Sinta duduk sendirian di ruang tamu rumah kontrakannya yang sederhana. Jam sudah menunjukkan pukul 22.17 malam. Hujan deras di luar semakin deras, disertai petir yang sesekali menyambar terang. Listrik padam sejak tadi sore, hanya ada cahaya redup dari lilin yang dia nyalakan di meja.
Anaknya, Raka, sudah dititipkan ke orang tua di kampung sejak kemarin. Malam ini Sinta benar-benar sendirian.
Tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu. Sinta tersentak. Dia mengintip dari jendela kecil dan melihat Andi, adik iparnya, berdiri di teras sambil memegang payung basah kuyup.
“Siapa?” tanya Sinta hati-hati.
“Ini Andi, Kak. Buka dong, hujan deras banget di luar.”
Sinta ragu-ragu, tapi karena hujan sangat lebat dan Andi adik suaminya yang sudah meninggal, akhirnya dia membuka pintu sedikit.
“Andi? Ngapain malam-malam ke sini?”
Andi masuk tanpa diundang, tubuhnya basah. Dia tersenyum lebar sambil meletakkan tas plastik berisi makanan.
“Biasa, Kak. Mau nemenin kakak. Kan kasihan janda cantik sendirian di rumah gelap gini. Bawa mie instan sama roti juga.”
Sinta mengernyit. Dia tidak suka cara Andi memandangnya akhir-akhir ini. Tatapan itu terlalu lapar.
“Udah malam, Andi. Pulang aja. Aku baik-baik saja,” kata Sinta dingin sambil mundur selangkah.
Andi malah mendekat. Matanya menelusuri tubuh Sinta yang hanya memakai daster tipis motif bunga tanpa bra di dalamnya. Payudara besarnya yang montok jelas terlihat bentuknya, putingnya samar-samar menonjol karena dingin.
“Kak Sinta... dua tahun lebih kakak janda. Pasti kesepian banget ya? Apalagi memeknya yang dulu sering diurus Mas Budi,” kata Andi dengan suara rendah dan mesum.
Wajah Sinta langsung memucat. “Andi! Apa-apaan kamu bicara begitu?! Keluar sekarang juga!”
Dia berbalik hendak membuka pintu lagi, tapi Andi sudah lebih cepat. Dengan satu tarikan kasar, Andi menarik tangan Sinta dan mendorongnya ke dinding. Tubuh Sinta terbentur keras.
“Lepasin! Kamu gila ya?!” jerit Sinta sambil mencoba mendorong dada Andi yang bidang.
Andi tertawa kecil. Nafsunya sudah tidak tertahankan. Dia mencium leher Sinta dengan kasar, menghirup aroma tubuh kakak iparnya yang harum.
“Kakak jangan pura-pura suci. Tubuh kakak ini sudah lama nggak disentuh kontol. Andi tahu kakak pasti pengen.”
Sinta menjerit dan berusaha menendang, tapi Andi lebih kuat. Dengan satu tangan dia menahan kedua pergelangan tangan Sinta di atas kepala, tangan satunya merobek daster Sinta dari atas sampai bawah dengan kasar. Krekkk! Kain tipis itu sobek, memperlihatkan tubuh telanjang Sinta yang putih mulus dan montok.
“Tidak!!! Jangan sentuh aku!! Aku benci kamu!!” teriak Sinta sambil menangis. Air matanya langsung mengalir deras.
Andi tidak peduli. Matanya berbinar melihat payudara Sinta yang besar dan kenyal, puting cokelatnya mengeras karena ketakutan. Dia langsung meremas kedua payudara itu dengan kasar, jari-jarinya mencengkeram kuat hingga meninggalkan bekas merah.
“Enak banget tetek kakak... gede, berat, dan lembut. Dulu Mas Budi pasti sering mainin ini ya?”
Sinta menggeleng-geleng kuat. “Lepas! Sakit! Kamu brengsek! Aku nggak mau!!”
Andi menunduk dan melahap puting kanan Sinta dengan rakus. Dia mengisap kuat, menggigit pelan, lidahnya berputar-putar di sekitar puting sambil tangannya meremas payudara satunya. Sinta meronta hebat, tubuhnya bergoyang mencoba lepas, tapi sia-sia.
