Bella saksikan di IGD.
Yudha tidak pernah menyentuhnya sejak malam pertama.
Bukan karena Yudha tidak mencintainya, melainkan karena sebuah rahasia kelam di masa pendidikan militernya. Yudha mengidap impotensi permanen akibat trauma, dan yang lebih mengerikan, suaminya itu adalah pelayan rahasia bagi seorang jenderal bintang dua yang memegang kendali atas karirnya. Pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak sosial, sebuah kedok ( cover ) untuk melindungi status Yudha dan jenderal tersebut dari kecurigaan institusi.
Bella menyentuh perut ratanya. Jari-jarinya yang lentik bergetar pelan. Di usianya yang menginjak kepala tiga, naluri keibuannya menjerit meronta-ronta. Ia sangat menginginkan seorang anak. Ia menginginkan sebuah nyawa yang tumbuh di dalam rahimnya. Namun takdir suaminya membuat hal itu menjadi kemustahilan yang absolut.
Air mata menetes di pipi pualam Bella. Ia segera menghapusnya dengan kasar.
Di balik sifat pendiam dan wajah dinginnya, Bella memendam sebuah gunung berapi birahi dan obsesi yang siap meledak. Ketidakmampuan suaminya telah merusak struktur psikologis Bella, memunculkan insting sosiopat dan fetish gelap di dalam dirinya. Karena ia tak bisa mendapatkan kehangatan di rumah, ia mengobservasi rasa sakit dan kenikmatan di rumah sakit.
Bella tahu rahasia Siska. Ia tahu rahasia dokter-dokter lain. Ia menyimpannya sebagai senjata.
"Jika suamiku tidak bisa memberikan benih untuk rahimku..." Bella berbisik pada bayangannya di kaca jendela, matanya memancarkan kekelaman yang mengerikan. "Maka aku akan mengambilnya dari pria paling berkuasa di rumah sakit itu. Dengan cara apa pun. Siapa pun yang menghalangiku, akan kuhancurkan secara medis."
Ia berbalik, melangkah menuju lemari, dan mulai menyetrika seragam putih IGD-nya. Ia harus tampil sempurna esok hari. Tampil sebagai perawat tanpa emosi, menunggu momen yang tepat untuk melampiaskan dahaga rahimnya.
BAGIAN IV: SANGKAR EMAS DUA DOKTER DAN PARADOKS KESUCIAN
Sementara Siska dan Bella bergelut dengan penderitaan kelas menengah mereka, dunia yang sepenuhnya berbeda terhampar di sebuah kafe VIP di lobi mall mewah kawasan Senayan.
Dua wanita duduk berhadapan, menikmati High Tea dengan secangkir Earl Grey dan deretan macaron warna-warni. Mereka adalah dr. Citra Kirana, Sp.B (Dokter Spesialis Bedah) dan dr. Salsa Widyaningrum, Sp.PD (Dokter Spesialis Penyakit Dalam).
Keduanya adalah primadona di rumah sakit Kebon Jeruk. Dokter wanita, cerdas, berasal dari keluarga konglomerat, dan mengenakan hijab yang sangat modis namun mencerminkan kelas sosial atas.
dr. Citra, di usianya yang ke-36, memancarkan pesona MILF yang luar biasa tajam. Hijab silk Turki-nya membingkai wajahnya yang arogan dan perfeksionis. Pakaian kasual sorenya sebuah tunik desainer yang diikat di pinggang tak mampu menyembunyikan payudaranya yang besar membusung dan pinggulnya yang lebar.
Di hadapannya, dr. Salsa yang berusia 35 tahun, tampil jauh lebih lembut. Ia mengenakan hijab syar'i yang menjuntai panjang menutupi dada. Wajahnya cantik teduh khas wanita keraton Jawa, selalu tersenyum keibuan. Namun, di balik tumpukan kain tebal itu, Salsa menyembunyikan postur tubuh yang luar biasa sintal dan montok, sebuah anugerah genetika yang membuat jas snelli-nya selalu terasa sempit.
