Pikiran Dinda:768Please respect copyright.PENANAVTAxElKKEe
'Aku sudah tidak bisa bohong lagi pada diri sendiri. Dinda duduk di tepi tempat tidur, lampu tidur redup menyinari wajahnya yang lelah. Sudah hampir dua minggu Andika berubah. Dia pulang malam, tidur larut, bangun dengan senyum aneh. Rani... pembantu baru itu juga berubah. Dulu pemalu, sekarang gerakannya terlalu lincah, matanya terlalu berani. Tadi malam aku pura-pura tidur, tapi aku dengar pintu belakang terbuka pelan. Langkah kaki pelan menuju kamar pembantu. Lalu hampir dua jam kemudian Andika baru kembali ke kamar dengan bau sabun yang aneh.'
'Apakah suamiku sedang selingkuh dengan pembantunya sendiri? Tubuhku dingin setiap memikirkannya. Andika yang dulu selalu bilang aku satu-satunya... sekarang malah meniduri gadis 19 tahun di belakang rumah kita? Tapi aku butuh bukti. Aku tidak mau menuduh sembarangan. Malam ini... aku harus tahu kebenarannya.'
Lampu tidur masih menyala redup saat Andika pelan-pelan membuka pintu kamar utama. Begitu melihat Dinda sudah duduk di tepi tempat tidur dan menatapnya langsung, langkahnya langsung terhenti. Wajahnya pucat seketika.
“Dinda... kamu belum tidur?” tanya Andika dengan suara yang berusaha tenang, tapi jelas gugup.
Dinda menatap suaminya dari atas ke bawah. Matanya dingin, tapi ada getar amarah yang tertahan.
“Jangan pura-pura bodoh, Andika,” kata Dinda dengan suara rendah tapi tajam. 768Please respect copyright.PENANA53dlM2U5y5
“Kamu dari mana jam segini? Jam dua lewat lima belas menit. Aku sudah bangun dari tadi.”768Please respect copyright.PENANAAJD2R5QeI9
' Ini dia. Suaranya terlalu tenang. Ini bukan Dinda yang biasa. Dia sudah tahu sesuatu. Kalau aku bohong sekarang, semuanya bisa meledak.' pikir Andika
Andika menutup pintu kamar pelan, lalu berdiri di depan Dinda. 768Please respect copyright.PENANAMHuXC7XaU5
“Aku... ke kamar mandi belakang. Nggak enak badan. Perutku mules.”
Dinda tertawa kecil, tapi tawanya pahit.768Please respect copyright.PENANA9XrpPN6Cex
“Ke kamar mandi belakang? Yang dekat kamar Rani? Kamu pikir aku bodoh? Aku dengar langkahmu tadi malam. Aku juga dengar pintu kamar Rani dikunci dari dalam. Kamu kira aku tidak bisa menghitung berapa lama kamu di sana?”
Andika diam. Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya.
Dinda berdiri, mendekati suaminya. Suaranya mulai naik, meski masih berusaha menahan agar tidak terdengar sampai ke kamar Rani.768Please respect copyright.PENANApsoKTYF4r0
“Jawab aku jujur, Andika. Kamu tidur dengan Rani? Kamu entot pembantu kita di rumah sendiri? Di belakangku?”
Andika menelan ludah berat. Dia mencoba menghindar.768Please respect copyright.PENANA1zluqelKaO
“Dinda... kamu salah paham. Aku cuma—”
“Salah paham?” potong Dinda dengan suara bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi amarahnya lebih besar. 768Please respect copyright.PENANADX3YS5IcPJ
“Aku sudah curiga sejak noda putih di garasi. Aku sudah curiga sejak kamu tiba-tiba bangun pagi-pagi dan kelihatan puas sekali. Aku sudah curiga sejak Rani berubah dari gadis desa pemalu jadi cewek yang selalu senyum genit setiap lihat kamu!”
Pikiran Andika:768Please respect copyright.PENANAqxZnLIa7DP
'Dia tahu terlalu banyak. Aku tidak bisa bohong lagi. Tapi kalau aku akui sekarang, pernikahan kami bisa hancur. Tapi... kalau aku tetap bohong, dia akan semakin marah.'
Andika menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya. Suaranya rendah.\768Please respect copyright.PENANAQd2F0QDVeN
“Ya. Aku selingkuh dengan Rani.”
