Bu Riska muncul dari belakang sambil ketawa-ketawa, "Wah tuh si Yudi sampe nggak bisa ngomong!" Dia nyodorin jari ke mulutku yang masih terbuka lebar. Bu Amelia perlahan jalan mendekat, masih malu-malu nutupin bagian tubuh tertentu. "Kamu suka lihat aku kayak gini?" bisiknya sambil berdiri tepat di depan aku. Wangi parfumnya bikin pusing, campuran bunga dan sesuatu yang manis. Aku cuma bisa manggut pelan, takut kalau ngomong nanti suaranya kedengeran kayak anak puber.
460Please respect copyright.PENANABv1zM58rZ8
Tiba-tiba Bu Riska nyelonong di samping Bu Amelia, udah ganti pake lingerie yang sama, tapi dia sama sekali nggak malu-malu. "Kalau aku gimana dong?" godanya sambil muter-muter kayak model. Bedanya, Bu Riska lebih berani pamer bentuk tubuhnya yang jamglass itu. Aku jadi bingung mau liat yang mana, Bu Amelia yang malu-malu tapi seksi banget, atau Bu Riska yang pede banget pamer semua kelebihan tubuhnya. "Kalian... kalian berdua cantik banget," akhirnya aku bisa ngomong, suaranya serak kayak habis nangis.
460Please respect copyright.PENANAuOGjJJL60G
Aku terdiam beberapa detik terlalu lama, mulutku terbuka tapi tak keluar suara. Bu Amelia yang biasanya kalem malah semakin penasaran, matanya berbinar penuh tanya. "Kamu kenapa diam terus?" godanya sambil menggeser badan sehingga lingerie putih itu semakin menekankan lekuk tubuhnya. Bu Riska langsung nyerocos tanpa basa-basi, "Aku nggak puas sama jawaban kamu tadi yang cuma bilang cantik-cantik doang. Coba review dong, menurut kamu kami berdua ini kayak apa?" Suaranya setengah menggoda setengah serius, sementara tangannya dengan bangga meraba pinggang rampingnya sendiri.
460Please respect copyright.PENANAthcsSKXw9R
Aku menelan ludah, mencoba mencari kata-kata yang tepat tapi yang keluar justru pujian mentah tentang tubuh mereka. "Bu Riska... tubuh kamu itu proporsional banget, dari atas sampai bawah seperti jam pasir," aku mulai dengan suara serak, "dan kulit sawo matang kamu bikin semakin eksotis." Bu Riska langsung tersipu senang, tapi Bu Amelia mendesah kecil seperti menuntut perhatian yang sama. "Kalau Bu Amelia... seperti boneka porselen, putih mulus dan rambut hitam panjangnya bikin kayak putri dalam dongeng," lanjutku sambil mata tak sengaja nyasar ke belahan dada mereka berdua. Mereka tersenyum girang seperti anak SMA dapat hadiah valentine, pipi memerah tapi mata berbinar puas.
460Please respect copyright.PENANAos1WlSoXSZ
"Kamu mau nggak kalau kami berdua jadi ibu tiri kamu?" tiba-tiba Bu Riska melontarkan pertanyaan itu dengan polosnya, seperti menawarkan bakso tambah kuah. Bu Amelia langsung menimpali dengan suara kecil tapi jelas, "Iya, mau nggak?" Matanya berkilau penuh harap. Aku bingung setengah mati, kenapa harus jadi ibu tiri pakai lingerie seperti ini? Tapi dari tadi aku terus menelan ludah melihat dua wanita seksi berdiri begitu dekat, aroma parfum mereka bercampur jadi satu. Aku sadar mungkin sejak lama mereka memang menyimpan perasaan khusus padaku, hanya saja baru sekarang berani menunjukkan sejelas ini.