Kedua dokter ini berbagi takdir yang mirip secara ironis. Suami mereka adalah Pejabat Eselon Dua di tingkat kota. Suami Citra di Dinas Pekerjaan Umum, sementara suami Salsa di Dinas Kesehatan. Mereka hidup di rumah seharga miliaran rupiah, diantar-jemput sopir, dan memiliki balita berusia 2 dan 3 tahun yang kini sedang diasuh oleh babysitter berbayar mahal di playground tak jauh dari kafe tersebut.
"Suamiku minggu ini dinas ke luar kota lagi, ke Bali," Citra membuka percakapan, mengaduk tehnya dengan anggun. "Entah rapat, entah main golf dengan kontraktornya. Aku sudah tidak peduli. Selama uang belanjaku tidak kurang dari ratusan juta sebulan, dia mau tidur dengan wanita mana pun di sana, aku tutup mata."
Salsa tersenyum lembut, namun matanya memancarkan kesepian yang sama. "Mas Bayu juga sama, Cit. Sibuk dengan urusan proyek tender rumah sakit daerah. Kita ini di rumah hanya berfungsi sebagai trofi pajangan untuk acara-acara Dharma Wanita."
Citra mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap sahabatnya itu. "Karena itulah kita butuh 'hiburan' di ruang jaga, bukan, Salsa?"
Mendengar kata 'hiburan', wajah teduh dr. Salsa memerah padam. Tangan halusnya meremas serbet di pangkuannya.
Di rumah sakit itu, publik mengenal dr. Citra sebagai dokter bedah yang sedingin es dan sangat kejam pada bawahan. Namun, rahasia terbesarnya adalah, Citra memiliki selera sadomasokis dan dominasi. Ia sangat menikmati ketidakberdayaan pria. Ia kerap menjadikan pasien pria di ruang VIP, atau perawat laki-laki yang membutuhkan promosi, sebagai mainan yang ia paksa tunduk di bawah otoritas medisnya.
Sementara dr. Salsa, sang dokter penyakit dalam yang disembah oleh pasiennya karena kelembutannya, mengidap kebalikan dari Citra. Salsa mengidap Stockholm Syndrome dan hasrat submissive (tunduk) yang akut. Kesempurnaan hidupnya di luar membuatnya muak, sehingga di dalam rumah sakit, ia kecanduan pada rasa direndahkan, diatur, dan disiksa oleh satu-satunya pria yang sanggup meruntuhkan ego ningratnya.
"Aku... aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Citra," bisik Salsa, air mata tiba-tiba menggenang di matanya yang teduh. "Setiap kali melihat jadwal piket malamku bersama beliau, perutku terasa mual tapi aku juga tidak bisa menahan rasa basah di bawah sini. Aku merasa sangat kotor mengenakan hijab ini saat masuk ke ruangannya."
Citra tersenyum miring, menepuk punggung tangan sahabatnya. "Tidak ada yang kotor, Salsa. Kita hanya dua wanita kaya yang berusaha tetap waras. Nikmati saja permainan Dokter Aryo. Toh, suami kita di luar sana mungkin melakukan hal yang lebih gila."
Dua wanita terhormat itu menyesap teh mereka, kembali memasang topeng kesempurnaan seorang ibu dan dokter elit, sementara otak mereka sibuk merancang alibi untuk jadwal jaga malam esok hari demi mereguk setetes adrenalin syahwat di ruang-ruang periksa yang sepi.
BAGIAN V: SANG ARSITEK NERAKA, DR. ARYO BIMO
Pukul 20.00 WIB. Mansion Mewah, Kawasan Pondok Indah.
Makan malam di ruang makan keluarga itu berjalan dengan sangat sempurna, seolah dipetik langsung dari brosur keluarga bahagia.
Di ujung meja marmer, duduklah dr. Aryo Bimo, Sp.KJ. Di usianya yang menginjak 52 tahun, gelar 'dokter spesialis kedokteran jiwa' hanyalah sebagian kecil dari identitasnya. Ia adalah Kepala Rumah Sakit, sang pemegang saham mayoritas, dan sutradara absolut dari teater kemunafikan ini.
Waktu seolah menolak untuk merusak fisiknya. Aryo adalah manifestasi dari Silver Fox. Rambutnya yang mulai dihiasi uban di bagian samping justru menambah karisma mematikannya. Di balik kemeja polo mahalnya, tubuhnya sangat kekar, berotot tebal, dan tinggi tegap bak gladiator yang rajin menghabiskan waktu di gym pribadi. Rahangnya tegas, dan tatapan matanya sedingin es namun sanggup menelanjangi rahasia terdalam lawan bicaranya.