Dinda mundur selangkah seolah baru ditampar. Air matanya langsung jatuh.768Please respect copyright.PENANAm6LUct6t93
“Berapa lama?” tanya nya sambil bergetar
“Mulai dari hari kedua dia kerja di sini,” jawab Andika pelan. 768Please respect copyright.PENANAJEHYpiQQUP
“Aku... nggak tahan. Kehidupan kita monoton, Dinda. Seks kita jarang, dan kalau ada juga biasa saja. Rani... dia muda, segar, masih perawan waktu itu. Aku tergoda.”
Dinda tertawa sinis sambil menyeka air matanya.768Please respect copyright.PENANAqTWoxw6LXX
“Monoton? Jadi salahku ya? Karena aku capek kerja, karena aku nggak selalu horny seperti dulu? Jadi kamu memilih mengentot pembantu 19 tahun di garasi, di balkon, di kamar belakang? Kamu bahkan keluar di dalamnya, kan? Kamu berani mengisi rahim anak itu di rumah kita sendiri!”
Andika mencoba mendekat, tapi Dinda mundur lagi. 768Please respect copyright.PENANApsoi8BsDSH
“Dinda... aku minta maaf. Ini salahku. Aku terbawa nafsu. Tapi aku tetap sayang sama kamu.”
“Sayang?” Dinda menggeleng, suaranya pecah. 768Please respect copyright.PENANAPO57OMBQgp
“Kalau kamu sayang, kamu nggak akan lakukan ini di belakangku. Kamu nggak akan hancurkan pernikahan kita hanya karena memek segar pembantu! Aku lihat cara Rani lihat kamu. Dia bukan cuma dipakai, dia sudah ketagihan juga. Kalian berdua sudah seperti pasangan mesum di rumah ini!”
Pikiran Andika:768Please respect copyright.PENANAqmJ903YLe7
'Dia benar. Aku brengsek. Tapi anehnya, meski sedang dihadapi istriku yang marah, aku masih ingat betapa enaknya memek Rani tadi malam. Aku benci diri sendiri.''
Dinda duduk kembali di tepi tempat tidur, tangannya menutup wajah sebentar. Lalu dia menatap Andika lagi dengan mata merah. 768Please respect copyright.PENANABIWUB2Z50d
“Sekarang apa? Kamu mau terus begini? Atau kamu mau hentikan? Karena kalau kamu masih mau ketemu Rani, aku bisa langsung packing barangku malam ini juga.”
Andika diam cukup lama. Nafsu dan rasa bersalah bertarung di kepalanya.768Please respect copyright.PENANAMSvufNfE8O
“Aku... aku akan hentikan. Maafkan aku, Dinda. Aku nggak mau kehilangan kamu.”
Dinda menatap suaminya dengan tatapan yang sulit dibaca — campuran sakit hati, marah, dan kelelahan. 768Please respect copyright.PENANA0PbxiwKKnr
“Aku tidak langsung percaya kata-katamu. Besok aku mau bicara dengan Rani juga. Kalau aku tahu kalian masih main di belakangku, aku akan usir Rani dan aku bisa minta cerai. Mengerti?”
Andika mengangguk pelan. “Mengerti.”
Dinda mematikan lampu tidur dan berbaring membelakangi Andika. Suaranya dingin di kegelapan.768Please respect copyright.PENANAWkugkVwroi
“Sekarang tidur. Besok pagi aku mau lihat kamu bersikap normal. Dan jangan coba-coba mendekati kamar Rani malam ini.”
Andika berbaring di samping istrinya, tapi jarak di antara mereka terasa sangat jauh. Pikirannya berputar liar.
Pikiran Andika:768Please respect copyright.PENANA2hfkoph2ZW
' Aku baru saja mengaku. Dinda marah besar, tapi dia belum usir Rani. Artinya masih ada harapan memperbaiki pernikahan ini... Tapi kenapa aku malah memikirkan tubuh Rani yang masih penuh spermaku dari tadi? Aku benar-benar sudah rusak.'
Di kamar belakang, Rani yang tidak tahu apa-apa sedang tidur pulas dengan senyum kecil di bibirnya, masih merasakan sisa kehangatan Andika di dalam tubuhnya.
768Please respect copyright.PENANAg1N8vfUFTa


will be deducted