460Please respect copyright.PENANA2eaco3lq56
Bu Riska tak sabaran mendekatkan wajahnya sampai aku bisa melihat bayangan bulu matanya yang lentik di bawah lampu. "Kami udah sering ngobrol berdua tentang kamu lho," bisiknya sambil tangannya iseng memainkan kancing bajuku yang sudah reyot. Bu Amelia mengangguk pelan, rambut hitamnya jatuh menutupi sebelah wajahnya yang semakin merah. "Kamu itu... spesial banget buat kami," lanjut Bu Amelia dengan suara halus yang bikin dadaku berdebar kencang. Aku baru menyadari bahwa tangan mereka berdua sekarang sudah merayap ke pahaku, sentuhan yang seharusnya tidak pantas tapi entah kenapa terasa begitu nikmat.
460Please respect copyright.PENANAczSBpL7qhK
"Kami nggak akan ganggu kuliah kamu," Bu Riska berbisik sambil bibirnya nyaris menempel di telingaku, "Cuma... kamu mau nggak kadang-kadang begini berdua sama kami?" Nafasnya hangat di kulit membuatku menggigil. Bu Amelia menambahkan dengan suara semakin kecil, "Kamu boleh bilang tidak... tapi kami berharap jawabannya iya." Keduanya sekarang memandangku dengan tatapan yang membuatku merasa seperti burung kecil di hadapan kucing. Aku tahu ini salah, tapi godaan dua wanita cantik yang memandangku dengan penuh kerinduan seperti ini terlalu berat untuk ditolak mentah-mentah.
460Please respect copyright.PENANAbDBR6Fijrg
Aku diam seribu bahasa, mulutku terbuka tapi tak keluar suara. Bu Amelia yang biasanya kalem malah semakin penasaran, matanya berbinar penuh tanya. "Kamu kenapa diam?" godanya sambil menggeser badan sehingga lingerie putih itu semakin menekankan lekuk tubuhnya.
460Please respect copyright.PENANAUZEJRnakGO
Aku bingung setengah mati saat Bu Amelia bertanya lagi dengan nada penasaran, "Memang boleh punya dua ibu tiri? Apa boleh?" Aku sendiri nggak tau hukumnya gimana, cuma ngomong asal aja karena panik. Bu Riska langsung mendekat dengan senyum nakal, pahanya yang hangat menempel di lututku. "Kalau kamu mau kenapa nggak? Ibu tiri kan bukan ibu kandung," bisiknya sambil tangannya merayap ke pundakku. "Jadi kalau suka sama suka, kamu boleh kok punya ibu tiri semau kamu." Suaranya meyakinkan banget kayak lagi nawarin es krim gratis.
460Please respect copyright.PENANAyX4xjKdQ4Y
Aku ngerasa keringat dingin mulai mengucur di punggung, jantung berdebar kayak drum band. Bu Amelia yang biasanya kalem malah nambahin, "Kami janji nggak bakal ganggu kuliah kamu." Matanya berbinar penuh harap sambil tangannya iseng mainin rambutku yang pendek. Aku nelen ludah, ngerasa tenggorokan kering banget. Mereka berdua sekarang berdiri terlalu dekat, aroma parfum mereka campur aduk jadi satu di hidungku.
460Please respect copyright.PENANAceqsjTmi6e
Bu Riska tiba-tiba nyengir lebar kayak dapat ide gila. "Kamu mau tes dulu nggak jadi anak kami?" tanyanya sambil jarinya nunjuk ke dirinya dan Bu Amelia. Aku bengong, "Tes... tes apa?" Bu Amelia langsung nutupin mulut sambil ketawa kecil, mukanya merah banget. Bu Riska malah tambah semangat, "Tes kayak ibu dan anak dong! Kamu panggil kami 'Bunda' dulu, terus kami peluk kamu kayak anak sendiri." Aku langsung terbatuk-batuk kaget, pipi panas kayak abis makan cabe.
