[JOSEON, 1700]
154Please respect copyright.PENANAmfwCpoomse
Ara menggerakkan jemari tangannya perlahan dengan kesadaran yang masih setengah timbul. Kepalanya yang masih terasa sakit dipenuhi bayangan perkelahian. Pedang dan darah. Itu semakin membuat kepalanya berdenyut nyeri. Perlahan dibukanya sepasang matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah tali yang mengikat kedua pergelangan tangannya dengan kuat.
Melihat itu, panik langsung menyerbunya tanpa ampun.
Kemudian, diangkatnya kepalanya yang tertunduk. Dia melihat si laki-laki dan si perempuan yang sedang memperhatikannya dengan seksama. Ara bergerak memundurkan tubuhnya agar menjauh dari kedua orang itu.
"Kamu bukan salah satu dari mereka. Kamu siapa?' tanya si perempuan.
Gua nggak boleh bersuara.154Please respect copyright.PENANAfyIKjEcqcM
Gua nggak boleh mati dulu.154Please respect copyright.PENANAYSwrxi4Yyr
Diam. Diam.
Ara berusaha menenangkan diri sendiri.
"Jawab, kamu siapa?" paksa si laki-laki yang melangkah maju.
Mati gua.154Please respect copyright.PENANAP75TiiGFaJ
Mati gua.
"Jawab!" lanjut si laki-laki tampak tidak sabar sambil memperhatikan pedang yang ada di tangan kirinya.
Melihat itu, Ara terbayang kembali pedang dan darah. Kepalanya nyeri lagi hingga tidak mampu menahannya dan terkulai lemas. Dia kembali pingsan.
"Cukup, dia tidak sadarkan diri lagi." Seru si perempuan.
"Pakaiannya cukup aneh. Sebenarnya dia siapa? Dari mana asalnya? Bahasanya juga aneh. Kamu ingat tadi dia bilang apa? Ba-Bali?" kata si laki-laki sambil mengerutkan dahi.
"Yang pasti dia tidak berbahaya," jawab si perempuan.
"Dari mana kamu bisa tahu kalau dia tidak berbahaya? Dia orang asing! Bahkan wajahnya berbeda dengan rakyat kita." Protes si laki-laki.
"Kamu tidak lihat? Dia saja tidak mampu melihat pedang dan darah," jelas si perempuan. "Sepertinya dia memang bukan rakyat kita." Lanjutnya dengan lirih, lalu ditatapnya si laki-laki yang juga menatapnya balik. Kemudian, keduanya memandangi Ara yang tidak sadarkan diri dalam diam.
154Please respect copyright.PENANAqy8x4GyVKR
^ ^ ^
154Please respect copyright.PENANAxpkcYuPMgj
"Kamu yakin dengan semua ini?" tanya si laki-laki.
Si perempuan menganggukkan kepala yakin. Mendengar itu, si laki-laki menoleh, melihat ke arah Ara yang terbaring di tempat tidur tertutupi selimut. Si perempuan sudah menggantikan pakaian Ara dengan pakaian yang sama persis dengan miliknya. Seluruh tubuh Ara juga sudah dibasuhnya dengan bersih.
"Cantik, bukan?" tanya si perempuan antusias.
Si laki-laki hanya menghembuskan napas berat.
"Jika Putri Yi Ara masih ada, mungkin sudah sebear dia sekarang." Lanjut si Perempuan.
Si laki-laki tampak sedih mendengarnya lalu membuang pandangan.
Si perempuan menatap si laki-laki dengan lekat.
"Kamu yang berjanji tidak akan menyakiti yang baik," seru si perempuan pelan. "Bukan salahmu kita kehilangannya. Kamu sudah melakukannya dengan baik. Putri Yi Ara pasti tahu itu. " Lanjutnya.
Kata-kata itu mampu membuat sepasang mata si laki-laki merah dan berkaca-kaca.
Ketika itu, Ara membuka mata perlahan.
"Kamu sudah bangun?" tanya si perempuan berhati-hati.
Mendengar suara itu, Ara langsung duduk lalu waspada melihat si laki-laki dan si perempuan yang tengah menatapnya khawatir. Ara berusaha mundur hingga punggungnya mengenai dinding sambil menangani ketakutannya.
"Jangan takut. Kami tidak akan menyakitimu," lanjut si perempuan dengan lembut.
Kenapa bahasanya susah dimengerti, sih?154Please respect copyright.PENANAQQILLWRbVn
Terlalu jadul.154Please respect copyright.PENANAXjNafY5MOU
Goryeo? Joseon?
Si perempuan memberikan meja kecil berisi makanan di dekat Ara yang masih ketakutan. Ara menatap makanan itu dengan ragu. Ketika merasakan ada helaian rambut panjangnya di sekitar pipi, panik kembali menyerangnya. Dilihatnya pakaian yang dikenakannya bukan lagi celana jeans hitam polos dan kaos oblong oversize yang dibalut jaket denim senada.
