6850Please respect copyright.PENANAn6k10DXaFF
Ridwan sudah tiga tahun menjadi sopir pribadi Bu Rani. Usianya 32 tahun, tubuhnya kekar karena sering angkat beban di gym, kulit sawo matang, dan wajahnya tampan sederhana. Ia diam-diam menyukai majikannya yang cantik dan kaya raya itu. Bu Rani, 38 tahun, adalah seorang pengusaha sukses yang baru saja bercerai. Tubuhnya montok sempurna: payudara besar ukuran E yang selalu terlihat menonjol di balik kemeja ketat, pinggang ramping, bokong bulat yang bergoyang setiap kali berjalan, dan paha mulus yang sering terpampang saat ia memakai rok pendek. Yang membuat Ridwan semakin gila adalah sikap Bu Rani yang terbuka dan binal. Ia sering mendengar gosip dari asisten rumah bahwa Bu Rani suka ganti-ganti pria, tapi akhir-akhir ini… Bu Rani semakin sering memanggil Ridwan ke kamarnya.
Malam itu, jam 11 malam, hujan deras mengguyur Surabaya. Ridwan baru saja mengantar Bu Rani pulang dari pesta bisnis. Ia masih mengenakan seragam sopir hitam rapi ketika Bu Rani memanggilnya dari dalam rumah mewah dua lantai itu.
“Ridwan, masuk ke kamar utama sekarang juga!” suara Bu Rani terdengar tegas tapi penuh nafsu dari interkom.
Ridwan menelan ludah. Lagi… Bu Rani pasti lagi horny. Suaminya dulu nggak pernah bisa puasin dia. Sekarang aku yang jadi pelampiasannya. Ia naik ke lantai dua, jantungnya berdegup kencang.
Di dalam kamar yang mewah dengan lampu temaram, Bu Rani sudah duduk di tepi tempat tidur king-size. Ia masih memakai gaun pesta hitam yang ketat, belahan dada rendah memperlihatkan hampir seluruh payudaranya yang putih montok. Rok gaunnya sudah naik sampai paha atas.
“Tutup pintunya, Ridwan,” perintah Bu Rani sambil tersenyum nakal. “Malam ini aku butuh kamu banget. Suami sialan itu sudah nggak bisa kasih aku kepuasan. Kamu… kamu selalu siap kan?”
Ridwan mengangguk, suaranya sedikit gemetar. “Siap, Bu. Ridwan selalu siap melayani Ibu.”
Bu Rani berdiri, mendekati Ridwan, dan langsung meremas kontolnya dari luar celana. “Bagus. Kontolmu sudah ngaceng dari tadi ya? Aku bisa rasain. Lepas semua bajumu. Cepat.”
Ridwan buru-buru membuka kemeja, celana, hingga ia berdiri telanjang di depan majikannya. Kontolnya sudah tegang keras, panjang 18 cm, tebal, dan berurat. Bu Rani memandanginya dengan mata lapar.
“Wah… kontol sopirku memang paling enak,” kata Bu Rani sambil menjilat bibirnya. Ia mendorong Ridwan duduk di sofa panjang di sudut kamar, lalu berlutut di depannya. “Malam ini aku mau mulai dengan mulutku dulu. Kamu diam saja dan nikmati.”
Bu Rani membuka mulutnya lebar, langsung menelan kontol Ridwan hingga ke tenggorokan. Suara isapan basah langsung terdengar.
“Ngghhh… Bu Rani… enak sekali…” erang Ridwan sambil memegang rambut majikannya.
Bu Rani mengangkat kepalanya sebentar, lidahnya masih menjilat ujung kontol. “Diam! Kamu cuma pelampiasan aku. Jangan berani-berani perintah aku.” Lalu ia kembali mengisap lebih rakus, kepalanya naik-turun cepat, ludahnya menetes ke bola Ridwan. Ia sesekali menjilat bola-bola itu dan menggosok kontol dengan kedua tangannya yang lembut.
Ridwan menahan napas. Bu Rani benar-benar binal… mulutnya panas dan licin sekali. Aku nggak tahan lama.