“Andi... please... aku kakak iparmu... jangan lakukan ini... aku jijik...”
Tangan Andi turun ke bawah. Dia merobek celana dalam Sinta hingga sobek total. Jari tengahnya langsung menyentuh bibir memek Sinta yang masih rapat. Meski Sinta menolak keras, tubuhnya sedikit basah karena stimulus fisik yang tak diinginkan.
“Lihat? Memek kakak udah basah. Bohong banget bilang nggak mau,” ejek Andi sambil memasukkan dua jarinya kasar ke dalam vagina Sinta.
“Aaaahhh!!! Sakit!!! Cabut!!! Aku nggak suka!!!” jerit Sinta nyaring. Tubuhnya menegang hebat, rasa perih dan jijik bercampur di hatinya.
Andi mengocok memek Sinta dengan gerakan kasar, jarinya keluar masuk cepat. Cairan bening keluar sedikit demi sedikit meski Sinta terus menangis dan mengutuknya.
“Kamu monster... aku benci kamu... aku akan lapor polisi...”
Andi melepas celananya. Kontolnya sudah berdiri tegak, panjang 18 cm, tebal, dengan kepala yang besar dan urat menonjol. Dia menggesek-gesek kontolnya di bibir memek Sinta yang basah.
“Mulai malam ini, memek kakak jadi milik Andi. Kakak nggak bisa nolak lagi.”
Sinta menggeleng kuat, air mata terus mengalir. “Jangan masukin... please... aku nggak mau... aku masih cinta suamiku... jangan rusak aku...”
Tanpa ampun, Andi mendorong pinggulnya keras. Plokkk!!! Kepala kontolnya masuk separuh ke dalam memek Sinta yang sempit.
“Aaaarrrghhh!!! Sakittt!!! Keluarin!!! Terlalu besar!!! Aku nggak tahan!!!” jerit Sinta histeris. Rasa perih luar biasa menusuk vagina dan hatinya.
Andi terus mendorong hingga seluruh batang kontolnya tenggelam dalam-dalam di dalam rahim Sinta. Dia mulai menggoyang pinggulnya dengan ritme kasar dan cepat. Setiap dorongan membuat tubuh Sinta terguncang hebat, payudaranya bergoyang-goyang liar.
“Enak banget memek kakak... rapat... hangat... nyedot kontol Bang Andi,” desah Andi sambil terus mengentot tanpa belas kasihan.
Sinta terus menangis dan meronta. “Stop... ahh... sakit... aku benci ini... aku nggak nikmat... kamu pemerkosa...”
Meski hatinya penuh kebencian dan jijik, tubuh Sinta secara alami mulai mengeluarkan cairan lebih banyak karena gesekan yang terus-menerus. Andi semakin gila. Dia membalik tubuh Sinta ke posisi doggy style di atas sofa, memegang pinggul lebar Sinta dengan kuat, dan mengentot dari belakang dengan lebih dalam dan cepat.
Plok! Plok! Plok! Plok!
Suara benturan daging memenuhi ruangan. Pantat Sinta yang bulat bergoyang hebat setiap kali kontol Andi menghantam dasar memeknya.
“Andi... cukup... aku mau muntah...please stop...” rintih Sinta lemah sambil menangis tersedu.
Andi menampar pantat Sinta keras berkali-kali hingga memerah. “Diam! Kakak cuma janda murahan sekarang. Terima kontol adik ipar dengan baik!”
Dia terus mengentot selama hampir 20 menit dengan posisi berganti-ganti. Sinta sudah lemas, suaranya hanya tinggal isakan pelan. Akhirnya Andi mengerang keras, kontolnya berdenyut hebat, dan menyemburkan mani panasnya yang banyak sekali ke dalam rahim Sinta.
“Ughhh... terima mani Andi, Kak...”
Setelah selesai, Andi mencabut kontolnya. Mani putih kental menetes keluar dari memek Sinta yang merah dan bengkak. Sinta tergeletak di sofa seperti boneka rusak, tubuhnya gemetar, air mata masih mengalir. Wajahnya penuh trauma dan kebencian.
“Andi... kamu hancurkan hidup aku...” bisiknya dengan suara parau.