Ara baru sadar bahwa hijabnya sudah tidak ada di kepalanya. Dia pun menoleh ke segala arah mencari hijabnya dengan panik.
"Kamu mencari sesuatu?" tanya si laki-laki.
Melihat itu, si perempuan langsung paham. Dia berdiri mengambilkan hijab milik Ara di ujung ruangan lalu menyerahkannya pada Ara. Ara segera menutupi rambut dan kepalanya dengan hijabnya. Hijab pashmina hitam polos miliknya itu kembali menutupi rambut dan kepalanya cukup sempurna meskipun hanya diikatnya dengan asal, karena dia tidak tahu di mana jarumnya berada.
Si laki-laki dan si perempuan saling pandang merasa aneh dengan sikap Ara.
"Kenapa rambut indahmu harus ditutupi?" tanya di laki-laki berhati-hati.
Gua cuma tahu dia tanya kenapa, tapi nggak tahu apa yang dia tanyain. 154Please respect copyright.PENANAfL16qxmFIv
Ah, ngeselin...
Ara hanya bungkam sambil melihat si laki-laki dan si perempuan penuh waspada.
"Kenapa rambut indahmu..." si laki-laki mengulangi pertanyaannya perlahan sambil menunjukkan bahasa isyarat memegang rambutnya sendiri. "...harus ditutupi?"
Ah, kenapa rambut gua di tutupi?154Please respect copyright.PENANAuKgNYUvKUw
Ya, jelaslah, gua islam.
Ara tidak merespon pertanyaan si laki-laki. Dia terus bungkam dan masih ketakutan.
"Kamu aman di sini. Jangan khawatir. Makanlah dulu, setelah itu istirahat lagi. Jika membutuhkan sesuatu, panggil kami." Kata si perempuan sambil menunjuk ke ruangan sebelah.
Ara tetap tidak merespon apa pun.
Kedua orang itu pun keluar dari kamar yang ditinggali Ara.
Beberapa saat Ara hanya membeku di tempatnya. Setelah merasa aman dan tidak mendengar percakapan kedua orang itu, dia bergegas mengambil jaketnya yang ada di ujung ruangan lalu membuka jendela. Dia keluar dengan hati-hati agar tidak membuat suara. Yang dilihatnya hanya tembok batu bata yang tidak rapi yang berdiri hanya se-dadanya. Dia berusaha menaikinya dengan susah payah dan jatuh di baliknya karena gagal menjaga keseimbangan tubuh gemuknya.
Matanya langsung bertemu dengan beberapa orang yang melewati jalan di sana. Mereka semua berpakaian sama seperti kedua orang tadi. Bahasa mereka juga sama. Semua bangunan rumah di sana minim dan terbuat dari kayu. Sama persis seperti yang ada di drama-drama kolosal Korea. Orang-orang yang berlalu-lalang berbisik sambil memandanginya aneh.
"Sebenarnya ini di mana? Kenapa gua bisa ada di sini? Mimpi? Ini di Indonesia atau di Korea?" tanyanya pada diri sendiri dengan lirih.
Ketika itu, matanya menangkap dua orang laki-laki berkumis dan berbadan tinggi besar mengenakan baju besi seperti prajurit membawa pedang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Melihat pedang itu, napasnya menjadi sesak. Bayangan pembantaian pedang dan darah memenuhi isi pikirannya. Dadanya sakit tidak terkira. Dipeganginya dadanya yang sakit. Napasnya yang sesak membuatnya lemas.
Dua laki-laki prajurit berpedang itu berjalan mendekati tempatnya.
Ara semakin kesulitan bernapas. Kedua kakinya pun tidak mampu lagi menopang beban tubuhnya sendiri.
Semakin lama, dua laki-laki prajurit itu semakin mendekat.
Ya Allah, kalau ini cuman mimpi, tolong bangunin Ara.154Please respect copyright.PENANA7D5xVCZuDj
Kalau ini nyata, tolong bantu Ara melewatinya. 154Please respect copyright.PENANAbf6bjdhHlr
Dan tolong bantu Ara kembali.154Please respect copyright.PENANAovzE1Htjng
Tolong, kali ini kirim bantuan-Mu.154Please respect copyright.PENANANTXmbve9ZK
Hamba-Mu yang lemah ini butuh bantuan-Mu.154Please respect copyright.PENANA8oPlqkZExU
Aamiin.
154Please respect copyright.PENANAannkGijfxV
154Please respect copyright.PENANAdo37QDaFS6
154Please respect copyright.PENANAi3DtZzmE6S
Bersambung...
154Please respect copyright.PENANA95cBdKcwo6
154Please respect copyright.PENANAtp2NicY0kA
154Please respect copyright.PENANAFpfalNPQ4Q
154Please respect copyright.PENANAPF41iGIfRy
154Please respect copyright.PENANA3Lw0f0yxTC

→ Request update