Di sekeliling meja, duduk istri sahnya yang masih sangat cantik dan terawat di usia akhir empat puluhan, serta dua orang anak kembar mereka yang sedang menjalani kepaniteraan klinik (koas) untuk meneruskan jejak ayah mereka.
"Pa, rumah sakit Papa sepertinya butuh tambahan alat CT Scan baru," ucap putra sulungnya antusias di sela makan malam.
"Semuanya sudah Papa atur, Nak. Kalian fokus saja pada stase kalian. Belajar yang benar agar kelak pantas mewarisi kerajaan Papa," jawab dr. Aryo, suaranya sangat tenang, berwibawa, dan kebapakan.
Istrinya tersenyum bangga menatap suaminya. Tidak ada satu pun dari keluarganya yang tahu identitas asli pria yang duduk memimpin doa sebelum makan tadi.
Setelah makan malam selesai, dr. Aryo mengunci diri di ruang kerja pribadinya. Ia menuangkan segelas Bourbon, duduk di kursi kulit besarnya, dan menyalakan layar monitor raksasa di dinding. Monitor itu menampilkan puluhan feed kamera CCTV dari rumah sakitnya. Namun, CCTV ini bukanlah CCTV standar keamanan; ini adalah kamera-kamera tersembunyi yang ia pasang sendiri di ruang-ruang jaga, ruang ganti perawat, dan kamar VIP tertentu.
Aryo menyesap minumannya. Otak sosiopatnya bekerja dengan ritme yang menakutkan.
Rumah sakit ini bukanlah sekadar bisnis baginya. Ini adalah laboratorium psikologis pribadinya. Ia mempekerjakan Siska karena ia tahu janda berstatus itu butuh uang dan pelampiasan. Ia menempatkan Bella di IGD untuk memelihara monster dingin di dalam diri perawat itu. Ia menjerat dr. Salsa dalam jaring dominasinya, mencuci otak wanita keraton itu dengan teknik hipnoterapi hingga Salsa memuja rasa sakit yang Aryo berikan. Dan ia membiarkan dr. Citra berkuasa, karena Aryo menikmati menonton pertunjukan sadis dokter bedah itu dari layar monitornya.
"Besok, ada perawat baru yang masuk," gumam Aryo saat melihat data HRD di komputernya. Matanya menatap foto pasfoto Wulan Safitri. Wajah desa yang lugu berbalut hijab.
Senyum mengerikan terukir di bibir sang psikiater. Ia telah membaca profil Wulan. Gadis muda, jauh dari keluarga, datang ke Jakarta demi seorang polisi berpangkat rendah. Sebuah target yang terlalu empuk.
"Aku akan menghancurkan kepolosannya, bukan dengan kekerasan, tapi dengan membuatnya meragukan kewarasannya sendiri. Aku akan membuatnya memohon untuk dihancurkan," batin Aryo.
Sang dewa rumah sakit telah menjatuhkan vonisnya, merancang skenario penderitaan bagi sang gadis desa bahkan sebelum kakinya menginjak lobi rumah sakit.
BAGIAN VI: PENJAGA GERBANG DUNIA BAWAH
Di lapisan hierarki yang jauh di bawah dr. Aryo, namun memegang kekuatan operasional yang tak terbantahkan di malam hari, duduklah dua sosok penjaga gerbang neraka.
Di sebuah warung kopi remang-remang dekat kawasan kontrakan padat penduduk di pinggiran Jakarta Barat, Pak Darman dan Pak Yanto duduk menghembuskan asap rokok kretek mereka.
Keduanya adalah pria paruh baya yang usianya hampir menyentuh kepala lima. Namun jangan tertipu oleh usia mereka. Pak Darman, sang Komandan Satpam, memiliki tubuh raksasa, perut yang keras seperti drum, dan otot kawat liat yang dihiasi tato pudar di lengannya. Di sebelahnya, Pak Yanto, sang Satpam Shift Malam, bertubuh lebih gempal namun tak kalah gahar, dengan otot lengan yang membesar seolah siap mematahkan leher siapa pun.