Andi hanya tersenyum puas sambil mengelus rambut Sinta. “Ini baru awal, Kak. Besok malam Andi datang lagi. Kakak harus siap-siap. Kalau kakak berani lapor atau kabur, Andi tahu cara bikin kakak menyesal.”
Dia berpakaian, lalu pergi meninggalkan Sinta sendirian dalam kegelapan, memeknya masih berdenyut sakit dan penuh mani adik iparnya.
Sinta meringkuk di sofa, menangis tersedu-sedu. Dia merasa kotor, dipermalukan, dan hancur. Malam ini adalah awal dari mimpi buruknya.
Keesokan malamnya, hujan masih belum reda sepenuhnya. Sinta mengunci pintu rumah rapat-rapat dan mematikan semua lampu. Tubuhnya masih terasa sakit dan memeknya bengkak karena pemaksaan semalam. Dia berbaring di kamar sambil menangis pelan, berharap Andi tidak datang lagi.
Tapi harapannya hancur ketika pukul 21.30 terdengar ketukan di pintu.
“Sinta, buka pintunya. Aku tahu kamu di dalam.”
Suara Andi terdengar tenang tapi penuh ancaman. Sinta menggigil. Dia diam saja, berharap Andi pergi. Tapi ketukan semakin keras.
“Kalau kamu nggak buka, aku dobrak. Atau besok aku datang ke rumah orang tuamu dan ceritain apa yang kita lakukan semalam.”
Hati Sinta langsung ciut. Dengan tangan gemetar dia membuka pintu. Andi masuk dengan senyum tipis, membawa tas kecil. Begitu pintu tertutup, dia langsung meraih pinggang Sinta dan menariknya kasar ke pelukannya.
“Jangan... Andi... please... aku masih sakit dari semalam,” bisik Sinta dengan suara lemah, matanya sudah berkaca-kaca lagi.
Andi tidak menjawab. Dia langsung mencium bibir Sinta dengan paksa, lidahnya masuk ke dalam mulut Sinta yang mencoba menutup rapat. Tangan Andi meremas pantat Sinta dari luar daster tipis yang dia pakai malam ini.
Sinta mendorong dada Andi, tapi tenaganya jauh lebih lemah dibanding kemarin. “Aku benci kamu... aku nggak mau lagi...”
Andi tersenyum sinis. “Tubuhmu bilang lain, Sinta.”
Dia menarik Sinta ke kamar tidur dan mendorongnya ke atas kasur. Dengan cepat Andi melepas daster Sinta hingga telanjang bulat. Payudara besarnya yang montok langsung terpampang, putingnya sudah sedikit mengeras meski Sinta berusaha menutupinya dengan tangan.
Andi melepas bajunya sendiri. Kontolnya sudah keras tegak, siap untuk kedua kalinya. Dia naik ke kasur, membuka lebar paha Sinta dengan paksa.
“Jangan dilihat... aku malu...” kata Sinta sambil menutup mata, air mata menetes di pelipisnya.
Andi menunduk dan menciumi memek Sinta yang masih agak bengkak. Lidahnya menjilat klitoris Sinta dengan lembut di awal, lalu semakin rakus. Sinta menggeliat, pinggulnya berusaha menjauh.
“Stop... aku nggak suka... ahh...”
Tapi lidah Andi terus bekerja. Dia mengisap klitoris Sinta pelan-pelan, dua jarinya masuk ke dalam vagina yang masih sempit. Gerakannya lebih terkontrol malam ini, bukan sekasar kemarin.
Sinta menggigit bibirnya kuat-kuat. Rasa aneh mulai muncul di perut bawahnya. Sensasi hangat yang tidak diinginkan merambat naik. “Tidak... jangan... aku nggak mau nikmat...”
Tubuhnya mulai berkhianat. Memeknya semakin basah, cairannya keluar lebih banyak. Andi bisa merasakan itu. Dia tersenyum di antara selangkangan Sinta.
“Lihat? Memekmu sudah banjir, Sinta. Kamu mulai suka ya?”
Sinta menggeleng kuat. “Enggak... aku nggak suka... ini salah... aku istri almarhum suamiku... ahh...”
Andi naik ke atas tubuh Sinta. Dia menempelkan kepala kontolnya ke bibir memek yang sudah licin. Kali ini dia tidak langsung mendorong kasar. Dia menggesek-gesek dulu, membuat kepala kontolnya bolak-balik menyentuh klitoris Sinta.