Setelah sepuluh menit mengisap tanpa henti, Bu Rani berdiri. Ia melepas gaunnya dengan satu gerakan, memperlihatkan tubuh telanjang sempurna. Payudaranya besar dan kencang, puting cokelatnya sudah tegang. Memeknya yang dicukur bersih sudah basah mengkilap.
“Naik ke tempat tidur. Sekarang aku mau kamu jilat memekku sampai aku muncrat,” perintah Bu Rani sambil berbaring telentang dan membuka paha lebar-lebar.
Ridwan langsung menunduk di antara paha majikannya. Lidahnya menyusuri celah memek Bu Rani yang sudah banjir. Ia mengisap klitorisnya kuat-kuat, lalu memasukkan lidahnya ke dalam lubang yang panas.
“Aaaahhh… ya… jilat lebih dalam, Ridwan! Kamu sopir yang pintar jilat memek majikanmu!” erang Bu Rani sambil menggoyang pinggulnya ke wajah Ridwan. Tangannya menekan kepala Ridwan lebih dalam. “Ahh… ahh… jangan berhenti! Aku mau keluar… aaaahhhhh!!”
Bu Rani orgasme pertama kali. Cairannya menyembur ke mulut Ridwan. Tubuhnya kejang-kejang, payudaranya bergoyang hebat.
“Bagus… sekarang giliran kamu ngentot aku,” kata Bu Rani sambil masih terengah-engah. Ia membalik posisi menjadi doggy style, bokongnya yang montok terangkat tinggi. “Masukkan kontolmu yang besar itu. Entot memek majikanmu yang binal ini!”
Ridwan memegang pinggul Bu Rani, menempelkan kepala kontolnya ke lubang memek yang licin, lalu mendorong masuk dengan satu hentakan kuat.
“Fuuuhhh… enak sekali, Bu… memek Ibu sempit dan panas banget!” erang Ridwan.
Bu Rani mengerang keras. “Ya… entot lebih keras! Kamu sopirku, tapi malam ini kontolmu milik memekku! Plok plok plok plok!”
Ridwan menggenjot dengan ritme cepat dan dalam. Setiap hentakan membuat bokong Bu Rani bergoyang dan suara tabrakan memenuhi kamar. Ia menampar bokong majikannya beberapa kali hingga memerah.
“Plak! Plak!”
“Ahh! Enak! Tampar lagi, Ridwan! Aku suka kasar!” jerit Bu Rani.
Mereka berganti posisi berkali-kali dalam ronde pertama ini. Dari doggy ke missionary sambil Bu Rani memeluk leher Ridwan dan menciumnya rakus. Lidah mereka saling menari. Lalu Ridwan duduk di tepi tempat tidur, Bu Rani naik ke pangkuannya dan menggoyang pinggulnya liar seperti penari.
“Kontolmu menggesek titik G-ku… aku mau keluar lagi… aaaahhh!!” Bu Rani orgasme kedua kalinya, memeknya berdenyut kuat menggigit kontol Ridwan.
Ridwan tak tahan lagi. “Bu… Ridwan mau keluar…”
“Keluar di dalam! Isi memek majikanmu dengan sperma sopirnya!” perintah Bu Rani.
Dengan erangan panjang, Ridwan menyemburkan sperma panasnya banyak sekali ke dalam rahim Bu Rani. Jet demi jet memenuhi memeknya hingga meluber keluar.
Mereka ambruk sebentar, tapi Bu Rani belum puas. “Ini baru ronde pertama. Mandi dulu sebentar, lalu kita lanjut di kamar mandi.”
Di kamar mandi mewah dengan shower rain, Bu Rani berdiri di bawah guyuran air hangat. Ia membungkuk, kedua tangannya menumpu dinding.
“Ridwan, masuk dari belakang lagi. Kali ini lebih kasar. Aku mau kamu entot memekku sampai aku nggak bisa jalan besok.”
Ridwan memegang pinggul majikannya dan langsung menusuk kontolnya yang masih keras ke memek Bu Rani yang sudah penuh sperma tadi.
“Plok! Plok! Plok! Plok!”
