Pagi yang cerah di perumahan elite itu selalu diawali dengan rutinitas yang teratur. Sinar matahari menyusup melalui celah gorden kamar utama, membangunkan Zahira dari tidur lelapnya. Wanita berusia 38 tahun itu menggeliat pelan. Kulitnya yang masih sekencang wanita usia tiga puluhan berkilat diterpa cahaya pagi. Ia bangkit, merapikan daster sutranya yang sedikit tersingkap, mengekspos paha pualamnya yang tak pernah absen dirawat.
Di sampingnya, Hafiz, sang suami yang mapan dan berwibawa, masih mendengkur halus. Zahira tersenyum simpul. Hidupnya nyaris sempurna. Ia memiliki suami sukses, rumah mewah, dan anak-anak yang membanggakan: Marwah yang telah berkeluarga, Najwa si mahasiswi kedokteran yang cantik jelita, dan Zaidan, si bungsu yang menggemaskan.
Setelah mandi dan membalut tubuh moleknya dengan pakaian rumah yang elegan namun tetap memperlihatkan siluet payudaranya yang penuh Zahira melangkah ke dapur. Ia menyiapkan sarapan dengan cekatan. Aroma nasi goreng dan kopi menyebar ke seluruh penjuru rumah.
Di meja makan, keluarga itu berkumpul. Hafiz yang tampan dengan setelan kantornya, Najwa yang rapi dengan hijab dan kacamata khas mahasiswi pintar, serta Zaidan yang asyik dengan serealnya.
"Hari ini Ustadz Qosim datang jam berapa, Ma?" tanya Hafiz sambil menyeruput kopinya.
Mendengar nama itu, Zahira menghentikan kunyahannya. "Seperti biasa, Pa. Ba'da Asar."
Hafiz mengangguk puas. "Syukurlah. Jarang-jarang ada guru ngaji yang sabar mengajari anak sekecil Zaidan. Beliau itu orang yang sangat berilmu. Dulu waktu Papa masih muda, beliau sering menasihati Papa."
Zahira hanya tersenyum tipis. Di mata suaminya, Ustadz Qosim adalah sosok tua yang alim dan bersahaja. Namun, insting kewanitaan Zahira menangkap sesuatu yang berbeda. Setiap kali pria tua itu menatapnya, ada kilatan gelap yang tersembunyi di balik senyum ramahnya. Tatapan yang menelanjangi. Tatapan yang membuat bulu kuduk Zahira sesekali meremang, entah karena risih... atau karena ada secuil hasrat terpendam dalam dirinya yang merasa tersanjung masih diinginkan oleh pria lain di usianya yang tak lagi muda.
Sementara itu, di rumahnya yang kumuh di pinggiran kompleks, Ustadz Qosim tengah mengisap rokok kreteknya dalam-dalam. Asap mengepul menutupi wajahnya yang keriput dan penuh noda hitam. Ia duduk di kursi reyot, matanya menatap tajam ke arah sebuah foto yang ia ambil diam-diam dari balik pagar rumah Hafiz.
Foto itu menampilkan Zahira yang sedang menyiram tanaman, mengenakan daster yang lekukannya mencetak jelas bokong sintalnya.
"Cih," Ustadz Qosim meludah ke tanah. "Hafiz... Hafiz. Punya istri semolek ini kok dibiarkan saja. Percuma kaya kalau istrimu kesepian."
Tangan keriputnya merogoh bagian bawah sarungnya, mengusap kasar kejantanannya yang perlahan terbangun hanya dengan melihat foto buram itu. Di kampung asalnya, ia memang pernah diusir karena skandal asusila. Gelar 'Ustadz' yang disandangnya hanyalah topeng untuk menutupi tabiat aslinya yang maniak seks.
"Lihat saja nanti, Zahira," gumamnya, bibirnya yang menghitam menyeringai buas. "Tunggu sampai suamimu lengah. Akan kubuat tubuh sucimu itu merangkak memohon di bawah kakiku. Dan setelah kau takluk, anak gadismu, Najwa... akan menyusul."
Di sisi lain kota, di sebuah gedung perkantoran mewah, Prof. Dr. dr. Wardjito Brotoseno atau yang akrab disapa Prof Jalaludin tengah duduk di kursi kulit kebesarannya. Pria berusia 75 tahun itu memutar cincin akik hijau di jari manisnya. Di atas mejanya, berserakan berkas-berkas rahasia tentang 'Proyek Hasrat Senyap'.
Ia adalah pimpinan organisasi rahasia 'Akik Merah', sebuah sindikat konglomerat yang mengendalikan prostitusi kelas atas dengan tema-tema khusus.
" Zahira..." desis Prof Jalaludin, matanya menatap foto kelulusan Zahira belasan tahun lalu yang masih disimpannya. "Dulu kau menolakku mentah-mentah. Kau memilih Hafiz yang miskin itu. Sekarang, aku yang menguasai suamimu. Dan segera... aku akan menguasaimu seutuhnya."
Prof Jalaludin terkekeh, suara tawa yang serak dan menggema di ruangan kedap suara itu. Ia tahu, rencananya sudah matang. Ustadz Qosim adalah pion yang sempurna. Pria tua miskin yang haus harta dan selangkangan itu akan dengan mudah disetir untuk menghancurkan pertahanan keluarga Hafiz dari dalam.
Papan catur telah digelar. Pion-pion telah digerakkan. Zahira dan Najwa, dua mawar indah dari keluarga terhormat itu, tidak menyadari bahwa mereka sedang diincar oleh serigala-serigala tua yang lapar. Kehidupan mereka yang damai, rutinitas mereka yang suci, tak lama lagi akan dirobek paksa oleh nafsu, pengkhianatan, dan skenario kelam dari para pria yang bertopeng agama dan kekuasaan.
Di ruang tamu rumahnya, Najwa sedang membalas pesan dari Tariq, kekasihnya. Pemuda hukum yang tampan, cerdas, dan alim. Najwa tersenyum membayangkan masa depan yang cerah bersama Tariq. Ia tak pernah tahu, bahwa sang kekasih, dalam diamnya, juga mulai tersiksa oleh bayang-bayang kemolekan ibunya sendiri.
Kehancuran itu... hanya tinggal menunggu waktu.
ns216.73.216.133da2

will be deducted