"Jadi, besok ada perawat baru dari kampung, Man?" tanya Yanto, matanya yang keranjang berkilat mesum di bawah cahaya lampu lima watt.
"Iya, anak baru. Masih segar," jawab Darman, suaranya serak berat. Ia meminum kopi hitamnya dalam satu tegukan.
Kedua pria ini memiliki sejarah panjang. Sepuluh tahun yang lalu, sebelum rumah sakit megah itu berdiri, tanah tersebut adalah pasar tradisional yang kumuh. Darman dan Yanto adalah rival, preman penguasa pasar yang sering bentrok memperebutkan lapak. Namun ketika pasar itu digusur oleh konsorsium dr. Aryo, kedua preman ini ditawari 'pencucian dosa' dengan diangkat menjadi kepala keamanan setempat demi meredam gejolak warga.
Kini, naluri premanisme mereka telah berevolusi menjadi pemerasan berkerah biru.
Darman memegang kendali atas ruang kontrol CCTV resmi rumah sakit. Ia tahu persis siapa dokter residen yang meniduri suster di ruang arsip, ia tahu persis perselingkuhan-perselingkuhan kecil yang terjadi di sudut-sudut tangga darurat. Ia mengumpulkan rekaman itu, menggunakannya sebagai alat blackmail (ancaman). Bukan untuk uang, melainkan untuk 'upeti syahwat'. Suster-suster junior yang tertangkap basah, terpaksa melayani nafsu beringas dan kasar Darman agar karir mereka tidak hancur.
Sementara Yanto, adalah anjing pelacak Darman. Dengan sifatnya yang pendiam namun mengintimidasi, Yanto rajin berpatroli di malam hari, menyusuri koridor kamar mayat dan basement logistik, mencegat perawat yang lengah atau menakut-nakuti mereka hingga mereka terpaksa mencari perlindungan di pelukannya yang menjijikkan.
"Jangan buru-buru kau garap anak baru itu, To," peringat Darman. "Biar dia masuk ke perangkap Si Siska dulu. Kalau dia sudah mulai bikin salah, baru kita sergap. Gadis kampung itu bakal nangis-nangis minta ampun, dan di situlah kita masuk sebagai 'dewa penolong'-nya."
Keduanya tertawa serak. Di bawah seragam safari biru tua mereka, jantung preman pasar itu masih berdetak, menunggu mangsa-mangsa suci yang lengah di shift malam.
BAGIAN VII: PION TERENDAH DI PAPAN CATUR DOSA
Pukul 22.00 WIB. Basement Rumah Sakit.
Malam telah larut, namun kehidupan di lapisan paling bawah rumah sakit itu tak pernah berhenti. Di ruang istirahat Cleaning Service (OB/OG) yang terletak di ujung basement dekat gudang limbah medis, dua orang petugas sedang beristirahat.
Ayu, seorang gadis berusia 19 tahun lulusan SMA dari sebuah kota kecil di Jawa Barat, sedang duduk memakan mi instan cup. Ia baru bekerja di sini selama tiga bulan. Di luar, Ayu terlihat seperti Office Girl yang sangat lincah, cekatan, dan lugu. Seragam birunya yang berbahan tipis menempel ketat, mencetak tubuh mungilnya yang padat berisi, dengan bokong bulat menantang dan payudara yang baru mekar, menjadikannya pemandangan segar di basement yang pengap.
Namun, kepolosan Ayu hanyalah kedok. Gadis ini mengidap kelainan voyeur (obsesi mengintip). Selama tiga bulan bekerja, ia telah menemukan jalan-jalan tikus, celah ventilasi, dan sudut-sudut buta CCTV yang memungkinkannya mengintip kegiatan para dokter dan suster. Ia telah melihat dr. Citra menghukum perawat laki-laki di ruang VIP, dan ia telah melihat Siska bercumbu dengan dokter residen. Sensasi mengintip rahasia orang-orang elit itu memompa adrenalinnya.
"Kamu jangan keluyuran malam-malam kalau lagi shift, Yu," tegur sebuah suara berat dari ambang pintu.
Mas Hendra, OB senior berusia 40 tahun, masuk ke dalam ruangan. Hendra berstatus duda tanpa anak. Ia adalah suami dari mendiang kerabat jauh Ayu, yang membawa gadis itu ke Jakarta setelah istrinya meninggal untuk memberinya pekerjaan.