Air shower membuat tubuh mereka licin. Bu Rani erang tanpa henti. “Ya… lebih dalam! Kamu pelampiasan seks aku yang terbaik, Ridwan! Kontolmu selalu siap kapan saja aku butuh!”
Ridwan menarik rambut Bu Rani ke belakang seperti tali kekang. “Iya, Bu… Ridwan milik Ibu. Memek Ibu milik kontol Ridwan.”
Mereka melanjutkan di shower hampir dua puluh menit. Bu Rani orgasme lagi dua kali sebelum Ridwan menyemburkan sperma keduanya ke dalam memek majikannya.
Setelah itu, mereka kembali ke tempat tidur. Bu Rani mendorong Ridwan telentang dan naik ke atasnya. “Ronde ketiga. Kali ini aku yang naik. Kamu cuma tidur dan biarkan aku pakai kontolmu.”
Bu Rani menggoyang pinggulnya liar, payudaranya bergoyang-goyang indah di depan wajah Ridwan. Ia meminta Ridwan mengisap putingnya sambil ia terus mengentot sendiri.
“Ahh… ahh… kontolmu enak sekali… aku nggak pernah bosan… Ridwan… kamu bikin aku ketagihan!” erang Bu Rani.
Ridwan meremas payudara majikannya. “Bu Rani… Ibu benar-benar binal… Ridwan senang jadi pelampiasan Ibu.”
Mereka berdua mencapai klimaks bersamaan untuk ketiga kalinya. Sperma Ridwan kembali memenuhi memek Bu Rani hingga penuh.
Pukul dua pagi, mereka berbaring lemas di tempat tidur. Bu Rani membelai dada Ridwan sambil tersenyum puas.
“Besok pagi sebelum aku ke kantor, kamu harus layani aku lagi di mobil. Aku mau di blowjob sambil kamu nyetir. Mengerti, sopirku yang baik?”
Ridwan tersenyum lelah. “Mengerti, Bu. Ridwan siap kapan saja Ibu butuh pelampiasan.”
Bu Rani tertawa pelan. “Bagus. Karena mulai sekarang, setiap hari kamu harus isi memekku. Aku sudah bosan sama pria lain. Kamu… hanya kamu yang bisa puasin aku.”
Ridwan hanya mengangguk. Aku jadi pelampiasan seks majikan yang binal… tapi rasanya… aku nggak keberatan sama sekali.
Pagi harinya, jam 06.45 WIB, Ridwan sudah bersiap di garasi rumah mewah Bu Rani. Ia mengenakan seragam sopir hitam rapi seperti biasa, tapi hari ini celananya terasa lebih sempit karena kontolnya sudah setengah tegang sejak bangun tidur. Semalam ia habis melayani Bu Rani sampai pukul dua pagi, tapi majikannya yang binal itu sepertinya belum puas.
Bu Rani keluar dari rumah tepat jam 07.00. Ia memakai kemeja putih ketat yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan belahan payudara besarnya yang montok. Rok hitam pendeknya hanya sepanjang paha, dan Ridwan yakin Bu Rani tidak memakai celana dalam di bawahnya. High heels hitam membuat langkahnya semakin menggoda.
“Pagi, Ridwan,” sapa Bu Rani dengan suara manja sambil masuk ke kursi belakang mobil Mercedes hitam miliknya. “Hari ini aku ada meeting penting jam 08.30. Kamu antar aku ke kantor ya, sopirku yang baik.”
Ridwan menutup pintu belakang dan duduk di kursi pengemudi. “Siap, Bu. Selamat pagi.”
Mobil mulai keluar dari garasi. Jalanan Surabaya pagi itu cukup ramai, tapi Ridwan mengemudi dengan tenang. Tiba-tiba Bu Rani bersuara dari belakang.
“Ridwan… kemarin malam kamu sudah isi memekku tiga kali, tapi aku masih basah dari tadi pagi. Aku butuh pelampiasan lagi sebelum meeting. Turunkan kursi belakangmu sedikit dan jangan berhenti nyetir.”