460Please respect copyright.PENANAGxCSxc06t2
Tangan Bu Riska udah narik-narik lenganku kayak anak kecil minta permen. "Ayo dong cuma sekali! Panggil aku 'Bunda Riska' dulu," godanya sambil mukanya mendeketin wajahku. Bu Amelia yang di sebelah malah tersipu-sipu, tapi matanya juga penasaran banget. Aku ngerasa kayak kijang yang dikepung singa, nggak bisa kabur mana bisa nolak. "B-Bunda Riska..." bisikku pelan kayak orang kesurupan.
460Please respect copyright.PENANA9gOONzWmuG
Eh tau-tiba Bu Riska langsung teriak girang kayak menang undian, langsung memelukku kuat-kuat sampai aku hampir nggak bisa napas. "Anakku manis banget!" teriaknya sambil mukanya nempel di pipiku. Bu Amelia yang liatin adegan ini malah cemberut dikit. "Aku juga mau dengar!" protesnya sambil mukanya merah merona. Aku ngerasa kayak boneka yang dioper-operin, tapi entah kenapa di dalem hati ada bagian kecil yang seneng diperhatiin kayak gini. "B-Bunda Amelia..." aku bisikin lagi sambil nunduk malu.
460Please respect copyright.PENANAPcWgk3Q7bv
Mereka langsung melonjak kegirangan seperti anak kecil dapat mainan baru waktu aku manggil "Bunda". Aku jadi mikir, apa wanita seusia mereka suka banget dipanggil begitu sama lelaki yang mereka suka? Tiba-tiba muncul ide nakal di kepalaku, gimana kalau aku panggil lebih manis? "Bunda sayang... bunda cantik..." aku coba bisikin pelan, lebih iseng aja sih. Reaksinya bikin aku kaget, Bu Riska langsung memelukku erat sambil terkikik-kikik, pipinya merah padam. Bu Amelia malah mendesah panjang, matanya berbinar kayak dapat berlian. Mereka berdua meleleh kayak es krim di terik matahari, sampai aku bingung ini masih hubungan tetangga apa udah masuk pacaran.
460Please respect copyright.PENANA1Pphzsk8dK
"Aduh kamu manis banget panggil aku kayak gitu!" Bu Riska langsung nyium pipiku dengan cepat, tangannya gak berhenti mengelus-elus punggungku. Bu Amelia yang biasanya lebih kalem malah ikutan nakal, bisik-bisik di telingaku, "Panggil aku bunda sayang lagi dong..." Suaranya setengah malu setengah pengen, bikin jantungku berdebar kencang. Aku mulai ngerasa kayak main api, semakin aku kasih panggilan manis, semakin mereka berdua lengket dan manja.
460Please respect copyright.PENANAfr3cvjTbVp
Tiba-tiba Bu Riska narik-narik tanganku sambil tersenyum nakal, "Kalau kamu panggil aku bunda cantik lagi, aku kasih hadiah spesial nih." Matanya berkedip-kedip penuh arti, bikin aku penasaran tapi sekaligus deg-degan. Bu Amelia yang denger langsung cemberut, "Jangan mau diperdaya hadiah dia, lebih baik aku yang kasih sesuatu lebih bagus." Mereka berdua kayak berebut perhatianku, padahal cuma gara-gara panggilan "bunda" ditambah embel-embel manis. Aku jadi mikir, apa hubungan kita sekarang udah gak normal? Tapi entah kenapa aku sendiri juga ngerasa seneng diperhatiin kayak gini.
460Please respect copyright.PENANAIkELnq71LY
Aku coba panggil lagi lebih lembut, "Bundaaa..." sambil pura-pura manja kayak anak kecil. Efeknya langsung kelihatan, Bu Amelia langsung peluk aku dari belakang, dagunya nempel di bahuku. Bu Riska gak mau kalah, langsung duduk di pangkuanku sambil bilang, "Kamu sekarang anak kesayangan kami ya." Rasanya aneh campur aduk, di satu sisi aku tau ini salah, tapi di sisi lain ada perasaan hangat yang udah lama gak aku rasain.
460Please respect copyright.PENANAkFoulz6wxZ


will be deducted