Di balik seragam OB-nya yang kusam karena keringat, tubuh Hendra sangat kekar, berotot kering yang terbentuk dari kerja fisik berat selama bertahun-tahun, dengan kulit tembaga eksotis yang memancarkan kejantanan murni. Ia adalah pria oportunis bermuka dua. Di depan manajemen, ia sangat sopan. Namun di belakang, ia adalah 'pelayan rahasia' bagi dokter-dokter wanita kesepian atau suster senior yang membutuhkan pelampiasan instan dan brutal tanpa ikatan emosional di ruang pantry. Keperkasaannya sering menjadi perbincangan diam-diam dalam kode-kode rahasia para perawat.
"Aku cuma ke toilet kok, Mas Hendra," jawab Ayu berbohong, menyembunyikan senyum nakalnya. Ia baru saja kembali dari mengintip sebuah 'kegiatan' di ruang radiologi.
Hendra menatap Ayu dengan mata yang menyipit, sorot matanya yang liar mengukur tubuh gadis muda itu. Ia tahu Ayu mulai mengetahui rahasia-rahasia rumah sakit ini. Dan Hendra tahu, cepat atau lambat, rasa penasaran gadis itu akan menyeretnya masuk langsung ke dalam permainan, dan Hendra siap menjadi pria pertama yang menghancurkan kepolosannya saat hari itu tiba.
"Besok pagi-pagi, kamu standby di lobi. Ada perawat baru yang mau orientasi. Kamu bantu bawakan barang-barangnya ke ruang loker," perintah Hendra, menyalakan rokoknya.
"Siap, Mas," jawab Ayu. Mata gadis muda itu berbinar. Mangsa baru, aktor baru di panggung teater dosa ini. Ayu tak sabar melihat akan jadi seperti apa perawat baru itu nanti.
BAGIAN VIII: PENGANTAR MENUJU NERAKA
Wulan Safitri akhirnya menemukan sebuah kamar kost kecil dengan harga terjangkau di sebuah gang sempit, hanya berjarak satu kilometer dari rumah sakit.
Kamar itu hanya berisi kasur lantai tipis dan sebuah lemari plastik. Wulan meletakkan kopernya, membuka jendela untuk membiarkan angin malam Jakarta yang pengap masuk.
Ia merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur. Ponselnya berbunyi. Tanda centang biru. Dimas, kekasih polisinya, telah membaca pesannya, namun tak kunjung membalas.
"Mungkin dia sudah tidur karena kelelahan patroli," Wulan kembali mencoba membesarkan hatinya. Ia memeluk ponsel itu di dadanya.
Gadis itu memejamkan mata, memanjatkan doa pada Tuhan agar hari pertamanya besok dilancarkan. Ia berdoa agar bisa menjadi perawat yang baik, membantu orang sakit, dan segera bisa hidup bahagia bersama kekasihnya di kota besar ini.
Wulan tertidur dengan senyum yang damai. Ia sama sekali tidak tahu, bahwa doa sucinya itu tidak akan pernah menembus langit Kebon Jeruk.
Di atas sana, di balik jendela kaca rumah sakit yang menjulang membelah awan malam, dr. Aryo Bimo sedang menatap layar monitornya dengan segelas anggur di tangan. Di lorong-lorong sepi, Siska dan Bella sedang merajut jaring manipulasi mereka. Di ruang ganti, Darman dan Yanto sedang mengasah taring mereka. Dan di rumah-rumah mewah mereka, Citra dan Salsa sedang menunggu pagi untuk kembali merendahkan diri mereka.
Rumah Sakit Penuh Desah itu sedang bernapas, berdenyut, dan bersiap menyambut kedatangan mangsa terbarunya. Besok, Wulan akan melangkah melewati pintu kaca otomatis itu, dan saat pintu itu tertutup di belakangnya, pintu menuju neraka kewarasan akan terbuka lebar menyambutnya.
Malam di Barat Jakarta semakin larut, menyembunyikan segala kemunafikan yang akan segera meledak di bawah lampu operasi.
(Bersambung ke Bab 2...)
ns216.73.217.14da2

will be deducted