Ridwan melirik spion tengah. Lagi… Bu Rani benar-benar tidak pernah puas. “Tapi Bu… ini di jalan umum. Bahaya kalau—”
“Tutup mulut!” potong Bu Rani tegas tapi penuh nafsu. “Kamu sopirku. Tugasmu melayani aku kapan saja, di mana saja. Sekarang fokus nyetir dan biarkan aku pakai kontolmu.”
Bu Rani membungkuk ke depan dari kursi belakang. Tangan lembutnya langsung meraih resleting celana Ridwan dan membukanya dengan cepat. Kontol Ridwan yang sudah setengah tegang langsung melompat keluar.
“Wah… pagi-pagi sudah ngaceng ya? Bagus,” kata Bu Rani sambil tersenyum nakal. Ia mengusap batang kontol Ridwan dengan tangan kanannya, naik-turun pelan. “Terus nyetir pelan-pelan. Jangan ngebut.”
Ridwan menarik napas dalam. Tangan kirinya memegang setir, tangan kanannya sesekali mengganti gigi. “Bu… ahh… enak sekali…”
Bu Rani mencondongkan tubuhnya lebih ke depan. Rambutnya yang harum menyapu paha Ridwan. Ia menjilat ujung kontol Ridwan dengan lidahnya yang hangat, berputar-putar di kepala kontol yang sudah mengkilap precum.
“Ngghhh… Bu Rani…” erang Ridwan pelan. Mobil sedikit oleng saat ia kehilangan konsentrasi sebentar.
“Fokus nyetir, Ridwan! Kalau kamu tabrak, aku yang marah,” tegur Bu Rani sambil tertawa kecil. Lalu ia membuka mulutnya lebar dan menelan kontol Ridwan hingga separuh.
Suara isapan basah “slurp… slurp… gluck” terdengar jelas di dalam mobil yang sejuk ber-AC. Bu Rani menggerakkan kepalanya naik-turun dengan ritme stabil, lidahnya menekan urat-urat di bawah kontol Ridwan. Sesekali ia mengisap kuat hanya di kepala kontol, lalu menelan lagi hingga hampir menyentuh tenggorokannya.
Ridwan menggenggam setir kuat-kuat. “Bu… mulut Ibu panas sekali… Ridwan nggak tahan… ahh…”
Bu Rani mengangkat kepalanya sebentar, ludahnya menetes dari bibir ke kontol Ridwan. “Kamu suka ya jadi pelampiasan seks majikanmu di mobil? Bilang!”
“Iya, Bu… Ridwan suka… Ridwan senang kontolnya diisap Bu Rani setiap pagi,” jawab Ridwan dengan suara tersengal.
Bu Rani tertawa puas dan kembali mengisap lebih rakus. Kepalanya naik-turun lebih cepat. Tangan kirinya meremas bola-bola Ridwan, sementara tangan kanannya menggosok bagian bawah kontol yang tidak masuk ke mulutnya.
Di lampu merah, Ridwan berhenti. Bu Rani memanfaatkan momen itu untuk menelan kontol Ridwan hingga pangkalnya. Tenggorokannya mengencang di sekitar kepala kontol.
“Fuuuhhh… Bu… dalam sekali…” Ridwan mendesah keras, pinggulnya terangkat sedikit.
Lampu hijau menyala. Ridwan terpaksa melanjutkan menyetir sambil Bu Rani terus mengisap tanpa ampun. Beberapa kali mobil di sebelah mereka melirik karena Bu Rani yang membungkuk jelas terlihat dari jendela samping, tapi Bu Rani tak peduli. Ia malah semakin bersemangat.
“Ridwan… aku mau kamu keluar di mulutku sebelum sampai kantor,” kata Bu Rani sambil sesekali mengangkat kepala. “Tapi jangan keluar dulu. Tahan sebisa kamu.”
Bu Rani mempercepat gerakan kepalanya. Suara isapan semakin basah dan keras. Lidahnya berputar-putar liar di sekitar kontol Ridwan. Sesekali ia menggigit pelan kepala kontol, membuat Ridwan hampir kehilangan kendali.