Sinta menggelinjang. Napasnya mulai tersengal. “Andi... jangan masukin... please...”
Tapi Andi tetap mendorong perlahan. Kontolnya masuk pelan-pelan hingga tenggelam sepenuhnya. Kali ini rasa sakitnya jauh lebih ringan dibanding semalam. Yang ada hanyalah rasa penuh yang aneh dan... enak.
“Ahh... pelan...” keluar suara dari mulut Sinta tanpa sadar.
Andi mulai menggerakkan pinggulnya dengan ritme sedang. Setiap dorongan membuat kontolnya keluar-masuk memek Sinta dengan suara basah “plok... plok... plok...”.
Sinta mencengkeram sprei kuat-kuat. Dia berusaha menahan erangan, tapi semakin lama semakin sulit. Sensasi kenikmatan mulai menjalar dari memeknya ke seluruh tubuh. Payudaranya bergoyang mengikuti irama Andi.
“Tidak... aku nggak boleh nikmat... ini dosa... ahh... ahhh...” gumam Sinta sambil menangis, tapi pinggulnya mulai bergerak pelan mengikuti dorongan Andi.
Andi mempercepat gerakannya. Dia meremas payudara Sinta sambil mengentot lebih dalam. Puting Sinta diisap bergantian, membuat Sinta semakin gelisah.
“Enak kan, Sinta? Kontolku di dalam memekmu... bilang enak...” bisik Andi di telinga Sinta.
Sinta menggeleng, tapi suaranya sudah berubah. “Aku... aku nggak... ahh... jangan bilang gitu...”
Andi membalik tubuh Sinta ke posisi doggy style. Dia memegang pinggul Sinta dan mengentot dari belakang dengan lebih kuat. Setiap hantaman membuat pantat Sinta bergoyang hebat. Klitoris Sinta terus tergesek setiap kali kontol Andi masuk dalam.
Sinta tidak bisa menahan lagi. Erangannya mulai keluar lebih keras.
“Ahh... ahhh... pelan... Andi... ahhh...”
Tubuhnya gemetar hebat. Memeknya berdenyut-denyut menggenggam kontol Andi. Tanpa bisa dicegah, orgasme pertama yang sebenarnya datang menghantam Sinta. Cairannya menyembur pelan, membasahi kontol Andi dan sprei.
“Aaaahhhhh!!! Tidak... aku keluar... aku nggak mau... ahhhh!!!”
Sinta menjerit sambil menangis, campuran kenikmatan dan rasa bersalah yang sangat besar. Tubuhnya kejang-kejang, tapi Andi terus mengentot tanpa henti.
“Andi... cukup... aku malu... aku nggak seharusnya...” rintih Sinta dengan suara lemah setelah orgasmenya reda.
Andi tersenyum puas. Dia membalik Sinta lagi ke posisi telentang, mengangkat kedua kaki Sinta ke bahunya, dan mengentot dengan posisi yang sangat dalam.
“Kamu sudah mulai menikmati, Sinta. Tubuhmu jujur. Besok malam akan lebih enak lagi.”
Sinta hanya bisa menangis pelan sambil menggigit bibirnya. Setiap dorongan Andi membuatnya merasakan gelombang kenikmatan yang semakin kuat, meski hatinya masih berteriak menolak.
Akhirnya Andi mengerang dan menyemburkan mani panasnya yang banyak sekali ke dalam rahim Sinta untuk kedua kalinya. Setelah itu dia mencabut kontolnya dan melihat memek Sinta yang terbuka lebar, merah, basah campur mani.
Sinta tergeletak lemas di kasur, napasnya tersengal-sengal. Air matanya masih mengalir, tapi kali ini ada rasa aneh di hatinya — campuran trauma, malu, dan... sesuatu yang mulai dia benci karena terasa nikmat.
“Andi... kamu sudah hancurkan aku...” bisiknya parau.
Andi hanya mengelus pipi Sinta sambil tersenyum. “Kamu belum hancur, Sinta. Kamu baru mulai ketagihan.”
Dia berpakaian dan pergi, meninggalkan Sinta sendirian dengan tubuh yang masih bergetar dan pikiran yang kacau balau.
ns216.73.216.117da2

will be deducted