“Bu… Ridwan mau keluar… nggak tahan lagi…” Ridwan memperingatkan dengan suara gemetar. Mobil melewati jalan tol yang agak lengang.
Bu Rani mengisap lebih kuat, tangannya memompa batang kontol dengan cepat. “Keluar sekarang! Isi mulut majikanmu dengan sperma sopirnya!”
Ridwan tidak bisa menahan lagi. Dengan erangan tertahan, ia menyemburkan sperma panasnya banyak sekali ke dalam mulut Bu Rani. Jet demi jet cairan kental menyembur ke lidah dan tenggorokan majikannya.
Bu Rani menelan semuanya tanpa tumpah sedikit pun. Ia mengisap hingga bersih, lalu mengangkat kepalanya sambil menjilat bibirnya yang basah.
“Enak… spermamu pagi ini kental sekali, Ridwan,” kata Bu Rani sambil tersenyum puas. “Tapi aku belum puas.”
Ia membuka roknya, memperlihatkan memeknya yang sudah banjir dan merah karena bergairah. Bu Rani naik ke depan, duduk di pangkuan Ridwan menghadap ke belakang (cowgirl reverse) sambil Ridwan tetap menyetir.
“Masukkan kontolmu yang masih keras itu ke memekku sekarang,” perintahnya.
Ridwan memegang kontolnya dengan satu tangan, mengarahkan ke memek Bu Rani yang licin, lalu mendorong pinggul majikannya ke bawah.
“Aaaahhh… ya… penuh sekali…” erang Bu Rani saat kontol Ridwan masuk sepenuhnya. Ia mulai menggoyang pinggulnya naik-turun dengan liar, payudaranya yang besar bergoyang di dalam kemeja.
“Plok… plok… plok… plok…”
Ridwan menyetir dengan tangan kiri, tangan kanannya memegang pinggul Bu Rani membantu gerakannya. “Bu… memek Ibu sangat basah… Ridwan bisa rasain sperma semalam masih ada di dalam…”
Bu Rani tertawa erotis. “Iya… memekku masih penuh spermamu. Sekarang tambah lagi. Entot aku sambil nyetir, Ridwan! Lebih cepat!”
Ridwan mempercepat hentakan pinggulnya dari bawah. Mobil sedikit bergoyang mengikuti irama mereka. Bu Rani menggigit bibirnya menahan erangan keras.
“Ahh… ahh… titik G-ku kena terus… aku mau keluar lagi… Ridwan… lebih dalam!”
Beberapa menit kemudian, Bu Rani mencapai orgasme hebat di pangkuan Ridwan. Memeknya berdenyut kuat, cairannya menyembur membasahi paha Ridwan dan kursi sopir.
“Aaaahhhhh!! Ya… enak sekali!!”
Ridwan juga sudah di ambang batas. “Bu… Ridwan mau keluar lagi…”
“Keluar di dalam! Isi memek majikanmu sebelum aku turun di kantor!” jerit Bu Rani.
Dengan hentakan terakhir, Ridwan menyemburkan sperma keduanya pagi itu ke dalam rahim Bu Rani. Cairan panas memenuhi memeknya hingga meluber keluar di sekitar kontol.
Bu Rani duduk diam sebentar, napasnya tersengal, sambil mencium leher Ridwan dari belakang. “Bagus sekali, sopirku. Sekarang rapikan bajumu. Aku turun di depan gedung kantor.”
Ridwan menyetir dengan tubuh lemas tapi puas. Ia memarkir mobil di depan gedung kantor Bu Rani. Bu Rani merapikan roknya, lalu sebelum turun ia berbisik di telinga Ridwan:
“Siang nanti jam 12.30 kamu jemput aku untuk makan siang. Aku mau ronde ketiga di ruang VIP restoran. Jangan telat.”
Bu Rani turun dari mobil dengan langkah anggun, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, sementara sperma Ridwan masih menetes pelan dari memeknya ke paha dalamnya.
Ridwan hanya bisa tersenyum lelah sambil membersihkan kursi. Bu Rani benar-benar binal… tapi aku sudah ketagihan jadi pelampiasan seksnya setiap hari.
ns216.73.216.175da2

will be deducted